Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Inilah dr Debry, Relawan Pasien Covid-19 Wisma Atlet


Peristiwa

Inilah dr Debry, Relawan Pasien Covid-19 Wisma Atlet

Kamis, 23 April 2020 00:50 WIB
IMG
dr Debryna Dewi Lumanauw. Foto: Instagram

Rayapos | Jakarta - Kebanyakan orang takut jadi ODP (Orang dalam Pengawasan) Covid-19. Tapi, dr Debryna Dewi Lumanauw (28) sengaja jadi ODP.


"Ya, karena saya sehari-hari menangani pasien Cocid-18, otomatis kami dokter dan paramedis ODP. Tidak akan ke mana-mana," katanya saat diwawancarai wartawan, Rabu (22/4/2020).


Debryna Dewi Lumanauw salah satu dokter pasien Covid-19 di pusat perawatan pasien Covid-19, Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat.


Kisahnya sempat viral di jejaring media sosial, setelah ia menceritakan pengalamannya di sana, lewat Instagram pribadi @debrynadewi.  


“Begitu masuk zona merah ini, kami sudah menganggap diri kami ODP," tulisnya.


Dalam menjalankan tugasnya, ia juga mengaku terinspirasi dari semangat Raden Ajeng Kartini. Berjuang tanpa pamrih. 


"Aku selalu ingin seperti Kartini. Maksudnya ingin belajar dan ingin mendapatkan kesetaraan. Dan idealnya, tidak ada batasan gender untuk melakukan hal-hal yang sifatnya kemanusiaan,” kata dr Debry, yang anggota Tim Indonesia Search dan Rescue (INASAR) tersebut. 


dr Debry mendaftar sendiri jadi dokter khusus pasien COVID-19 pada 20 Maret 2020. Saat itu 369 kasus positif COVID-19 di Indonesia, Pemerintah mempersiapkan Wisma Atlet sebagai RS Darurat.  


26 Maret 2019, dr. Debry memulai hari pertama sebagai dokter relawan IDI (Ikatan Dokter Indonesia). 


“Tugas biasa. Bedanya, sekarang pakai Alat Pelindung Diri (APD), kalau biasa kan tidak pakai APD,” tuturnya.


APD-nya masker bedah, sterile gloves (sarung tangan karet steril), hamzat, goggles (kaca mata pelindung), sepatu boots.  


Satu shift, tenaga medis 8 jam kerja, 32 jam istirahat.


Apa kendala tugas? "Tidak ada kendala," jawabnya.


“Aku ngobrol sama teman-temanku, rata-rata mereka bilang salah satu tantangan terbesar di sini adalah saat memakai APD," kisahnya.


"Soalnya, sekali pakai APD tidak dilepas-lepas sampai jam akhir tugas. Biar hemat APD," katanya.


Sudah hampir sebulan dr. Debry di Wisma Atlet. Ia telah menjalani masa tugas selama 14 hari. Kini dikarantina selama 14 hari. 


“Aku di sini menjalankan tugas saja, kok. Kebetulan kita medis. Jadi perannya kelihatan menonjol daripada yang lain.” 


Tapi, dia sempat tidak direstui keluarganya. 


"Aku bersikukuh. Negosiasinya alot. Tapi lama-lama oke sih, akhirnya mereka ikhlas juga,” katanya.


Apa dukanya dalam bertugas? "Ya, dikarantina ini. Gak bisa keluar-keluar."


Sebagai dokter di INASAR, dia sudah biasa melayani pasien di kondisi darurat. Misalnya gempa, tsunami, banjir.


“Di INSAR kan gempa, tsunami, banjir, bangunan runtuh. Itu aku bisa lihat. Bisa lebih hati-hati."


"Kalau ini, musuhnya gak kelihatan. Anggap saja musuhku ada di mana-mana. Bahkan di depan mata,” tambah dr. Debry. 


Dengan beberapa dokter dan perawat gugur korban Covid-19, apakah Anda tidak takut?


"Khawatir pasti. Virus ini mengkhawatirkan. Yang aku tidak tahu, seberapa kuat aku. Ini yang bikin cemas," kata medikal dokter lulusan Universitas Kristen Maranatha, Bandung, tersebut. 


Menurutnya, petugas medis Covid-19 dalam kondisi bahaya, jika dia tidak tahu kekuatan fisiknya. Sehingga dipaksakan. Berakibat fatal. 


Keselamatan petugas medis (khusus di kasus ini) adalah kedisiplinan. "Antara lain, disiplin pakai APD," katanya.


APD harus lengkap. Cara pakainya benar. Cara melepas juga harus benar.


Kelihatannya sepele. Tapi, di sini banyak memakan korban petugas medis.


Biasanya di bagian akhir tugas. Yakni, cara melepas APD. "Melepas APD nggak boleh sembarangan. Misalnya, pas copot masih pegang-pegang wajah secara langsung. Itu kan sama aja bohong," katanya.


Semua petugas medis sangat paham prosedur ini. Tapi, di bagian akhir tugas, mereka sudah kelelahan. Nah, saat lelah itulah blunder. Akibatnya fatal.


Walaupun semua petugas sudah divaksinasi. dr Debry sudah divaksin 9 kali. "Moga-moga aman," ujarnya.


Instagram Debry diikuti 17 ribu followers. Dia sering mengunggah pengalamannya, juga pengalaman paramedis, polisi, TNI, serta semua pendukung pemberantasan Covid-19.


Tapi, dia belum sempat mengunggah cerita tentang pasien.


“Selama aku kerja jadi dokter di rumah sakit atau di mana pun, aku belum pernah melihat pasien sesemangat di sini," ceritanya.


Menurutnya, pasien Covid-19 yang dia hadapi hampir semuanya bersemangat. Ceria. Kelihatan sehat.


Mungkin, karena ini jenis penyakit dadakan (akut). Atau pasien sebenarnya ketakutan. Sehingga terlalu berusaha gembira.


"Rata-rata pasien di sini pengin sembuhnya luar biasa. Ini sangat penting dalam pengobatan," katanya.


dr Debry selalu mengobrol dengan pasien, Terutama, mengorek kronologi sebelum pasien dinyatakan positif Covid-19.


Ternyata cerita pasien beraneka ragam. "Sampai hal kehidupan pribadi. Sampai, alasan mengapa dia ingin cepat sembuh. Ingin melakukan apa, setelah sembuh," tuturnya.


Ada yang lucu.


“Ada pasien perempuan, cerita, lupa ngasih makan kucing, pas kemarin pergi cek. Trus, dia langsung dikarantina," cerita Debry.


Mendengar itu Debry terharu. "Sampai segitunya dia sayang binatang. Sedangkan dirinya sendiri dalam bahaya."


Tapi, Debry senang berinteraksi dengan semua pasien. "Banyak dari cerita pasien yang menginspirasi. Baru kusadari, itu bermanfaat," ujarnya.


Kegembiraannya, punya banyak teman baru. Baik sejawat medis maupun petugas pendukung, seperti anggota Polri, TNI, dan BUMN.


"Seru banget. Bisa saling sharing antara profesi dan kesatuan. Dan kami sangat cepat adaptasi. Baru sebulan, tapi kayak udah temen lama."


Kalau kelak tugas sudah selesai, Anda mau ngapain?


"Melanjutkan kehidupan normal," katanya. "Cari tempat diving."


Dia penggemar diving. Cocok dengan kesukaannya sebagai anggota INASAR.


"O ya, aku juga ingin menemui anjingku di rumah. Waktu kutinggal, dia sakit," katanya tersenyum.


Ternyata, Debry sama saja dengan pasien penyayang kucingnya. (*)