Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Survei: Mayoritas Elite Percaya Presiden Jokowi Mampu Tangani Covid-19


Politik

Survei: Mayoritas Elite Percaya Presiden Jokowi Mampu Tangani Covid-19

oleh. Andrew Tito- Jumat, 21 Agustus 2020 11:52 WIB
IMG
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi

Rayapos | Jakarta - Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia menyebutkan, mayoritas masyarakat elite percaya, Presiden Joko Widodo mampu menangani Covid-19 di Tanah Air dengan baik.

"Sebanyak 14,8 persen elite sangat percaya Jokowi mampu menangani pandemi dengan baik. Sementara, 42,8 persen cukup percaya pada Jokowi," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam konferensi pers virtual, di Jakarta, Kamis (20/8/2020).

Kemudian, sebanyak 23,4 persen elite mengaku kepercayaannya terhadap Jokowi biasa saja. Sebanyak 16,8 persen tidak percaya dan 2 persen sangat tidak percaya. Sisanya, sebanyak 0,3 persen responden tidak menjawab.

"'Public trust and confident' di kalangan elite terhadap Pak Jokowi masih di atas 50 persen. Total ada kurang lebih 57 persen elite yang masih percaya pada Presiden Jokowi dalam menangani Covid-19, ini bukan angka yang kecil," katanya.

Menurut dia, para elite juga percaya Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mampu menangani pandemi Covid-19.

"Namun, responden elite pemuka opini yang percaya terhadap Pak Menkes dalam penanganan Covid-19, itu relatif jauh lebih rendah dibanding yang masih percaya terhadap Presiden Jokowi," kata Burhanuddin.

Menurut dia, sebanyak 4,3 persen elite yang sangat percaya akan kinerja Menkes Terawan dalam menangani pandemi.

Kemudian, 32,9 persen mengaku cukup percaya.

Sebanyak 25 persen elite percaya kepada Terawan biasa saja. Kemudian, 26,6 persen elite mengaku tidak percaya dan 10,5 persen sangat tidak percaya.

Sisanya, sebanyak 0,7 persen responden tidak menjawab.

Survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia ini digelar selama awal Juli hingga awal Agustus 2020 dengan melibatkan 304 responden dari 20 kota di Tanah Air, yang seluruhnya merupakan pemuka opini atau opinion leader.

Responden dipilih secara purposif yang umumnya dijadikan rujukan oleh media, seorang pengamat kesehatan, pengamat sosial politik, tokoh organisasi masyarakat, LSM, dan pengusaha.

Presiden: Pandemi Covid-19 tunjukkan pentingnya infrastruktur digital

Presiden RI Joko Widodo menyampaikan pandemi Covid-19 telah menunjukkan bahwa ketersediaan dan berfungsinya infrastruktur digital menjadi sangat penting dan strategis.

Presiden Jokowi menyampaikan itu dalam pidato penyampaian RUU APBN 2021 dan Nota Keuangan pada Rapat Paripurna DPR-RI  Masa Sidang I Tahun 2020-2021 di Gedung MPR/DPR Jakarta, Jumat (14/8/2020).

"Pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa ketersediaan dan berfungsinya infrastruktur digital menjadi sangat penting dan strategis," ujar Presiden.

Presiden menyampaikan atas pentingnya infrastruktur digital, maka pembangunan Teknologi Komunikasi dan Informasi (ICT) di tahun 2021 dengan anggaran Rp30,5 triliun (termasuk melalui TKDD) difokuskan untuk mengakselerasi transformasi digital untuk penyelenggaraan pemerintahan.

Selain itu juga untuk mewujudkan pelayanan publik yang efisien dan cepat, seperti di bidang pendidikan, kesehatan dan pemerintahan.

Kemudian juga untuk mengonsolidasi dan mengoptimasi infrastruktur dan layanan bersama, serta mewujudkan inklusi masyarakat di wilayah prioritas pembangunan dan mendorong kesetaraan dengan tambahan akses internet pada sekitar 4.000 desa dan kelurahan di daerah 3T.

Sementara pembangunan infrastruktur tahun 2021 yang dianggarkan sekitar Rp 414 triliun, utamanya untuk pemulihan ekonomi, penyediaan layanan dasar, serta peningkatan konektivitas.

"Belanja infrastruktur diarahkan untuk penguatan infrastruktur digital dan mendorong efisiensi logistik dan konektivitas; infrastruktur padat karya yang mendukung kawasan industri dan pariwisata; serta pembangunan sarana kesehatan masyarakat dan penyediaan kebutuhan dasar, seperti air, sanitasi, dan permukiman," jelas Presiden.

Jokowi ajak bangsa lakukan lompatan besar di tengah Covid-19

Pidato Presiden Joko Widodo dalam rangka peringatan HUT ke-75 RI di Gedung MPR/DPR disampaikan untuk mengajak masyarakat melakukan lompatan besar dan bangkit dan tekanan pandemik virus Corona baru atau Covid-19, kata Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade.

“Presiden menggambarkan kepada kita seluruh rakyat Indonesia agar ini bisa jadikan momentum bagi kita untuk bangkit dan melakukan lompatan besar,” kata Andre usai sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR RI dan DPD RI di Jakarta, Jumat (14/8/2020).

Presiden Jokowi, menurut Andre, menyerukan perbaikan terhadap tatanan kehidupan masyarakat.

Presiden juga meminta untuk perbaikan cara kerja dengan penyederhanaan mekanisme agar hasil kerja dapat dirasakan cepat dan bermanfaat kepada masyarakat.

“Harus kita lakukan, ada perubahan dan koreksi terhadap langkah-langkah kita, mengganti cara kerja kita yang dulu biasanya lama, dan berbelit sekarang melakukan short cut kalau duku banyak yang berbelit ini lebih cepat dan efisien,” ujar Politikus Partai Gerindra itu.

Andre juga mengapresiasi pernyataan Presiden yang menekankan koordinasi yang erat antara pemerintah dan DPR.

Misalnya, dengan langkah DPR yang responsif dalam mengesahkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara Stabilitas Sistem Keuangan menjadi UU Nomor 2 Tahun 2020.

“Intinya untuk menghadapi masalah ini, kita harus bersatu bersama-sama membahu bergotong royong, Insya Allah Indonesia bisa bangkit kembali,” ujarnya.

Dalam pidatonya di Sidang Tahunan MPR-RI dan Sidang Bersama DPR-RI dan DPD-RI Tahun 2020, di Gedung MPR/DPR, Presiden Jokowi menyerukan untuk membajak momentum krisis dan melakukan lompatan-lompatan besar.

"Saatnya kita bajak momentum krisis untuk melakukan lompatan-lompatan besar. Pada usia ke-75 tahun ini, kita telah menjadi negara Upper Middle Income Country (Negara Berpendapatan Menengah Atas),” ujar Jokowi yang mengenakan pakaian adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur.

Presiden meyakini ketika Indonesia berusia 100 tahun atau 25 tahun lagi, Tanah Air akan menjadi negara maju.

"25 tahun lagi, pada usia seabad Republik Indonesia, kita harus mencapai kemajuan yang besar, menjadikan Indonesia Negara Maju," tuturnya. (*)