Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
In Memoriam, Jakob Oetama, Jurnalis Top yang Santun


Peristiwa

In Memoriam, Jakob Oetama, Jurnalis Top yang Santun

oleh. Djono W. Oesman- Rabu, 09 September 2020 16:01 WIB
IMG
Pendiri Koran Kompas, Jakob Oetama

Rayapos | Jakarta - Salah satu tokoh penting pers Indonesia, Jakob Oetama, wafat dalam usia 88 tahun pada Rabu (9/9/2020) pukul 13.05 di RS  Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sebelum wafat, Jakob Oetama dirawat di rumah sakit tersebut selama dua minggu. Karena gangguan multi-organ.

Jakob Oetama selama berkiprah di industri media, telah mendapat banyak penghargaan, termasuk gelar doktor honoris causa.

Jakob Oetama peraih Penghargaan Achmad Bakrie untuk Negeri.

Penghargaan Achmad Bakrie Untuk Negeri ditujukkan untuk tokoh-tokoh yang telah berjasa dalam kehidupan intelektual bagi bangsa Indonesia.

Pada Penghargaan Achmad Bakrie ke-17 yang digelar di XXI Ballroom Djakarta Theater, Jakarta itu, ada empat tokoh inspirasional yang terpilih.

Salah satunya adalah Jakob Oetama seorang wartawan atau Presiden Komisaris Kompas Gramedia.

Jakob Oetama lahir di sebuah desa bernama Desa Jowahan, 500 meter sebelah timur Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 27 September 1931. 


Jakob merupakan putra pertama dari 13 bersaudara. 

Ayahnya bernama Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo seorang pensiunan guru Sekolah Rakyat di Sleman, Yogyakarta. Ibunya bernama Margaretha Kartonah.

Cita-cita awal Jakob adalah menjadi pastor. Namun, pekerjaan ayahnya sebagai guru membuat Jakob untuk tidak melanjutkan cita-cita awalnya. 

Saat ini Jakob Oetama dikenal sebagai salah satu pendiri Kompas Gramedia Group bersama dengan Petrus Kanisius (PK) Ojong.

Data Pribadi

Nama : Jakob Oetama

Nama kecil : Raden Bagus To

Tempat, tanggal lahir: Magelang, 27 September 1931

Agama: Katolik

Alamat: Rumah Jalan Sriwijaya 40, Kebayoran, Jakarta Selatan

Kantor Gedung Kompas Gramedia, Jalan Palmerah Selatan No.26-28, RT 04/RW02, Kelurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10270

Ayah : Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo

Ibu : Margaretha Kartonah

Saudara : Hendroatmodjo, Soenarko, Prayogo

Anak : Lilik Oetama, Irwan Oetama

Cucu : Geraldine Oetama

Riwayat Karier

Jakob Oetama memulai kariernya setelah keluar dari Seminari di Yogyakarta. Jakob ingin menjadi guru seperti ayahnya.

Ayahnya kemudian meminta Jakob untuk pergi ke Jakarta menemui kerabat, bernama Yohanes Yosep Supatmo.

Supatmo sendiri bukanlah seorang guru, namun memiliki Yayasan Pendidikan Budaya yang mengelola sekolah-sekolah budaya. 

Pekerjaan pertama Jakob bukanlah sebagai guru di Yayasan milik Supatmo melainkan sebagai guru di SMP Mardiyuwana Cipanas, Jawa Barat pada 1952 sampai 1953.

Kemudian Jakob pindah ke Sekolah Guru Bagian B di Lenteng Agung, Jakarta pada 1953-1954 dan pindah lagi ke SMP Van Lith di Gunung Sahari pada 1954-1956.

Sekolah-sekolah tersebut di bawah asuhan para pastor Kongregasi Ordo Fratrum Minorum (OFM) atau disebut Fransiskan. 

Saat itu Jakob tinggal di kompleks Sekolah Vincentius di Kramat Raya, Jakarta Pusat. Sekarang lokasi itu menjadi kompleks Panti Asuhan VIncentius Putra.

Sambil mengajar SMP, Jakob kemudian melanjutkan studinya pada tingkat tinggi. 

Jakob memilih kuliah B-1 Ilmu Sejarah. Setelah lulus melanjutkan di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Publisistik di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Minat menulis Jakob tumbuh seiring dengan belajar sejarah.

Kecintaannya dengan dunia jurnalistik tumbuh, ketika mendapat pekerjaan sebagai sekretaris redaksi mingguan Penabur di Jakarta dan memutuskan berhenti mengajar pada 1956. 

Tugas utamanya di Penabur adalah menjalankan peran sebagai pemimpin direksi.

Jakob sempat direkomendasikan mendapatkan beasiswa di University of Columbia, Amerika Serikat oleh salah satu guru sejarahnya ketika bersekolah di B-1 Sejarah yang juga seorang pastor Belanda, Van den Berg, SJ.

Jakob akan memperoleh gelar PhD dan akan menjadi sejarawan atau dosen sejarah.

Jakob juga sempat diterima sebagai dosen di Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, dan disiapkan rumah dinas bagi keluarganya.

Unpar juga sudah menyiapkan rekomendasi PhD di Universitas Leuven, Belgia setelah Jakob beberapa tahun mengajar di sana.

Jakob merasa bimbang, apakah ingin menjadi wartawan profesional ataukah guru profesional. 

Kemudian Jakob menemui Pastor JW Oudejans OFM, pemimpin umum di mingguan Penabur. 

Oudejans, Pastor tersebut menasihatinya bahwa guru sudah banyak namun wartawan tidak.

Saat itulah yang menjadikan titik balik Jakob untuk fokus menggeluti dunia jurnalistik. Dia tinggalkan semua tawaran menarik, termasuk sekolah di luar negeri gratis.

Pada awal 1960-an Jakob aktif menjadi pengurus Ikatan Sarjana Katolik Indonesia bersama Petrus Kanisiun (PK) Ojong.

Persahabatan Jakob dan Ojong berasal dari kesamaan pandangan politik dan nilai kemanusiaan yang dianut.

Pada April 1961, PK Ojong mengajak Jakob untuk mendirikan sebuah majalah. 

Majalah tersebut diberi nama Intisari. Isinya mengenai perkembangan dunia ilmu pengetahuan. 

Majalah Intisari yang didirikan oleh Jakob Oetama dan PK Ojong Bersama J. Adisubrata dan Irawati SH pertama kali terbit pada 17 Agustus 1963. 

Majalah ini bertujuan untuk memberi bacaan bermutu dan membuka cakrawala masyarakat Indonesia. 

Intisari juga dibuat sebagai pandangan politik Jakob dan Ojong yang menolak belenggu terhadap masuknya informasi dari luar.

Dalam penerbitannya, Intisari juga melibatkan banyak ahli di antaranya adalah ahli ekonomi Prof. Widjojo Nitisastro, penulis masalah-masalah ekonomi terkenal seperti Drs. Sanjoto Sasstromohardjo, dan sejarawan muda Nugroho Notosusanto (yang pada zaman Orde Baru jadi Mendikbud).

Berkat pergaulan PK Ojong yang sangat luaslah Intisari berhasil terbit.

Saat itu Intisari terbit dengan tampilan hitam putih dan tanpa sampul.

Intisari mendapat respon yang baik dari para pembaca dan beroplah 11.000 eksemplar. Tapi, Jakob menganggap, kehadiran Intisari belum cukup.

Di tahun 1965 Jakob Bersama PK Ojong mendirikan Surat Kabar Kompas. 

Saat itu Indonesia sedang berada pada masa pemberontakan PKI.

Kemudian didirikanlah Surat Kabar Kompas yang dimaksudkan untuk menjadi pilihan alternatif dari banyaknya media partisan yang terbentuk dari kondisi politik Indonesia pasca Pemilu 1995. 

Nama Kompas sendiri merupakan pemberian dari Presiden Soekarno yang berarti penunjuk arah.

Sebelumnya, nama yang akan dipilih adalah ‘Bentara Rakyat’ yang berarti koran itu ditujukan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat rakyat. 

Moto yang dipilih pun “Amanat Penderitaan Rakyat”.

Namun Presiden Soekarno saat itu kurang setuju dan mengusulkan nama “Kompas”.

Kemudian dari perkembangan Kompas inilah berdiri kelompok usaha Kompas Gramedia.

Mengutip dari Kompas.com, dalam perjalanan membesarkan Intisari dan Kompas, Jakob Oetama dan PK Ojong berbagi tugas. 

Jakob bertanggung jawab atas editorial sedangkan Ojong bertanggung jawab atas bisnis.

Jakob dan Ojong selalu menanamkan pentingnya nilai kemanusiaan dan etika jurnalistik yang tinggi dalam setiap laporan yang ditulis Kompas.

Pengembangan bisnis harus sejalan dengan kepercayaan pembaca. 

Maka dari itu Kompas selalu mengedepankan rasa kepercayaan dari masyarakat.

Pada 1980, setelah 15 tahun Bersama PK Ojong mengembangkan Kompas, Ojong meninggal dunia dalam tidurnya.

Hal ini membuat Jakob yang awalnya hanya berfokus pada editorial, harus mengurus Kompas dalam aspek bisnis juga. Dia belajar keras.

Dengan sifat penuh kerendahan hati, akhirnya Jakob berhasil mengembangkan Kompas Gramedia Group dalam berbagai sektor bisnis.

Jakob juga aktif dalam berbagai organisasi dalam maupun luar negeri. 

Di luar penerbitan, Grup Kompas Gramedia memliki jaringan bisnis perhotelan. Yakni, Hotel Amaris di Bali dan Jakarta, dan Hotel Santika di Cikarang.

Jakob Oetama pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), 

Anggota DPR Utusan Golongan Pers, Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia, Anggota Dewan Penasehat PWI, 

Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journax (FIEJ), Anggota Asosiasi Internasional Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawai. (*)