Mengurai Misteri Balita Tanpa Kepala

Mengurai Misteri Balita Tanpa Kepala




Itulah titik lokasi penemuan mayat balita tanpa kepala. Persis di bawah jendela rumah. Foto: JPNN


Rayapos | Samarinda - Mayat balita tanpa kepala, Muhammad Yusuf Ghazali (4) di Samarinda masih diselidiki. Muncul pertanyaan, bagaimana orang tua mengenali bahwa itu Muhammad Yusuf Ghazali?

"Dari tinggi badan dan bajunya," kata ayah Muhammad Yusuf Ghazali, Bambang Sulistyo kepada wartawan.

Padahal, mayat itu sudah kondisi membusuk. Juga tanpa kepala. Hanya dua indikator itu yang jadi pedoman Bambang Sulistyo.

Dia katakan: "Istri saya hafal pakaian yang dipakai anak saya. Iya, dia anak kami," ucap Bambang Sulistyo (37), ayah Yusuf, Minggu (8/12/2019).

Keyakinan jasad balita tanpa kepala itu adalah Yusuf didasari dari bentuk tubuh, serta pakaian yang ditemukan bersama jasad.

Terakhir kali Yusuf menghilang dengan menggunakan kaos berwarna merah bergambar Tugu Monas, sama dengan kaos yang ditemukan dengan jasad balita tersebut.

Bambang Sulistyo mengaku sudah melaporkan keyakinannya itu kepada polisi.

Polisi Masih Menyelidik

Kasat Reskrim Polresta Samarinda, AKP Damus Asa mengatakan, tim masih melakukan penyelidikan penyebab kematian.

Hingga saat ini, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pihak RSUD tempat penitipan Yusuf untuk penyelidikan lebih dalam.

Kepolisian, kata Damus,belum bisa menyimpulkan identitas mayat balita tersebut. “Masih penyelidikan,” kata Damus.

Polisi tentu tidak gegabah. Termasuk juga, belum disimpulkan, apakah itu akibat tindak kejahatan ataukah kecelakaan.

Kronologi Hilangnya Yusuf

Seperti diberitakan, Yusuf dititipkan di daycare dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Jl AW Syahranie, Samarinda, pada Jumat (22/11/2019) pagi.

Yusuf dititipkan, bukan karena kedua orang tuanya bekerja, sebagaimana lazimnya pengguna daycare. Melainkan, Yusuf di usia 4 tahun belum bisa bicara. Diharapkan orang tua, Yusuf bisa cepat bicara di sana.

Siangnya, Samarinda diguyur hujan lebat. Jumlah anak yang berada di daycare pada saat itu tujuh anak, termasuk Yusuf. Jumlah guru penjaga dua orang.

Dari komposisi jumlah anak dengan pengawas, sudah ideal. Apalagi situasi hujan lebat, yang berarti anak tidak berani keluar kelas.

Di saat hujan lebat, salah seorang guru masuk ke toilet. Sedangkan guru satu lagi, juga menuju dapur. Masih di dalam lingkungan gedung PAUD yang ukurannya sekitar 8 X 12 meter. Cukup kecil untuk ukuran PAUD.

Mendadak, saat guru masuk ruang kelas, jumlah anak jadi enam. Satu anak tidak di kelas, yakni Yusuf.

Para guru mencari Yusuf. Keluar PAUD. Basah kuyup di bawah hujan lebat. Dicari ke sekitar lokasi itu. Tidak ketemu.

Sorenya, orang tua Yusuf menjemput anaknya ke daycare. Terjadilah cekcok antara orang tua dengan guru. Mereka semua panik. Semua mencari Yusuf ke area yang lebih luas. Tetap tidak ketemu.

Sabtu (23/11/2019) pagi, orang tua Yusuf melapor ke polisi. Laporan anaknya hilang. Polisi langsung menuju PAUD. Melakukan penyelidikan.

Hasil sementara penyelidikan polisi, diduga tidak ada orang penjemput Yusuf. Sebab, pintu pagar depan masih tertutup. Yusuf diperkirakan, belum bisa membuka pintu pagar itu.

Mayat Yusuf ditemukan tanpa kepala di parit besar di Jalan Pangeran Antasari II, Samarinda, pada Minggu (8/12/2019) atau 16 hari sejak hilang.

Jarak antara titik PAUD dengan titik lokasi penemuan mayat Yusuf sekitar 4,5 kilometer.

Tapi, parit besar (selebar sekitar 10 meter) di lokasi penemuan mayat, dengan parit kecil (selebar 1 meter) di depan PAUD, masih nyambung.

Kronologi Penemuan Mayat

Pada Minggu (8/12/2019) sekitar pukul 05.30 Ika (35) melihat benda terapung di parit.

Rumah Ika bertengger di atas parit. Dan, benda itu persis berada di bawah jendela rumahnya.

"Waktu saya membuka jendela kamar, saya melihat ada benda putih di parit. Posisinya tepat di bawah jendela kamar. Tapi saya lanjutkan aktvitas," kata Ika kepada wartawan, Minggu (8/12/2019).

Beberapa menit kemudian, Ika melongok ke bawah jendela. Benda itu masih ada. Ika penasaran. mengamati lebih seksama.

"Ternyata keliatan ada dua kaki. Juga badan. Kayaknya boneka," cerita Ika.

Ika jadi penasaran. Dia mengaku, perasaannya tidak enak.

"Saya panggil suami saya, kemudian tetangga saya, Pak Erki untuk turun ke parit mengecek" katanya.

Suami Ika mengajak tetangga, memeriksa benda itu. Akhirnya ketahuan, bahwa itu mayat balita. Tapi tanpa kepala.

Informasi temuan mayat balita tanpa kepala ini dengan cepat menyebar. (*)