Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
KRI Teluk Jakarta Tenggelam Dihajar Ombak 4 Meter di Kangean


Peristiwa

KRI Teluk Jakarta Tenggelam Dihajar Ombak 4 Meter di Kangean

oleh. Kemal Setiawan- Rabu, 15 Juli 2020 11:36 WIB
IMG
KRI Teluk Jakarta saat berangkat melaut. Foto: Capture Instagram

Rayapos | Surabaya - Kapal perang KRI Teluk Jakarta 541, bocor dihantam ombak besar di Kepulauan Kangean, Jawa Timur, Selasa (14/7/2020) pukul 09 WIB. Akhirnya tenggelam di kedalaman sekitar 90 meter.

Dikutip dari Antara, Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Mohamad Zaenal mengatakan, gelombang laut di sekitar lokasi saat kejadian sekitar 2,5 sampai dengan 4 meter. 

Dilaporkan, seluruh ABK (anak buah kapal) 55 orang dalam keadaan selamat. 54 ABK diselamatkan oleh KM Tanto Sejahtera yang sedang berlayar di posisi 5 nautical mile dari lokasi kejadian.

Seorang ABK ditolong KM Dobonsolo.”Saat ini KRI RE. Martadinata sedang berada di posisi KM Tanto Sejahtera, menunggu cuaca baik melaksanakan transfer ABK, untuk selanjutnya akan dibawa ke Surabaya,” kata Mohamad Zaenal.

KRI Teluk Jakarta 541 kapal perang buatan Jerman jenis Landing Ship Tank (LST). Dia masuk ke dalam Satuan Kapal Amfibi (Satfib) Koarmada 2.

Penyebab pastinya masih akan diteliti. Tapi akibat ombak sangat tinggi.

Di akun Instagram @satfibkoarmada2, terlihat postingan 13 Juli 2020, yang memperlihatkan persiapan KRI Teluk Jakarta 541 dalam misi berlayar dari Dermaga Ujung, Surabaya.

Spesifikasi KRI Teluk Jakarta 541 termasuk Frosch class, Berbobot penuh 1.900 ton. Ini LST tipe medium. 

Dimensi 90,70 x 11,12 x 3,4 meter. Ditenagai dua mesin diesel bertenaga 12.000 bhp. Jangkauan berlayar 2.450 km. Mampu membawa 11 tank amfibi atau muatan kargo seberat 400 – 600 ton.

Kapal ini dibangun oleh galangan VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur pada 1976 hingga 1980.

Ini Bukan yang Pertama

Musibah atas Frosch Class di TNI AL bukan pertama kali ini terjadi. Pada 4 Juni 1994, KRI Teluk Lampung nyaris tenggelam di Teluk Biscay, utara Spanyol. 

Kronologinya, dikutip dari Majalah Tempo (Juni 1994), kisahnya, kapal sesudah direparasi di galangan Peenemunde, Wolgast – Jerman, lalu berlayar dari Laut Baltik melewati Belanda dan Perancis. 

Ketika memasuki perairan Spanyol, KRI Teluk Lampung dihadang taifun dank abut tebal. Haluan dihajar ombak besar. Menerjang pintu hingga jebol. Air laut pun masuk.

Gelombang setinggi 10 meter yang menghantam pintu kapal selama berjam-jam jadi penyebab musibah. 

Pintu terbuka karena memang tidak dilas mati. Maka, air masuk. 

Deputi Analisis Industri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Sulaeman Wiriadidjaja (waktu itu) berpendapat, sebab musibah titik berat kapal bertumpu pada satu sisi. 

Sebab, bertumpuknya kargo TNI AL di situ. Kargo mestinya tidak bergeser kalau dicantelkan ke tubuh kapal. Ternyata, prosedur ini tidak dipenuhi, hingga akhirnya mengubah titik berat kapal. 

Sebagai informasi, perpindahan titik berat kapal bisa berbahaya, terutama saat kapal dihantam ombak terus-menerus, akibatnya kapal bisa terguling. (*)