Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Sebelum Corona, Wabah Ganas Pernah Masuk Ke Indonesia


Peristiwa

Sebelum Corona, Wabah Ganas Pernah Masuk Ke Indonesia

oleh. Rangga Ansori- Senin, 11 Mei 2020 12:25 WIB
IMG
Wabah penyakit Pes pernah menyerang Indonesia pada masa kolonial Hindia Belanda.

Rayapos | Jakarta – Wabah Virus Corona (COVID-19) menjadi wabah penyakit dari China yang meluas sampai ke Indonesia saat ini, fenomena ini bukan yang pertama karena dahulu wabah Pes pernah masuk dari Myanmar ke Indonesia.

Penyakit Pes atau yang orang jawa sebut sebagai Sampar saat itu merupakan wabah penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Penularan wabah Pes yang menular dari bakteri yang terdapat pada kutu-kutu tikus, kemudian kutu tikus terus mencari inang baru dan menjangkit semua tikus.

Saat semua tikus yang hidup di suatu wilayah telah terjangkit maka kutu tikus itu akan menjadikan manusia sebagai inangnya. Penyakit ini sebelumnya telah menjadi masalah serius pada periode 1800-1900-an di beberapa negara seperti China, Myanmar, dan negara-negara Arab.

Awal mula penyebaran wabah penyakit Pes bermula ketika Indonesia (Hindia Belanda) pada saat itu sedang mengalami masa peceklik yang mengharuskan pemerintah kolonial harus mengimpor beras dari Myanmar yang saat itu menjadi salah satu lumbung beras di kawasan Asia Tenggara.


Beras impor dari Myanmar yang sakaligus memuat tikus-tikus yang terjangkit Pes itu diangkut dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke Malang menggunakan kereta api.

Kereta pengangkut beras tersebut akhirnya tidak bisa sampai ke Kota Malang karena jalur di kawasan perbatasan mengalami tanah longsor, akhirnya beras itu di simpan di gudang-gudang beras daerah Turen (sekarang Kab. Malang).

Dari Turen tikus-tikus Myanmar yang terinfeksi Pes ini mulai menyebar dan menginfeksi tikus-tikus lokal hingga akhirnya wabah luar biasa memporak-porandakan kehidupan masyarakat di beberapa wilayah  Jawa.

Daerah Malang yang pada saat itu (tahun 1910) memiliki suhu udara rata-rata 14-16 derajat Celcius menjadi tempat yang sangat cocok bagi kutu tikus penyebab penyakit Pes. Sebelumnya kutu tikus ini tidak cukup kuat untung berpindah inang saat berada di Surabya yang suhu udaranya sangat panas.

Setelah itu situasi pandemi penyakit Pes terjadi di Jawa akibat dari kelalaian pemerintah kolonial yang sekan-akan menganggap remeh penyakit ini, padahal penyakit ini telah diketahui menyebabkan kekacauan di negara-negara lain. (**)