Penilai Melawan Agenda Brutal di Munaslub MAPPI

Penilai Melawan Agenda Brutal di Munaslub MAPPI




Kasak-kusuk Penilai jelang Munaslub MAPPI, 10 Oktober 2019. Foto: Hari Bujana


Rayapos | Jakarta  –  Profesi Penilai kini siap-siap menyambut Munaslub (Musyawarah Nasional Luar Biasa) MAPPI (Masyarakat Profesi Penilai Indonesia) pada 10 Oktober 2019.

Undangan dan agenda topik bahasan Munaslub MAPPI itu sudah tersebar di kalangan Profesi Penilai. Menimbulkan kasak-kusuk di antara mereka. Khususnya bagi Profesi Penilai di Jakarta.

Sebab, mereka menilai, ada kecurangan di Munaslub. Kecurangan pengurus MAPPI sekarang.

Kecurangan yang bagaimana? “Pengurus MAPPI mengubah AD ART MAPPI. Tujuannya untuk melanggengkan kekuasaan mereka di MAPPI,” kata Penilai, Hari Bujana kepada Wartawan Rayapos di Jakarta.

Bukankah, perubahan AD ART adalah hal biasa di organisasi? “Memang betul. Tapi, perubahan AD ART ini tidak rasional. Ini agenda brutal di kalangan pengurus MAPPI,” jawabnya.

Agenda brutal yang bagaimana? “Agenda di Munaslub nanti mengubah AD ART. Sistem pemilihan pengurus MAPPI yang semula ‘one man one vote’ diubah jadi ‘one man four vote’. Ini agenda brutal,” jawab Hari.

Sebab, lanjutnya, jika ‘one man four vote’ di Munaslub disahkan, maka memuluskan kelompok pengurus MAPPI jadi pengurus MAPPI lagi, dalam Munas MAPPI pada Januari 2020 nanti.

“Mana ada di dunia ini, sistem pemilihan ‘one man four vote’? Hanya ada di MAPPI,” tuturnya.

 

Kasak-kusuk Jelang Munaslub Kian Intensif

Wartawan Rayapos mengkonfirmasi hal ini ke Penilai Senior, Zainal Arifin. Terkait kasak-kusuk Profesi Penilai jelang Munaslub MAPPI.

Zainal Arifin adalah Ketua Gabungan Perusahaan Penilai Indonesia (GAPPI). Yang dulu jadi induk organisasi Profesi Penilai.

Zainal Arifin membenarkan, bahwa terjadi kasak-kusuk di kalangan Profesi Penilai di beberapa daerah, khususnya Jakarta.

“Betul. Memang terjadi kasak-kusuk. Kalau agenda Munaslub MAPPI itu disebut-sebut sebagai ‘Agenda Brutal’, saya kira ada benarnya,” kata Zainal Arifin.

Mengapa? “Karena AD ART MAPPI yang sudah bagus, dirombak total oleh panitia (pengurus MAPPI) Munaslub. Bisa diduga, itu demi memuluskan para pengurus tetap berkuasa dalam Munas MAPPI pada Januari 2020 nanti,” tutur Zainal Arifin.

Dilanjutkan, dalam pemilihan pengurus MAPPI di Munas nanti, dasarnya adalah AD ART. Sedangkan, AD ART diubah dalam Munaslub yang akan digelar 10 Oktober 2019.

“Maka, jika Munaslub MAPPI disebut ‘Agenda Brutal’, ya… tidak terlalu salah. Sebab, mengubah AD ART untuk memuluskan orang-orang tertentu jadi pengurus MAPPI di pemilihan pengurus di Munas nanti, memang agenda radikal dan brutal,” tutur Zainal Arifin.

Apakah para Profesi Penilai bakal melawan agenda brutal itu? “Kelihatannya, beberapa Penilai menyusun perlawanan. Kita lihat saja nanti,” jawabnya. (*)