Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Jumlah Kasus Narkoba di DKI Naik 120 Persen


Peristiwa

Jumlah Kasus Narkoba di DKI Naik 120 Persen

Jumat, 01 Mei 2020 20:28 WIB
IMG
Jumlah kasus narkoba sepanjang April 2020 di DKI naik 120 persen banding bulan sebelumnya. Foto: Antara

Rayapos | Jakarta - Dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, sepanjang April 2020 jumlah kasus narkoba di Jakarta naik 120 persen dibanding bulan sebelumnya. Ini data Polda Metro Jaya.


Disinyalir, pengedar narkoba memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini.


Itu dikatakan Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana di Mapolda Metro Jaya, Jumat (1/5/2020).


"Kita mengevaluasi setiap bulan dan setiap minggunya, baik perkembangan kasus dan lainnya.


"Dari evaluasi, pada April 2020 ada kenaikan kasus atau lonjakan sampai 120 persen dibanding satu bulan sebelumnya," kata Nana.


Sebagian besar kasus berhasil diungkap. "Pengungkapannya juga cukup tinggi," kata Nana.


Ia menjelaskan Ditresnarkoba Polda Metro Jaya dan Satnarkoba Polres Jakarta Pusat membekuk 9 tersangka kasus narkoba dari empat jaringan atau kelompok berbeda, sejak 18 April sampai 24 April 2020.


Dari tangan ke sembilannya disita 46 kg sabu dan 65.000 butir ekstasi.


Dari 9 tersangka yang dibekuk satu orang terpaksa ditembak di bagian kaki.


Nana Sudjana mengatakan narkoba jenis sabu dan ekstasi dari 4 kelompok ini berasal dari Malaysia.


Mereka mengaku baru kali ini menyelundupkan narkoba karena memanfaatkan wabah Virus Corona atau pandemi Covid-19.


"Ini menunjukkan dalam situasi pandemi Covid-19, rupanya dimanfaatkan para tersangka untuk menyelundupkan narkoba ke Jakarta," kata Nana di Mapolda Metro Jaya, Jumat (1/5/2020).


"Mereka memperkirakan dalam situasi ini, polisi sibuk dan fokus menangani pencegahan penyebaran virus corona," ujar Nana.


Padahal katanya, Polri dengan satkernya tetap bekerja sesuai dengan apa tugas dan wewenangnya.


"Satker narkoba kita tetap melakukan penyelidikan dan pengungkapan atas kasus narkoba," katanya.


Menurut Nana, empat kelompok ini dibekuk di empat lokasi berbeda yakni di Ragunan Pasar Minggu, Jakarta Selatan; di Kembangan, Jakarta Barat; di Kelapa Gading Jakarta Utara dan di Apartemen Mediterania Royal Tower Lavender  Tanjung Duren, Jakarta Barat.


"Mereka dibekuk sejak 18 April sampai 24 April lalu di empat TKP itu. Di TKP pertama 2 orang, lalu di TKP kedua 3 orang dan dua TKP lainnya masing-masing 2 orang," kata Nana dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (1/5/2020).


Meski berbeda jaringan kata Nana, modus dan cara kerja kelompok ini sama.


Bahkan narkoba jenis sabu dan ekstasi ke empat kelompok ini semuanya berasal dari Malaysia.


"Dari Malaysia narkoba dibawa ke Aceh atau Riau lewat jalur laut, lalu dibawa ke Jakarta lewat darat," kata Nana.


Para tersangka kata Nana sengaja menyasar Jakarta sebagai tempat pemasaran narkoba karena permintaan narkoba dari Jakarta terbilang tinggi.


"Total narkoba dari tangan 9 tersangka sebanyak 46 kg sabu dan 65 butir ekstasi. Semuanya dikamuflase dalam kemasan teh china untuk mengelabui petugas," kata Nana.


Karena perbuatannya tambah Nana, ke 9 tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) sub pasal 112 ayat (2) Jo 132 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.


"Dengan ancaman maksimal pidana penjara seumur hidup atau 20 tahun," kata Nana.


Sementara itu, Kepala  Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Depok, AKBP Rusli Lubis mengimbau masyarakat agar waspada terhadap penyebaran narkoba. 


Sebab, kata Rusli, kondisi seperti sekarang ini bisa dijadikan celah para bandar narkoba untuk menyebarluaskan barang haram tersebut.


“Tentu kami menghimbau warga Depok untuk tetap waspada terhadap peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba. Karena di masa seperti ini, merupakan celah bagi para bandar narkoba untuk bergerak,” ujar Rusli kepada wartawan, Rabu (29/4/2020).


Rusli mengatakan, pandemi Covid-19 yang melanda sebagian besar negara di dunia ini memberikan efek yang luar biasa. 


Sebab, berbagai sektor ikut terkena dampaknya, akibat pemberlakuan Social Distancing maupun Physical Distancing guna memutus rantai penyebaran. 


"PHK besar-besaran pun terjadi, buruh maupun pekerja harian ikut terdampak. Hal ini bisa memicu berbagai macam tindak kejahatan, salah satunya adalah perdagangan peredaran gelap Narkoba," papar Rusli. 


 Namun, Rusli memgaku pihaknya bersama aparat penegak hukum yakni BNN dan Polri tidak tinggal diam.


Hal tersebut, kata Rusli, terbukti dengan adanya pengungkapan kasus peredaran gelap Narkoba di berbagai daerah.


Seperti pada saat penggerebekan Kampung Narkoba di Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada hari Kamis, tanggal 23 April 2020 yang lalu.


Peristiwa itu, kata Rusli, mengingatkan kita, bahwa kejahatan narkoba tidak mengenal tempat dan waktu, kapan saja bisa terjadi.


“Termasuk penyalahgunaan Narkoba, yang kami yakin di tengah Pandemi Covid-19 ini juga masih banyak terjadi. Peluang untuk menyalahgunakan Narkoba di tengah situasi seperti ini tetap ada," paparnya.


Rusli mengatakan, beberapa kalangan masyarakat yang turut merasakan dampak langsung Pandemi Covid-19 ini mengalami efek psikologis yang cukup berat, sehingga kemungkinan untuk menyalahgunakan Narkoba tetap besar. 


"Jadi, kami menghimbau kepada warga Depok agar selalu menjaga kesehatan diri kita, baik jasmani maupun rohani, agar terhindar dari penyalahgunaan Narkoba.” tuturnya. (*)