Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Sastrawan Ajip Rosidi Meninggal


Peristiwa

Sastrawan Ajip Rosidi Meninggal

oleh. Kemal Setiawan- Kamis, 30 Juli 2020 15:43 WIB
IMG
Ajip Rosidi

Rayapos | Magelang - Sastrawan Ajip Rosidi meninggal dunia di RS Tidar, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (29/7/2020), sekitar pukul 22.30 WIB di usia 82. Ia suami aktris senior Nani Wijaya yang dinikahinya pada 16 April 2017.

Ajip Rosidi terjatuh saat di rumah anaknya di Pabelan, Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat tersebut mengalami pendarahan di otak dan harus menjalani operasi.

Semasa hidup, Ajip Rosidi banyak menghasilkan puisi-puisi terkenal.

Berikut kumpulan puisi Ajip Rosidi:

1. Ingat Aku Dalam Doamu

Ingat aku dalam do'amu: di depan makam Ibrahim

akan dikabulkan Yang Maha Rahim

Hidupku di dunia ini, di alam akhir nanti

lindungi dengan rahmat, limpahi dengan kurnia Gusti


Ingat aku dalam do'amu: di depan makam Ibrahim

di dalam solatmu, dalam sadarmu, dalam mimpimu

Setiap tarikan nafasku, pun waktu menghembuskannya

jadilah berkah, semata limpahan rido Illahi


Ya Robbi!

Biarkan kasih-Mu mengalir abadi

Ingat aku dalam do'a-Mu

Ingat aku dalam firman-Mu

Ingat aku dalam diam-Mu

Ingat aku

Ingat


Amin


2. Hamlet


Yang was-was selalu, itulah aku

Yang gamang selalu, akulah itu

Ya Hamlet kusuka : Dialah gambaran jiwaku

Yang selalu was-was dalam ragu. Membiarkan kau

Mengembara dalam mimpi yang risau

Kutemukan pada Oliver, kegamangan falsafi

Dunia yang muram dan masa depan yang suram

Tapi kulihat kecerahan intelegensi

Seorang muda yang terlalu dekat kepada alam

Hamlet. Hamletku, ia datang kepadamu

Menatap fana atas segala yang kujamah: Tahu

Bahwa hidup melangkah atas ketidak pastian

Yang terkadang menentukan Kepastian

Aku pasrah


3. Lagu Kerinduan


wajahmu antara batang kelapa langsing

menebar senyum dan matamu menjadikan daku burung piaraan

semua hanya bayangan kerinduan: kau yang nun entah di mana

mengikuti setiap langkahku, biarpun ke mana


kujalani kelengangan hari

sepanjang pagar bayangan: wajahmu menanti

langkah kuhentikan dan kulihat

hanya senyummu memenuhi jagat


4. Dukaku yang Risau


berjalan, berjalan selagi di diri duka

bernapas lega menemu perempuan

kami berpandangan: lantas tahu

segalanya tinggal masa kenangan


kami berjalan memutar danau

namun kutahu: dukaku yang risau

takkan mendapatkan pelabuhan aman

kecuali dalam pelukan penghabisan



kupandang matanya:

tak kukenal siapa pun juga


didindingi kabut samar


5. Penyair


1

adapun penyair lahir

membangkitkan kematian para penyihir

lalu dengan mantra kata-kata

menjelmakan kehidupan manusia


menyanyikan kelahiran cinta

atau menangisi kematian bunda

melagukan kesia-siaan rindu, kau pun tahu

segala yang beralamat duka


2

siapa menjelajahi pagi

mendapat pertama sinar mentari


lagu kunyanyikan kini

akan dimengerti nanti


lagu kusajakkan kini

suara lubuk hati


yang selalu sunyi


semuanya nanar



6. Pantai Laut Utara


Menjelang Tengah Malam


Angin dingin naik ke puncak bukit

menyisir rambutmu yang meriap nakal

Dengan tanganmu lentik, kaususuri langit

Sia-sia mencari bintang yang kaukenal


Kepada langit khatulistiwa yang biru

Dahulu kaubisikkan madu cinta pertama

Dan angan-angan yang jauh, penuh rindu

akan negeri-negeri asing yang entah di mana


Tapi di sini langit kelam. Lautpun kelam

Hanya riak ungu yang kadang-kadang sejenak bersinar

Perlambang keajaiban yang dalam

dari takdir yang tak mungkin terhindar


Kausimakkan lampu-lampu kota, kapal yang bertolak

Memahatkan arti hakiki pertemuan ini

Dan dalam keheningan, telah kaumaklumi dengan bijak

Segala kata yang tak perlu kauucapkan lagi


7. Jarak


Berapa jauh jarak terentang

antara engkau dan aku


Berapa jauh terentang

antara engkau dengan urat leherku?


Tak pun sepatah kata

memisahkan kita


8. Wayang


Bayang-bayang yang digerakkan sang dalang

datang dan hilang, hanya jejaknya terkenang


9. Hanya Dalam Puisi


Dalam kereta api

Kubaca puisi: Willy dan Mayakowsky

Namun kata-katamu kudengar

Mengatasi derak-derik deresi

Kulempar pandang ke luar:

Sawah-sawah dan gunung-gunung

Lalu sajak-sajak tumbuh

Dari setiap bulir peluh

Para petani yang terbungkuk sejak pagi

Melalui hari-hari keras dan sunyi


Kutahu kau pun tahu:

Hidup terumbang-ambing antara langit dan bumi

Adam terlempar dari surga

Lalu kian kemari mencari Hawa.


Tidakkah telah menjadi takdir penyair

Mengetuk pintu demi pintu

Dan tak juga ditemuinya: Ragi hati

Yang tak mau

Menyerah pada situasi?


Dalam lembah menataplah wajahmu yang sabar

Dari lembah mengulurlah tanganmu yang gemetar


Dalam kereta api

Kubaca pusi: turihan-turihan hati

Yang dengan jari-jari besi sang Waktu

Menentukan langkah-langkah Takdir: Menjulur

Ke ruang mimpi yang kuatur

sia-sia.


Aku tahu.

Kau pun tahu. Dalam puisi

Semuanya jelas dan pasti.


1968


10. Bayangan


Bayanganmu terekam pada permukaan piring, pada dinding

Pada langit, awan, ah, ke mana pun aku berpaling:

Dan di atas atap rumah angin pun bangkit berdesir

Menyampaikan bisikmu dalam dunia penuh bisik.


Masihkah dinihari Januari yang renyai

Suatu tempat bagi tanganku membelai?

Telah habis segala kata namun tak terucapkan

Rindu yang berupa suatu kebenaran.


Bayangan, ah, bayanganmu yang menagih selalu

Tidakkah segalanya sudah kusumpahkan demi Waktu?

Tahun-tahun pun akan sepi berlalu, kutahu

Karena dunia resah 'kan diam membisu.


1967.