Pemuda Ini Lumpuh, Badannya Seperti Kayu

Pemuda Ini Lumpuh, Badannya Seperti Kayu




Fendi Suryadi


Rayapos | Jakarta - Penyakit Fendi Suryadi (28) aneh. Badannya terbaring kaku sekitar empat tahun. Ditangani rumah sakit terbesar Indonesia, RSUD Dr Soetomo pun, hasilnya nihil. 


Fendi dulu adalah karyawan pabrik kabel di Bekasi, Jawa Barat. Bekerja di situ sejak 2011. Asalnya dari Desa Ngancar, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.


Sekitar empat tahun lalu, mendadak dia sakit aneh. Awalnya, badannya terasa mati rasa. Diawali dari tangan. 


Perusahaan tempatnya bekerja, langsung mengobatkan Fendi di Bekasi. Tidak sembuh, kemudian dirujuk ke RS di Cikarang. Tidak sembuh juga. 


Akhirnya seluruh badannya lumpuh total. Fendi pilih berobat di dekat rumah keluarganya di Solo, Jawa Tengah. Tidak sembuh juga.


Fendi lumpuh. Bahkan, hanya untuk sekadar membalikkan badannya juga begitu sulit.


Tangan kanan dan kaki kiri Fendi terlipat kaku seperti kayu.


Bahkan saat ditarik untuk diluruskan, tangan dan kakinya seolah tak mau bergerak.


“Rasanya kaku, ini enggak bisa digerakkan,” ujar Fendi saat ditemui wartawan di Desa Ngancar, Kamis (19/9/2019).


Fendi dulunya bekerja di sebuah pabrik pembuatan kabel body milik salah satu perusahaan otomotif di Bekasi. 


Derita Fendi berawal ketika pada 2015 tangan kirinya terasa kebas. Ketahuan, saat terlilit kabel di tempat dia bekerja, Fendi tidak bisa merasakan apa-apa.


Oleh perusahaan, Fendi kemudian dirawat di salah satu rumah sakit di Cikarang.


Pihak rumah sakit mendiagnosis Fendi menderita stroke ringan.


”Diagnosisnya dari rumah sakit stroke ringan. Kemudian dirujuk ke RSUD Moewardi Solo karena Mas Fendinya mau dirawat di rumah,” ujar Edi Purwanto, salah satu kerabat Fendi.


Edi mengatakan, saat diantar berobat ke RSUD Moewardi Solo, sandal yang dikenakan oleh Fendi sempat terlepas dari kakinya.


Namun, Fendi tidak menyadari hal tersebut. Itu menandakan, bahwa kakinya mati rasa.


Di RSUD Moewardi Solo, Fendi dirawat hingga satu bulan lebih.


Fendi juga harus menjalani pemeriksaan di laboratorium hingga 13 kali untuk mencari tahu penyebab sakit yang diderita.


“Lab nya sampai 13 kali di Budi Sehat, Solo. Diagnosisnya toxoplasma. Informasinya obatnya hanya di RSUD Dr Soetomo Surabaya,” ujar Edi.


Akhir September, Fendi dirujuk ke RSUD Dr Sotomo Surabaya untuk mendapat perawatan dan obat taxoplasma sesuai dengan diagnosis dari laboratorium Budi Sehat Solo.


Sempat menjalani perawatan hingga 3,5 bulan, di RSUD Dr Soetomo Fendi didiagnosi kanker otak dan harus dioperasi.


Anehnya saat dilakukan pemeriksaan MRI, dokter tidak menemukan adanya kanker di otak Fendi.


“Itu sampai tiga kali terjadi. Di MRI ada, tapi saat akan dioperasi tiba tiba nggak ada,” ucap Edi yang selalu mendampingi Fendi.


Karena secara medis belum ada kejelasan penyakit Fendi, bahkan sudah dirawat di RSUD Dr Soetomo (terbesar se-Indonesia) masih belum mampu mengatasi, keluarga kemudian melakukan pengobatan alternatif.


Sejak pulang dari Dr Soetomo Surabaya, lebih dari 10 kali upaya pengobatan alternatif telah dilakukan. 


Namun, sampai saat ini belum ada perubahan yang berarti dialami Fendi.


”Yang pengobatan viral di YouTube sudah dilakukan sampai 10 kali, tapi belum membawa perubahan,” kata Edi.


Aneka pengobatan yang dilakukan keluarga, membuat uang pesangon dari perusahaan sebesar Rp 30 juta, ludes habis.


Sementara keadaan Fendi belum ada perubahan. 


Perusahaan tempatnya bekerja kemudian memberikan surat untuk mengurus klaim asuransi Jamsostek.


Sayangnya, upaya melakukan klaim terhadap asuransi tersebut terkendala dengan surat keterangan dokter yang harus didapatkan dari RSUD Dr Soetomo.


“Dengan alasan keadaan pasien harus dirawat di sana. Padahal kalau mau membawa ke sana kita kesulitan karena Fendi tidak bisa duduk. Pake kursi roda juga jatuh ke bawah,” kata Edi.


Mono, orangtua Fendi mengatakan, hanya bisa pasrah dengan keadaan anaknya. 


Dia berharap ada bantuan yang bisa meringankan bebannya yang hanya sebagai buruh tani.


“Harapannya bisa dapat klaim dari Jamsostek, tapi syarat surat kesehatan dari RSUD Dr Soetomo sulit didapatkan,” kata Mono.


Selama menjalani pengobatan, Fendi hanya mengandalkan BPJS dan pesangon perusahaan tempatnya bekerja.


Meski tergolong keluarga kurang mampu, belum ada bantuan dari pemerintah daerah yang diterima Fendi. (*)