Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Lebih Bebahaya Dari Corona, Inilah Senjata Biologis Pembunuh Masal Bernama “Wuhan-400”


Peristiwa

Lebih Bebahaya Dari Corona, Inilah Senjata Biologis Pembunuh Masal Bernama “Wuhan-400”

by. Rangga- 24 Mar 195 Views
IMG
APD adalah salah satu prosedur perlindungan terhadap penanganan pasien infeksi virus. Foto : wartaekonomi

Rayapos | Jakarta – Wuhan-400 yang muncul dalam cerita novel ”The Eyes of Darkness” karya Dean Koontz disebut-sebut sebagai bentuk ramalan terkait kemunculan Virus COVID-19 yang saat ini sedang menggemparkan dunia.

Pemberitaan tentang kemiripan setting dan latar dalam novel terbitan 1981 ini telah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat, bahkan sudah mulai tersebar melalu direct messege pada aplikasi chat Whatsapp.

Namun masyarakat seharusnya tidak terlalu panik berlebihan, karena faktanya virus Corona (COVID-19) yang saat ini sedang meluas penyebaranya sangat berbeda jauh dengan virus Wuhan-400 dalam novel karangan Dean Koontz.

Wuhan-400 dalam cerita Dean Koontz merupakan senjata biologis pembunuh masal yang di kembangkan oleh para ilmuan China, kemudian Ilmuan bernama Li-Chen membawanya ke Amerika Serikat.

“Mereka menyebut benda itu 'Wuhan-400' karena dikembangkan di laboratorium RDNA mereka di luar kota Wuhan, dan itu adalah strain mikroorganisme buatan manusia yang ke empat ratus yang dibuat di pusat penelitian itu.” ungkap Dombey, salah satu karakter di novel tersebut.

Munculnya klaim yang mengkaitkan novel “The Eyes of Darkness” dengan Virus Corona (COVID-19) membuat beberapa media dan organisasi semakin gencar untuk mengungkap fakta-fakta dibalik kegaduhan yang terjadi.

Virus fiktif Wuhan-400 menghebohkan dunia maya sejak penulis Nick Hinton mengunggah salah satu bagian novel itu di akun twitter pribadinya @NickHintonn, pada Minggu (16/02/2020) waktu setempat.

Tak berselang lama eks. Perwira Intelejen Israel Dany Shoham mengeluarkan statemen yang menyatakan bahwa fenomena Virus Corona sama dengan garis besar cerita novel karangan Koontz, terutama terkait senjata biologi yang dikembangkan China.

Namun pernyataan Shoham langsung dibantah oleh beberapa ilmuan biologi, salah satunya Richard Ebright yang merupakan profesor bilogi-kimiawi dari Universitas Rutgers.

“Berdasarkan genome virusnya dan unsur-unsurnya, tidak ada indikasi apapun yang mengungkapkan bahwa virus itu adalah buatan (manusia),” kata Richard

Namun diluar fiktif atau tidaknya, faktanya COVID-19 dan Wuhan-400 sangat berbeda jika dilihat dari masa inkubasi, dan dampaknya pada tubuh manusia.

Mengutip Reuters, 28 Februari 2020, berdasarkan data WHO, virus corona berinkubasi dalam tubuh manusia dalam kurun 1-14 hari. Gejalanya berupa batuk-batuk, pilek, hingga sesak nafas. Angka kematiannya di Wuhan sebagai ground-zero berada di 2-7 persen dan di luar Wuhan 0,7 persen dari total penderita.

Namun jika kita melihat pada novel The Eyes of Darkness, sudah selayaknya novel thriller menyajikan dramatisasi yang sangat mengerikan, virus Wuhan-400 disebut lebih mematikan dari virus berbahaya lain semacam ebola, dan anthrax.

Masa inkubasi di tubuh manusia hanya empat jam dan dipastikan angka kematian para penderitanya 100 persen. Gejala virus Wuhan-400 biasanya memangsa jaringan otak yang melumpuhkan fungsi organ tubuh. (*)