Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Dampak Pandemi, Konsumsi Alkohol Meningkat


Peristiwa

Dampak Pandemi, Konsumsi Alkohol Meningkat

oleh. Rangga Ansori- Kamis, 14 Mei 2020 15:36 WIB
IMG
Beberapa negara di dunia mengalami peningkatan prosentase konsumsi alkohol.

Rayapos | Jakarta – Situasi pandemi yang terjadi di banyak negara menyebabkan meningkatnya tingkat konsumsi minuman beralkohol secara signifikan.

Keadaan yang sangat tidak kondusif, serta ditambah dengan rasa jenuh akibat berhari-hari terkurung di dalam rumah membuat orang-orang memutuskan mengkonsumsi alkohol untuk menghindari stres dan depresi.

Negara yang mengalami peningkatan konsumsi alkohol di antaranya adalah China, India, Amerika, dan mayoritas negara di benua Eropa.

Dilansir dari BBC, di Amerika Serikat prosentase kenaikan konsumsi alkohol bahkan mencapai 55%, Inggris naik hingga 22%, sedangkan India naik hingga 11 %.

India bisa dibilang tidak mengalami kenaikan sebanyak AS, namun sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia tingkat konsumsi alkohol mereka termasuk yang tertinggi selain China.

Di India jenis minuman beralkohol yang banyak dikonsumsi adalah Wishkey, dimana hampir setengah jumlah produksi Wishkey perharinya dijual di India.

Jumlah itu mengindikasikan bahwa adanya peningkatan penjualan minuman beralkohol selama situasi pandemi berlangsung, jika di kalkulasi maka semjumlah 663 juta liter minuman beralkohol telah dikonsumsi di negeri Bollywood.

Sedangkan di Amerika situasi pandemi menjadi kejadian terburuk selama 100 tahun belakangan, imbasnya adalah kenaikan jumlah konsumsi alkohol yang begitu signifikan.

Sejauh ini situasi pandemi telah menimbulkan banyak masalah serius seperti meningkatnya jumlah kasus depresi, banyak orang kehilangan pekerjaan, hingga keadaan ekonomi keluarga yang memburuk.

"Kita tahu bahwa minum dapat meningkat dalam kondisi stres - yang terdokumentasi dengan baik dalam literatur,” ungkap Dr Rajita Sinha, Direktur Interdisciplinary Stress Center Yale University kepada BBC.

“Tetapi pertanyaan yang lebih luas yang Anda miliki adalah: Apakah itu oke? Dan saya akan waspada. Saya akan bertanya, apakah ada cara alternatif untuk mengatasi stres yang lebih sehat? " pungkasnya.

Keadaan seperti ini membuat banyak orang menjadi pesimistis walaupun pada dasarnnya merupakan yang berpotensi menjadi kebiasaan buruk.

(**)