Tragedi Anak Bunuh Ayah, Mayat Dicor di Rumah

Tragedi Anak Bunuh Ayah, Mayat Dicor di Rumah

Oleh: 




Bahar Mario dan lantai rumahnya dibongkar polisi. Foto: JPNN


Rayapos | Jember - Bahar Mario (25) pembunuh ayah kandungnya, Surono (51) lalu mayatnya dicor, suuh kejam. Dia residivis, pernah membacok orang.

Instink kejahatan Bahar tak pandang bulu. Ketika usianya 15 dia mondok di pondok pesantren.

Suatu hari dia emosi, ibu nyai pemilik pondok dibacok. Dia dihukum 3 tahun penjara, meski masih di bawah umur.

Ayahnya digebuk linggis, kena wajah. Mati. Lalu mayatnya dicor di bawah dapur. Kemudian dia membuat manuver yang luar biasa, walaupun bodoh.

Itu semua diungkap penyidik Polres Jember. Yang menyidik kasus pembunuhan ayah Bahar, Surono.

Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal saat rilis di Mapolres Jember, Kamis (7/11/2019) menjelaskan:

Bahar Mario anak kedua pasangan suami-isteri Surono dan Busani (45). Usia pernikahan Surono-Busani 29 tahun.

Anak sulung mereka meninggal saat masih kecil. Sedangkan, Bahar punya adik wanita bernama Fatim, sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.

Surono petani pemilik lahan. Ditanami kopi dan tanaman kebon. Setahun sekali panen kopi, hasilnya sekitar Rp 100 juta. Belum termasuk hasil tanaman kebon lainnya.

Keluarga Surono kaya untuk ukuran desa. Rumahnya di Dusun Juroju, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Jember, Jatim, ada dua. Berjejer. Bagus-bagus.

Kendaraan Surono motor Honda CBR. Relatif masih baru.

Praaak… Tulang Tengkorak Dihajar Linggis

Bahar sudah menikah. Isterinya tinggal sedesa. Bahar sudah bekerja serabutan di Bali. Tapi, juga masih tinggal di rumah orang tuanya. Pulang-pergi, Bali-Jember.

Bahar juga masih minta uang ke ayahnya. Rutin. Setiap masa panen.

Belakangan, Bahar merasa ayahnya pelit. Setiap dia minta duit, selalu dikasih sedikit. Dia sakit hati, sebab tahu ayahnya banyak duit.

Di awal Maret 2019, Bahar diberitahu ibunya, Busani, bahwa ayahnya pelit, karena punya selingkuhan. Sebab, Busani juga dikasih uang sedikit dari hasil panen.

Bahar dan ibunya sama-sama kesal pada Surono. Lalu, Bahar menyampaikan niat membunuh ayahnya. Ternyata, Busani setuju.

Ibu dan anak ini sama-sama berniat menjarah harta Surono. Dengan cara membunuh.

Pertengahan Maret 2019, Bahar sepulang dari Bali, tiba di rumah tengah malam. Sekitar pukul 23.00.

Saat itu Surono sudah tidur. Di rumah sebelah barat. Sedangkan, Busani belum tidur, di rumah sebelah timur. Dua rumah Surono ini gandeng, berjejer.

Busani tahu, Bahar akan membunuh ayahnya. Busani membantu niat Bahar, dengan cara mematikan lampu bagian depan rumah. Mungkin, supaya tidak mencurigakan tetangga.

Bahar mengambil linggis. Lalu masuk kamar ayahnya. Surono sedang tidur pulas, miring kanan.

Bahar mengayunkan linggis ke atas. Lalu dihantamkan sekuat tenaga ke wajah Surono. Prak.... bunyi tulang tengkorak Surono dihajar linggis.

Surono kelojotan. Sakaratul maut. Mengerang. Lalu tak bergerak lagi.

Banjir Darah di Pagi Buta

Busani keluar dari rumah timur. Menuju rumah barat. Melihat Bahar menggotong tubuh ayahnya.

Busani membantu Bahar, menggotong tubuh belepotan darah itu. Bahar menggotong tubuh Surono bagian atas, Busani mengangkat kakinya.

Kapolres AKBP Alfian Nurrizal mengatakan, berdasar penyidikan, Busani  menggotong hanya sebentar. "Dia mengaku tidak kuat, lalu melepaskan," kata Kapolres.

Mungkin, Busani tidak tahan melihat kondisi kepala suami - yang sudah menikahinya 29 tahun - itu. Kepala Surono remuk. Darah terus mengalir. Banjir ke lantai.

Bahar menyeret Surono sendirian. Menuju belakang rumah. Ada bagunan semi permanen di situ. Lantainya tanah.

Malam itu juga Bahar menggali tanah. Dengan linggis alat bunuh itu. Sedalam hampir semeter.

Rumah-rumah tetangga agak jauh. Tak ada yang mendengar gebukan linggis ke tanah.

Menjelang Subuh, Bahar menghentikan galian. Khawatir, tetangga sudah bangun tidur.

Tubuh Surono dimasukkan ke lubang galian. Masih berkemeja. Juga masih bersarung.

Lubangnya ternyata kurang panjang. Terpaksa, kaki Surono ditekuk. Meringkuk.

Kemudian diurug tanah. Bagian paling atas diurug semen yang sudah dicampur air.

Semen dalam volume cukup banyak, sudah tersedia. Dicampur air. Lalu dicorkan di bagian atas urugan. Merata. Mungkin, tujuannya menutup bau busuk, kelak.

Pekerjaan Bahar selesai. Sebelum adzan Subuh.

Memetik Hasil Panen

Setelah bersih-bersih, Bahar kini 'memetik' hasilnya. Dia geledah seluruh sudut kamar ayahnya.

Ketemu sebuah tas. Dia bongkar. Isinya Rp 6 juta. Dikantongi Bahar. Mungkin, itu sisa hasil panen.

Sepanjang proses tersebut, Busani kemungkinan syok. Terbukti, kemudian Bahar mengajak ibunya pergi. Di pagi itu juga.

Bahar mengambil Honda CBR ayahnya. Membonceng ibunya. Menuju ke rumah Misnatun, nenek dari pihak ibunya. Di desa itu juga.

Sekaligus, Bahar menggondol motor CBR itu. Dia mengaku, lantas dijual, laku Rp 19 juta. Total dia menjarah harta ayahnya Rp 25 juta. Ini pengakuan dia.

Usai mengantar Busani, Bahar tidak pulang ke rumah ayahnya. Dia pulang ke rumah mertuanya, sebab isterinya ada di sana. Sedesa juga.

Sehari semalam Bahar bersama isterinya. Kemudian dia berangkat kerja lagi. Ke Bali. Jadi, dia tidak mampir ke rumah ayahnya yang kosong.

Tiga hari Bahar di Bali, ibunya telepon. Cor-coran retak. Lubang galian merenggang. Tanahnya merekah.

Bahar menyuruh ibunya beli semen. Cor-coran harus dipertebal. Jangan cari tanah di luar rumah. Mungkin, khawatir tetangga curiga.

Sepekan kemudian, Bahar pulang dari Bali. Dia menengok cor-coran. Ternyata pecah lagi. Merekah lagi.

Bahar lalu keluar modal. Belanja aneka bahan bangunan. Terutama semen.

Dia merehab bangunan semi permanen itu jadi permanen. Dibangun jadi musala. Dia kerjakan sendiri. Tidak pakai tukang.

Dia juga membangun dapur di situ. Musala dekat dapur. Paling spesial, dia memasang keramik hitam di lantai. Biar rapi.

Beres. Kejahatan terpendam. Aman. Para tetangga juga tidak ada yang tanya, tentang keberadaan Surono.

Mei 2019 Busani menikah lagi. Dengan Jumarin. Tapi, menikah siri. Tidak tersiar ke tetangga.

Tidak dijelaskan, Busani dan Jumarin tinggal di mana. Yang jelas, mereka tidak tinggal di rumah semula, rumah Surono.

Hanya sesekali Busani menengok rumahnya. Begitu juga Bahar. Meskipun di situ sudah dibangun musala baru.

Berebut Rp 100 Juta

Lama-lama tetangga curiga juga. Setiap kali Bahar atau ibunya ke rumah itu, tetangga selalu bertanya: Ke mana Surono?

Paling jelas, pertanyaan Misli, Kepala Dusun Juroju, Desa Sumbersalak.

"Saya bertanya ke Bahar sekitar bulan Mei (2019). Dijawab, bapaknya pindah ke Bali. Kerja di sana," kata Misli kepada wartawan.

Misli juga bertanya ke Busani. Jawabannya sama: Bali. Bahkan, Busani menambahi, bahwa Surono sudah menikah lagi dengan orang Bali.

"Saya percaya. Pak Wid (panggilan Surono) dulu memang pernah kerja di Bali," kata Misli.

Pertanyaan tetangga, juga dijawab sama: Di Bali. Menikah lagi.

Problem muncul justru saat panen kopi.

Hasil bersih Rp 100 juta. Diraup Busani semua (atas pengakuan Busani). Bahar tak diberi.

Bahar pun meradang. Dia tahu, ibunya sudah menikah dengan Jumarin. Kebencian Bahar tertuju ke mereka berdua.

Bahar mendesak, minta uang ke Busani. Tetap tak diberi. Kebencian Bahar memuncak.

Tapi, sejak Oktober 2019 Jumarin - Busani pisah. Tak terjelaskan alasannya. Mungkin Jumarin gerah. Oleh desakan Bahar.

Tapi, polisi menyatakan, berdasarkan pemeriksaan, Jumarin mengaku, tidak tahu bahwa Surono sudah meninggal. Tahunya, sesuai pengakuan Busani, Surono menikah lagi di Bali.

Manuver Bahar Saat Mata Gelap

Sementara, emosi Bahar tak terbendung. Bayangan duit Rp 100 juta membuat dia gelap mata.

Pada pertengahan Oktober 2019 dia membuat manuver mengejutkan. Sungguh mengejutkan.

Dia menemui Kepala Dusun, Misli. Dia katakan, ayahnya sudah mati. Dibunuh oleh Jumarin.

"Saya kaget," ujar Misli. "Bahar mengatakan, berdasarkan keterangan ibunya, Pak Wid dibunuh oleh orang bernama Jumarin."

Maka, Misli mencari Busani. Ketemu. Dikonfrontir tentang pengakuan Bahar itu.

Busani kaget. Reflek, Busani mengatakan, pembunuh Surono adalah Bahar.

Daripada bingung dan curiga, Misli melapor ke Polres Jember. Seketika itu juga tim polisi melakukan penyelidikan.

Bahar dan ibunya di depan polisi, saling tuduh.

Polisi bergerak cepat. Mendatangi rumah Surono, yang kata para tetangga, sering kosong. Diperiksa semua sudut rumah.

Ada yang mencurigakan. Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal mengatakan:

"Di musala sangat ganjil. Lantainya yang berkeramik menjorok keluar melewati bangunan," katanya.

Bahar dan Busani diinterogasi. Tetap saja saling tuduh. Tidak mengaku.

Hukuman Apa yang Layak?

Minggu (3/11/2019) polisi membongkar keramik musala.

Terungkaplah semuanya. Jasad Surono sudah kering. Meringkuk, menyatu dengan cor semen. Masih berkemeja dan bersarung.

Dalam interogasi intensif, Bahar mengakui semuanya. Dia dan ibunya langsung ditahan.

AKBP Alfian Nurrizal mengatakan, Bahar ternyata residivis.

Pada 2009 ketika Bahar berusia 15 dan mondok di suatu pondok pesantren (tidak disebut nama) juga melakukan kejahatan serupa.

Ibu Nyai (pemilik ponpes) dibacok Bahar.

Meski masih tergolong belum dewasa, Bahar diadili. Dihukum 3 tahun penjara. Dijalani 2 tahun 8 bulan, setelah dipotong remisi.

Tapi, Kapolres enggan menyebut nama Ponpes dan Ibu Nyai.

Polisi sudah membuat BAP (Berita Acara Pemeriksaan) untuk Bahar dan Busani. Bahar dikenakan pasal 340 KUHP. Pembunuhan berencana.

Pasal 340 berarti hukuman mati. Minimal 20 tahun penjara. Hakim kelak yang memutuskan.

Bahar orang yang sangat berbahaya. (*)