Kartika Sari Dewi Soekarno: Misteri G30S/PKI, Teori Konspirasi

Kartika Sari Dewi Soekarno: Misteri G30S/PKI, Teori Konspirasi

Oleh: Djono W Oesman




Karina Kartika Sari Dewi Soekarno.


Rayapos | Jakarta - Pada 1 Oktober 1965, tepat 54 tahun pada hari ini, terjadi pembantaian terhadap enam jenderal Indonesia. Peristiwanya disebut G30S/PKI atau Gerakan 30 September 1965, meskipun kejadiannya 1 Oktober 1965 dini hari.

Putri Presiden pertama RI Soekarno, Kartika Sari Dewi Soekarno mengenang peristiwa gerakan 30 September PKI (G30S/PKI).

Kartika menyebut masih banyak konspirasi dan ketidak konsistenan sejarah dari masa kelam Indonesia itu. Termasuk, dia meragukan keterlibatan PKI, yang selalu ditempelkan dengan G30S.

Kartika Sari Dewi adalah putri Soekarno dari pernikahannya dengan Dewi Soekarno (nama aslinya Naoko Nemoto)

Kartika lewat akun Instagram, mengunggah 6 jenderal militer yang menjadi korban G30 S/PKI.

“Pada subuh 1 Oktober 1965, 6 jenderal militer Indonesia ditangkap dan dibunuh.

Kudeta 30 September 1965 tetap menjadi misteri yang gelap dan belum terpecahkan dalam sejarah Indonesia,” kata Dewi Senin (30/9/2019) malam.

Setelah kudeta berdarah ini, Mayor Jenderal Soeharto otomatis mengambil kendali tentara.

Bukan hanya itu jelas Kartika, usai peristiwa itu, gelombang propaganda militer mulai terjadi melanda Indonesia.

“Mereka berhasil meyakinkan penonton Indonesia dan internasional, bahwa ada kudeta komunis,” kata Kartika.

Kartika mengklaim, akibat propaganda itu, ada 1 juta orang mengalami pembantaian. Mereka juga dibunuh dengan tuduhan anggota PKI.

Padahal kata Kartika, kenyataan yang sebenarnya, banyak dari keluarga korban tidak mengetahui apa itu komunisme.

“Saya diberitahu banyak dari mereka, bahkan tidak tahu apa artinya Komunisme.

Begitu banyak teori konspirasi dan ketidak-konsistenan yang berlaku,” jelas Kartika.

Hingga akhirnya pakar sejarah Benedict Anderson & Ruth McVey membongkar sejarah kelam G30 S/PKI.

Di tahun 1971 mereka membuat buku berjudul Cornell Paper mereka menantang sejarah G30 S/PKI  versi C.I.A.

Hingga kini G30 S/PKI memang masih menjadi beban sejarah Indonesia.

Sudah lebih dari 20 tahun Orde Baru tumbang, pengungkapan sejarah belum juga dilakukan oleh pemerintah.

Menurut Pengamat Politik dan Keamanan, Kusnanto Anggoro, rekonsiliasi sejarah belum bisa dilakukan karena masih banyaknya politisi Orde Baru yang duduk di kursi kekuasaan pemerintah.

"Tumbangnya Presiden Soeharto tidak menghilangkan rezim orde baru. Secara politik sulit dilakukan," ucapnya.

Kusnanto menilai, meski sulit dilakukan, namun rekonsiliasi harus tetap dilakukan oleh negara.

Jika tidak, maka kasus Tragedi 1965 akan selalu menjadi beban sejarah di masa depan.

Dia menuturkan, tiga hal yang bisa dilakukan oleh negara untuk menginisiasi rekonsiliasi tersebut.

Pertama, negara bisa melakukan penulisan ulang sejarah yang selama ini dinilai masih belum jelas.

Misalnya penyebutan PKI sebagai dalang dari pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat.

Sebab, sampai saat ini belum ada bukti valid yang mendukung pernyataan tersebut.

Kedua, adanya pengakuan dari negara bahwa telah terjadi kekerasan dan pembunuhan terhadap simpatisan PKI sebagai dampak politik dari peristiwa G30S tahun 1965.

Ketiga, kata Kusnanto, negara harus berani untuk meminta maaf terhadap korban maupun keluarganya yang terkena stigma hingga puluhan tahun lamanya.

Namun, ketiga hal tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada kebutuhan politik pemerintah sebagai faktor pendorong terjadinya rekonsiliasi.

"Rekonsiliasi tetap harus dilakukan oleh negara. Entah pengakuan atau permintaan maaf.

Kalau tidak akan selalu timbul masalah. Harus ada kebutuhan politik yang bisa mendorong terjadinya rekonsiliasi," kata Kusnanto.

 

Profil Kartika Sari Dewi Soekarno

Nama aslinya Karina Kartika Sari Dewi Soekarno. Lahir di Tokyo, 11 Maret 1967.

Kartika kurang dikenal publik Indonesia. Karena ia tumbuh dan dewasa di negeri orang.

Ibunya yang berasal dari Jepang, membawa Kartika untuk hidup dan menetap di berbagai negara.

Dikutip dari Wikipedia, Kartika dibesarkan oleh ibunya di Paris, Prancis. Kartika kemudian meneruskan sekolahnya di Swiss.

Setelah lulus, dia dan ibunya kembali ke Jepang. Setelah dewasa, Kartika bekerja sebagai wartawan televisi di Tokyo.

Saat ibunya pindah ke AS, Kartika ikut dan bekerja di biro periklanan di New York.

Selama berada di AS, Kartika juga pernah bekerja di sebuah yayasan swasta.

Pengalamannya itu membuat Kartika mendirikan yayasannya sendiri, Kartika Soekarno Foundation (KSF) yang bergerak di pendidikan dasar, kebudayaan, dan kesejahteraan ibu-anak Indonesia.

Kantor pusat yayasan ini berada di Amsterdam, Belanda.

Frits Frederik Seeger adalah seorang pria kewarganeragaan Belanda yang merupakan presiden dari Citibank Eropa saat itu.

Berkat sepak terjangnya di dunia sosial, Karina beberapa kali mendapatkan penghargaan dan gelar kebangsawaan dari sejumlah organisasi.

Tahun 2005, Karina mendapat penghargaan dari H.R.H Duke of Braganca atas kerja sosial yang selama ini ia lakukan.

Tahun 2008, Karina beserta suami dan putranya bertandang ke Solo untuk mendapatkan gelar kebangsawanan dari Keraton Surakarta. (*)