Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Riset Terbaru China, Corona Tersebar Hembusan AC


Sains

Riset Terbaru China, Corona Tersebar Hembusan AC

oleh. Andrew Tito- Rabu, 03 Juni 2020 14:00 WIB
IMG
Skema penyebaran virus Corona lewat hembusan AC versi penelitian di China. Kolase: DWO

Rayapos | Jakarta - China sebagai negara asal Covid-19 baru meriset, bahwa virus Covid-19 bisa menyebar lewat hembusan AC. Berita ini menggelisahkan, tapi simaklah riset tersebut.


Penelitian itu berjudul 'COVID-19 Outbreak Associated with Air Conditioning in Restaurant, Guangzhou, China, 2020'. Diterbitkan di laman situs Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC). 


Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari Guangzhou Center for Disease Control and Prevention, Guangzhou, China.


Penelitian ini mengambil sebuah kasus di sebuah restoran ber-AC di Guangzhou, China. 


Ada 10 orang dari 3 kelompok keluarga yang dilibatkan dalam penelitian ini. 


Mereka pernah makan di restoran ini ketika wabah Corona merebak selama 26 Januari hingga 10 Februari 2020.


Peneliti menulis begini:


"Salah satu keluarga baru saja bepergian dari Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kami melakukan penyelidikan terperinci yang menghubungkan 10 kasus ini bersama-sama. Studi kami disetujui oleh Komite Etika Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Guangzhou."


Pada 23 Januari 2020, keluarga A melakukan perjalanan dari Wuhan dan tiba di Guangzhou. 


Pada 24 Januari 2020, pasien kasus (indeks A1) makan siang dengan 3 anggota keluarga lainnya (A2-A4) di restoran X.


Dua keluarga lain, B dan C, duduk di meja di restoran yang sama. 


Kemudian pada hari itu, pasien A1 mengalami demam dan batuk dan pergi ke rumah sakit. 


Pada 5 Februari 2020, total 9 lainnya (4 anggota keluarga A, 3 anggota keluarga B, dan 2 anggota keluarga C) telah dinyatakan terjangkit COVID-19.


Satu-satunya sumber paparan virus yang menjangkiti keluarga B dan C diketahui berasal dari pasien A1 di restoran itu.


"Kami menentukan bahwa virus telah ditularkan ke> 1 anggota keluarga B dan> 1 anggota keluarga C di restoran dan bahwa infeksi lebih lanjut pada keluarga B dan C dihasilkan dari penularan dalam keluarga," lanjut penelitian itu.


Restaurant X diketahui merupakan bangunan 5 lantai ber-AC tanpa jendela. 


Ruang makan lantai tiga seluas 145 m2; setiap lantai memiliki AC sendiri. 


Jarak antara masing-masing meja adalah sekitar 1 m. Keluarga A dan B masing-masing duduk untuk periode yang tumpang tindih selama 53 menit dan keluarga A dan C untuk periode yang tumpang tindih selama 73 menit.


Pada 24 Januari 2020, total sudah ada 91 orang (83 pelanggan, 8 anggota staf) yang berada di restoran. 


Dari jumlah tersebut, total 83 telah makan siang di 15 meja di lantai tiga. 


Di antara 83 pelanggan, 10 jatuh sakit dengan COVID-19; 73 lainnya diidentifikasi melakukan kontak dan dikarantina selama 14 hari.


"Dari pemeriksaan kami terhadap rute potensial penularan, kami menyimpulkan bahwa penyebab paling mungkin dari wabah ini adalah penularan droplet," katanya. 

"Meskipun pasien indeks (pasien A1) tidak menunjukkan gejala selama makan siang, transmisi presimptomatik telah dilaporkan (1). Mengingat periode inkubasi untuk keluarga B (lihat foto)." 


"Skenario yang paling mungkin adalah bahwa semua 3 anggota keluarga B secara langsung terinfeksi oleh pasien A1," ungkap penelitian itu.


Namun, penelitian ini tidak bisa tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa pasien B2 dan B3 terinfeksi oleh pasien B1, anggota keluarga B pertama yang sakit. 


Untuk keluarga C, skenario yang mungkin adalah bahwa kedua pasien C1 dan C2 terinfeksi oleh pasien A1. 


Skenario lain adalah bahwa pasien C1 tertular infeksi saat merawat pasien C2 (mereka keluarga), dimulai pada 27 Januari 2020.


"Kami menyimpulkan bahwa dalam wabah ini, transmisi tetesan didorong oleh ventilasi ber-AC, Faktor kunci untuk infeksi adalah arah aliran udara," ungkapnya.


"Dari catatan, pasien B3 adalah demam dan 1% dari pasien dalam wabah ini tidak menunjukkan gejala, menyediakan sumber potensial wabah di antara masyarakat (7,8)," tulis kesimpulan penelitian ini.


Kendati demikian, penelitian ini mengakui keterbatasannya. Para peneliti melakukan penelitian eksperimental yang mensimulasikan rute transmisi udara. 

Penelitian ini juga tidak melakukan penelitian serologis (reaksi antibodi) terhadap anggota keluarga asimptomatik (tidak memiliki gejala) swab sampel-negatif dan pengunjung lainnya untuk memperkirakan risiko infeksi.


Untuk mencegah penyebaran COVID-19 di restoran, penelitian ini menyarankan untuk memperkuat pengawasan pemantauan suhu, meningkatkan jarak antar meja, dan meningkatkan ruang ventilasi. 


Artinya, lebih aman jika orang berada di ruangan berjendela terbuka.


Status penelitian ini masih early release untuk terbitan edisi Juli 2020, yang artinya belum final dan masih bisa diperbaiki. (*)