Suatu Hari, Saat Menuju Assisi

Oleh: RA Gayatri WM

“Nama saya Gayatri. Tapi, saya bukan orang Hindu dan bukan pula orang India. Saya Muslim dan saya orang Indonesia.”

Itu kata perkenalan diri saya. Dalam rombongan bus menuju Assisi, Perugia, Itali, Oktober 2011.

Seisi bus tertawa mendengar perkenalan diri saya. Di situ ada beberapa pastor Katholik dan bruder India di dalam bus.

Ada tiga grup yang ikut rombongan bus kami. Kami semua akan menuju ke Pertemuan Para Pemuka Agama dan Non-Agama Sedunia di Assisi.

Grup pertama adalah sejumlah mahasiswa dari Universitas Kepausan Gregoriana, Laterano dan Thomas Aquinas. Beberapa di antara mereka adalah Muslim.

Grup kedua adalah keluarga besar The Lay Centre (TLC). TLC adalah asrama khusus untuk para mahasiswa universitas kepausan di Roma. Selain kami mahasiswa di TLC yang ikut, para manajer asrama kami juga ikut.

Grup ketiga adalah para pastor atau dosen yang bersahabat dengan TLC, seperti halnya grup pertama. Ini karena sebagian besar mahasiswa TLC kuliah di Gregoriana, Thomas Aquinas dan Laterano.

Saya tidak akan lupa pagi menuju Assisi itu. Pagi yang berkesan.

Sebelum semua dimulai, pada malam harinya, kepala asrama TLC sudah mengingatkan kami: Kita berangkat Subuh.

Jadi, dia mengandalkan Muhammad si calon imam Bosnia (yang mestinya salat Subuh) untuk membangunkan kami.

Tapi, yang paling lucu, yang bangun paling pagi justru Avner, arkeolog Yahudi Israel yang agnostik.

Saya bangun sekitar jam 4.00, Avner juga baru bangun. Lalu, sibuklah kami membuat kopi untuk yang lain.

Saya bertugas menyiapkan bekal sandwich untuk rombongan kami yang sudah dibuat semalam sebelumnya. Kami berdua pun membangunkan kawan-kawan seasrama.

Muhammad malah bangun paling terlambat. Hahaha!

Saya kemudian harus menjemput dua Muslimah Turki di gerbang biara, dan mereka minta salat Subuh dulu.

Dalam hati, karena sudah agak telat, saya merasa itu sungguh ribet. Kenapa mereka tidak menqqadhanya saja?

Tetapi, saya tidak protes dan saya tawarkan sajadah saya, lalu mereka salat di ruang makan utama di lantai pertama asrama. (Asrama kami berada di salah satu sayap gedung Biara Kongregasi Passionisti, dimana kamar kami semua ada di lantai 3 dan 4, begitu juga ruang lainnya. Kecuali ruang makan utama).

Saya berencana, di bus nanti saya akan duduk dekat Alex. Dia kawan seasrama kami, yang kuliah Kekristenan Timur. Dia Kristen Malankara.

Malamnya, saya sudah bilang ke dia, saya ingin duduk dengannya di bus.

Alex adalah orang Amerika-Belanda. Kakek dan nenek paternalnya yang Belanda lahir di Hindia Belanda.

Saya merasa paling nyaman duduk bersamanya karena dia tidak cerewet, tapi kami bisa cukup nyambung berbicara mengenai apa saja.

Dia juga vegetarian, jadi apa pun yang dia makan, pasti cocok dengan diet saya (waktu itu saya mengikuti diet Jafari).

Selain itu, kalau saya tertidur, saya juga merasa nyaman di sampingnya. Ada beberapa teman pria seasrama yang biasa kami (para cewek) gosipkan, memiliki kebiasaan terkait seksualitas yang perlu diwaspadai (hehehe).

Nah, Alex ini, memiliki rekam jejak yang baik.

Dua atau tiga kursi di depan kami, Muhammad dan Avner duduk sebangku. Dua-duanya sama-sama sempat ngorok bareng di bus.

Sambil memandangi jalan saat bus kami menuju Assisi, sesekali saya teringat masa-masa sekolah saya di Malaysia.

Di Malaysia, selama lima tahun saya pulang dan pergi naik bus sekolah yang sama, dikemudikan Abun, yang selalu memutar lagu-lagu sentimentil Kantonis dan Mandarin.

Baru-baru ini saya ngobrol dengan sahabat saya se-bus Abun itu. Dia selalu dijemput Abun lebih dulu karena rumahnya di Bayan Baru, barulah kemudian Abun menjemput saya di Sungai Dua (dan kemudian Batu Uban).

Selama lima tahun kami duduk berdampingan. Dia selalu menandai bangku di sampingnya agar kami bisa duduk bareng, ngorok bareng (karena sering masih ngantuk) dan ngobrol bareng pula.

Kami juga tidak pernah sekelas, tetapi masih terus bersahabat sampai hari ini.

“Kamu ingat tidak, tiap bus kita lewat Kuil Hindu di Jalan Gelugor, kamu selalu memberikan puja?” kata saya.

“Wah, kamu masih ingat itu? Iya, aku masih melakukannya. Bagiku agama-agama hanya cara berbeda-beda dalam menyembah Tuhan,” jawabnya.

“Setuju. Kamu adalah guru pertamaku selain keluargaku, yang mengajarkanku toleransi dan mencintai kebhinekaan. Sekarang aku menjadi aktivis di bidang antar iman dan kebhinekaan.”

“Oh, aku tidak tahu aku sebegitu berarti bagimu seperti itu,” katanya terharu.

Dia berasal dari keluarga Tridharma, utamanya Buddhis. Dan, cerita dia masih kadang-kadang ke gereja juga.

Saya jadi teringat, sejak SMP memang saya telah menaruh minat mendalam pada sejarah, antropologi, etnologi, filsafat dan semacamnya.

Ketika tugas akhir Sejarah kelas 3 SMP, saya harus membuat makalah. Saya menulis tentang tradisi Bulan Hantu Lapar (BHL) dalam etnis Cina.

Saya benar-benar menikmati melakukan riset dan menuliskannya. Tak sedikit pun saya menganggap keyakinan dan tradisi ini sebagai suatu bentuk ajaran yang terkutuk, salah, atau semacam itu.

Terkadang, saya merasa diri saya anomaly. Karena saya dididik 8 tahun di Muhammadiyah sebelum itu.

Opera Cina, maupun cerita rakyat, dan mitologi tentang BHL, sangat mempesonakan saya.

Dari sejak semuda itu, walau hanya saya pendam sendiri, saya tidak yakin, bahwa makan babi atau terkena air liur anjing, atau berdoa dengan hio di kelenteng, adalah hal-hal yang berdosa.

Saya paling suka jika diajak berlibur melihat wihara, kelenteng, gereja, masjid atau situs agama bersejarah atau purbakala.

Saya piker, semua hal inilah yang mungkin membawa saya ke ICRP (Indonesian Conference on Religions and Peace), ke Assisi, ke pengalaman saya hari ini.

Bukit Assisi yang indah itu belum jua terlihat. Di tengah jalan, bus kami berhenti untuk beristirahat.

Beberapa di antara kami ngopi.

Saat ngobrol sebentar dengan dua Muslimah Turki, yang tadi pagi saya jemput, saya agak kesal. Karena mereka mempertanyakan KeIslaman orang-orang Alevi.

Saya pun memutuskan tidak melanjutkan bicara mengenai Sayyid Bektash Wali tetapi lebih mengenai Sufisme secara umum.

Setelah mengunjungi grup mereka saat Idul Adha beberapa bulan kemudian, saya pikir mereka mungkin orang-orang Fethullah Gullen.

Ada seorang teman Muslim dari Afrika, mahasiswa Thomas Aquinas, bercerita, jenaka. Dia selalu disangka pastor atau bruder. Kalau dia bilang dirinya Muslim, kemudian orang menyangka dia muallaf.

Mengapa dia disangka muallaf? Katanya, karena dia tampak begitu lemah lembut, penuh kasih. Lagipula penampilannya memang lebih mirip seorang pastor atau bruder Katholik.

Kata saya padanya, “Itu sebabnya saya sering memperkenalkan diri dengan menjelaskan saya bukan Hindu. Maupun bukan orang India. Saya suka agama Hindu, dan saya ada sedikit darah India, tapi di KTP saya, saya masih Islam, dan paspor saya masih paspor Indonesia. Lagipula, meskipun saya suka Hindu, tapi saya tidak tertarik memeluk Hindu.”

“Kenapa?”

“Kalau saya disuruh mengubah agama saya, mungkin agama-agama non-Abrahamic dari India, ada dalam daftar terakhir saya. Saya tidak terlalu akrab dengan Weda maupun Tripitaka. Saya malas menghapal mantra-mantra-nya.”

Kawan saya itu tertawa.

Sebelum ke halaman gereja Assisi, untuk acara utama, rombongan Muslim dibawa salat di salah satu kamar di restoran, saat kami makan siang.

Setelah acara di halaman gereja Assisi selesai, kami melanjutkan makan malam di sebuah restoran yang telah dipesan khusus pula.

Tapi, karena belum jamnya, masih jam 6, restorannya masih tutup. Jadi, kami pun mengunjungi kapel purba tempat St Francis konon sering pergi sembahyang.

Rombongan Muslim diberi suatu tempat di bagian belakang di kapel itu. Kali ini Muhammad menjadi imam.

Baru kemudian kami ke restoran. Lalu, saya makan semeja dengan beberapa pastor dari Amerika Latin, India dan Afrika, selain juga dengan Alex yang vegetarian.

Seperti biasa, satu orang satu loyang pizza! Untunglah semeja dengan mereka, jadi mereka bisa membantu menghabiskan jatah pizza saya.

Saya masih heran, dengan orang-orang yang takut dengan orang yang beragama berbeda dengannya.

Saya masih heran, dengan orang-orang yang takut mengunjungi rumah ibadah lain agama.

Jadi, kalau saya menikmati misa di gereja, saya tak merasa memiliki akidah yang bertentangan dengan akidah Nabi Muhammad.

Justru dengan memiliki akidah sebagaimana akidahnya, maka saya merasa merdeka dapat menikmati semua itu, tanpa harus dibaptis, tanpa harus bersusah payah ikut katekisasi Katholik dan mendapat krisma.

Saya merasa berdaulat dan merdeka dalam mengenal-Nya, meskipun tidak bersusah payah terlebih dahulu belajar meditasi dan yoga, bahkan sebenarnya, tanpa bingung harus salat dengan cara apa.

Kata St Paulus, salatlah tanpa pernah berhenti. Nabi Muhammad menegaskan, salatlah sebagaimana aku salat.

Kata “salat” dari paduan shin, lam dan ta, yaitu dada (lubuk hati), gembala (guru; pembimbing) dan fondasi (berfaedah).

Jika diterjemahkan sebagai berdoa, atau catur murti (kesatuan perasaan, pikiran, perkataan dan perbuatan), maka itulah salat.

Nama saya sendiri adalah suatu doa. Begitu pun nama semua orang lain di dunia.

Walau mungkin orangtuanya begitu sederhana, atau begitu ngasal, saat memberi anaknya suatu nama.

Tak ada satu pun anak manusia yang bisa memilih: Dilahirkan oleh siapa? Di mana? Kapan?

Itu saja sudah suatu pertanda bahwa, jika engkau meyakini Tuhan Yang Maha Agung, Maha Welas Asih dan Maha Adil, maka Dia pula yang menciptakan bermilyar manusia:

Dalam beragam suku bangsa, agama, habitat, adat istiadat, jenis kelamin, gender, kondisi fisik, dan akhirnya salat yang berbeda-beda pula.

Tidak masuk akal jika Tuhan yang diyakini demikian, malah mengutuk dan menghukum apa yang manusia sendiri tak bisa mengubahnya, yaitu bagaimana seseorang terlempar ke dalam takdir genetikanya, orangtuanya, ruang dan waktunya, yang akhirnya membentuk jati dirinya (seperti identitas agamanya dan pilihan imannya).

Sungguh, saya masih merasa heran. Bagaimana bisa, ada yang mengatakan dirinya Muslim, dan pastinya belajar mengaji. Tapi di saat yang sama, meyakini Tuhan yang tidak adil seperti itu.

Rahayu dan sampurasun