Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Perizinan Pendakian Diperketat Setelah Corona


Peristiwa

Perizinan Pendakian Diperketat Setelah Corona

oleh. Rangga Ansori- Kamis, 14 Mei 2020 11:28 WIB
IMG
Perizianan Pendakian Gunung akan diperketat setelah penyebaran wabah Virus Corona usai.

Rayapos | Jakarta – Terhitung sudah lebih dari dua bulan masyarakat Indonesia diharuskan menghindari segala aktifitas di luar ruangan, terutama yang mengharuskan adanya kontak dengan orang lain.

Hal lumrah yang muncul di pikiran kita setelah dua bulan mengurung diri dirumah pasti tentang rencana bepergian ke suatu tempat.

Mendaki gunung adalah kegiatan alam terbuka yang cukup digemari oleh masyarakat, terlebih Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sekali gunung dengan panorama memukau.

Namun setelah selesainya wabah Virus Corona (COVID-19) para pendaki akan menghadapi persyarakatan pendakian yang jauh lebih ketat dari sebelumnya. Aturan semacam ini diberlakukan untuk mencegah adanya penyebaran virus dari pendaki satu ke pendaki lain.

Sinyal kemunculan aturan terkait perizinan pendakian mencuat setelah Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Rahman Mukhlis mengungkapkan bahwa pihaknya sedang menyusun prosedur keselamatan baru.

Prosedur keselamatan baru ini akan mulai diterapkan pada bulan Juli mendatang, dimana pada saat itu kemungkinan penyebaran wabah virus Corona sudah mulai mereda.

"Pasti akan ada penyesuaian, karena ini pandemi masih berlangsung di Indonesia. Sementara perkiraan pemerintah, aktivitas outdoor itu baru bisa dimulai Juli," ungkap Mukhlis dikutip dari KompasTravel.

Beberapa poin yang akan masuk dalam prosedur keselamat baru itu terdiri meliputi kepemilikan surat keterangan bebas Corona, wajib membawa masker dan hand sanitizer, cek suhu tubuh, dan wawancara terkait kontak dengan pasien positif (PDP).

Rahman mengatakan bahwa pihaknya siap bekerjasama dengan otoritas kesehatan untuk menyediakan alat tes cepat virus corona (rapid test), demi menghindari kemungkinan adanya pendaki yang membawa surat keterangan palsu.

(**)