Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Anies Baswedan Sindir Presiden Jokowi di Media Australia


Politik

Anies Baswedan Sindir Presiden Jokowi di Media Australia

Senin, 11 Mei 2020 16:52 WIB
IMG
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Rayapos | Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyindir Presiden Jokowi, saat Anies diwawancarai dua media massa asing. Yakni, The Sydney Morning Herald dan The Age dari Australia.


Anies Baswedan bahkan mengungkapkan kekesalannya, dia merasa frustrasi dengan kebijakan Menteri Kesehatan dr Terawan Agus Putranto. 


Tulisan di media massa Australia itu berjudul "Tak diperbolehkan melakukan pengetesan: Gubernur Jakarta melakukan pelacakan COVID-19 pada Januari' dan terbit pada 7 Mei".


Sindiran pertama adalah soal pengetesan virus Corona itu sendiri. Anies mengaku sudah melacak kasus virus Corona itu sejak Januari 2020. Saat itu, bahkan istilah COVID-19 belum dikenal.


"Kami sudah melakukan pertemuan dengan semua rumah sakit di Jakarta, menyampaikan kepada mereka mengenai apa yang saat itu kita sebut sebagai 'pneumonia Wuhan', saat itu belum ada COVID," kata Anies, dikutip dari The Sydney Morning Herald dari situsnya, Senin (11/5/2020).


Anies mengatakan pertemuan dengan rumah sakit-rumah sakit untuk membahas 'pneumonia Wuhan' sudah dilakukan sejak 6 Januari, setelah ada informasi mengenai kasus pertama di Wuhan.


Jumlah orang yang sakit pneumonia Wuhan ternyata semakin banyak dari hari ke hari. 


Namun, katanya, permintaan untuk melakukan pengetesan oleh pihak laboratorium Pemerintah Provinsi Jakarta ditolak pemerintah pusat.


"Saat angkanya mulai naik terus, saat itu pula kami tidak diperbolehkan untuk melakukan pengetesan. Jadi ketika kami punya kasus, kami kirim sampelnya ke laboratorium (pemerintah) pusat. Kemudian, laboratorium nasional itu akan menginformasikan hasilnya, apakah positif atau negatif. Hingga akhir Februari, kami bertanya-tanya kenapa semuanya negatif?" kata Anies.


Sindiran kedua adalah soal transparansi data Corona. Pada awal wabah di Jakarta, Anies hendak mengumumkannya ke publik. 


Namun Menteri Kesehatan Terawan merespons singkat bahwa tidak ada kasus positif di Jakarta. Terawan mengatakan ini berkat doa masyarakat Indonesia. Kini kasus COVID-19 sudah semakin banyak.


Anies mengungkapkan rasa frustrasi terhadap pemerintah pusat, khususnya kepada Terawan, yang dinilai tidak transparan.


"Menurut kami, menjadi transparan dan menyampaikan apa yang kami lakukan berarti menyediakan rasa aman. Namun Menteri Kesehatan berpendapat sebaliknya, bahwa bersikap transparan bakal menimbulkan kepanikan. Sikap seperti itu bukan pandangan kami," kata Anies.


Sindiran ketiga adalah perihal mudik. Anies berpendapat seharusnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) melarang mudik lebih awal dibanding yang dia lakukan.


Sebagaimana diketahui, keputusan larangan mudik disampaikan pada 21 April dan berlaku pada 24 April (dengan segala syarat dan ketentuannya). Bila mudik dilarang lebih awal, penularan COVID-19 ke daerah-daerah lain bisa dicegah. Kini sudah ada 1,6 juta orang dari Jakarta yang mudik ke provinsi-provinsi lainnya.


Untuk mencegah wabah COVID-19 gelombang kedua pada akhir Mei, Anies akan menutup arus balik mudik. Dia tidak khawatir dianggap bersikap berlebihan.


"Saya tidak khawatir dengan apa yang media sosial katakan soal kebijakan kami, saya lebih khawatir dengan apa yang sejarawan akan tulis di masa depan mengenai kebijakan kami," ujar Anies. (*)