Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Kisah Humaidi, Pasca Lockdown di Wuhan


Peristiwa

Kisah Humaidi, Pasca Lockdown di Wuhan

Jumat, 10 April 2020 16:11 WIB
IMG
Humaidi dan kondisi kota Wuhan.


Rayapos | Jakarta - Wuhan, China sudah bebas dari lockdown. WNI (Warga Negara Indonesia) Humaidi masih di sana. Dia menceritakan kondisi Wuhan selama lockdown dan sekarang.


Humaidi adalah salah satu WNI yang memilih tidak ikut, ketika pemerintah Indonesia memulangkan puluhan WNI dari Wuhan, sebelum Wuhan ditutup total, 23 Januari 2020. 


Saat itu, banyak pihak menyayangkan beberapa WNI yang tidak mau ditarik pulang. Padahal, pesawatnya gratis disediakan pemerintah.


Kini, Humaidi tampaknya senang tinggal di sana. Itu kelihatan saat dia diwawancarai Wartawan Voice of America.


Status lockdown di Wuhan resmi dibuka pada Rabu, 8 April 2020.


Humaidi, yang terkurung selama 76 hari di sana, menceritakan pengalamannya:


Kisahnya, sebagian ia ceritakan lewat akun Instagram @voaindonesia, Jumat (10/4/2020)..


Awalnya, pria yang juga dikenal dengan nama Omed itu mengungkapkan apa hal pertama yang ia ingin lakukan selepas bebas dari kurungan lockdown, dan ancaman Covid-19.


Humaidi telah terkurung di dalam asrama sejak bulan Februari.


Ia baru bisa keluar setelah Wuhan mengangkat status lockdown pada Rabu (8/4/2020).


Pertama kali keluar dari ruangan tempatnya tinggal, ia mengaku sangat senang. Dia bisa melihat aktivitas penduduk di Wuhan kembali seperti sedia kala.


"Dua bulan penuh di dalam ruangan, terus lihat orang Wuhan beraktivitas kembali, melihat keramaian Wuhan di luar gedung kampus ini," kata Humaidi.


"Keluar saja dari dalam gedung, itu sudah senang."


Setelah bebas melakukan aktivitas di luar, Humaidi mengatakan hal yang paling ingin ia lakukan adalah memasak sambal sendiri.


"Langung belanja. Aku nyari minyak goreng, tomat, cabai," jelasnya.


"Ingin masak sendiri, ingin nyambel, aku cuma kangen nyambel itu aja," lanjut Humaidi.


Meskipun kini lockdown telah diangkat, mahasiswa di kampus hanya diperbolehkan keluar selama tiga kali dalam sehari.


Dan tiap keluar waktunya hanya dibatasi selama 1,5 jam.


Peraturan tersebut sangat ketat, sebab apabila dilanggar, orang yang bersangkutan tidak akan diperbolehkan keluar ruangan pada keesokan harinya.


Humaidi bercerita, bagaimana awal mula lockdown terjadi di Wuhan.


Pada 23 Januari 2020 angka kasus positif Covid-19 di sana sangat tinggi. Transportasi masuk, dan keluar Wuhan mulai diberhentikan.


Humaidi mengaku tidak ada pemberitahuan dini bahwa Wuhan akan dikunci total.


"Itu mendadak lho, langsung digembok gitu saja," katanya.


Tentu saja dia dan seluruh warga Wuhan kaget dan sangat kecewa. Tapi, menurutnya, warga di sana menurut saja. Tidak ada protes-protes. Sebab, jika protes sanksinya sangat keras.


Di awal munculnya wabah Covid-19, perilaku warga setempat masih meremehkan, dan menganggap enteng.


"Nanti paling setengah bulan juga sembuh orang-orang itu," ujar Humaidi, menirukan ucapan banyak orang Wuhan saat itu.


"Anehnya, sampai tanggal 22 Januari 2020 kita tenang-tenang saja. Juga semua warga Wuhan."


"Kita malah main ke mall. Yang di dalam situ, orang banyaknya minta ampun, aduh gobl**nya aku."


"Pas itu saya enggak pakai masker," imbuhnya.


Esoknya, 23 Januari 2020 kota Wuhan langsung digembok total.


Selanjutnya, 2 Februari 2020 Humaidi bercerita bahwa rumah-rumah susun, dan apartemen mulai dikunci.


Orang yang diperkenankan untuk berbelanja hanya Ketua RT, dan staf-stafnya.


Warga yang lain hanya bisa menitipkan barang apa yang ingin mereka beli.


"Didaftar barang-barang yang tersedia apa saja. Nanti mereka bantu untuk belanja," terang Humaidi.


Humaidi diwawancarai Wartawan Voice of America (VOA), ditanya sekrang adakah keinginan Humaidi pulang ke Indonesia?


Ternyata, Humaidi langsung menjawab dirinya tidak ingin pulang ke Indonesia.


Alasan tersebut dikarenakan menurutnya kasus Covid-19 di Indonesia sudah mulai meningkat.


"Sepertinya tidak. Mengingat di Indonesia sendiri kasusnya juga mulai meningkat," kata Humaidi.


Humaidi juga membandingkan kondisi Indonesia dengan Wuhan.


Menurutnya ada kejanggalan yang terjadi di Indonesia.


Ia menyoroti masih adanya penerbangan di bandara-bandara di Indonesia.


"Kalau kita samakan pengalaman dengan Wuhan, hal itu janggal," kata Humaidi.


"Di (Indonesia) kenapa bandara masih dibuka ya, terus orang-orang enggak boleh keluar, tapi (penerbangan) bandara masih berkeliaran."


"Ya semoga saja banyak keajaiban dari Tuhan," tandasnya.


Pengidap Corona Muncul Lagi


Pemerintah Kota Wuhan mencabut status "bebas wabah" atas 45 kawasan perumahan, karena muncul kasus tanpa gejala dan alasan lain yang tidak mereka sebutkan.


Kantor berita Xinhua, Senin (6/4/2020), melaporkan, status "bebas wabah" memungkinkan orang yang tinggal di kompleks perumahan di Wuhan bisa meninggalkan rumah mereka selama dua jam sekaligus.


Mengutip Reuters, Komisi Kesehatan Nasional China, Senin (6/4/2020), mengatakan, terdapat 78 kasus tanpa gejala baru virus corona pada Ahad (5/4/2020), naik dari hari sebelumnya sebanyak 47 kasus.


Kasus pasien tanpa gejala, yang tidak menunjukkan gejala tetapi bisa menularkan virus, telah menjadi perhatian utama China, setelah langkah penguncian yang ketat berhasil memotong tingkat infeksi.


Provinsi Hubei, episentrum wabah virus corona, menyumbang hampir setengah dari kasus baru tanpa gejala. 


Sebanyak 705 orang dengan kasus tanpa gejala berada di bawah pengawasan medis di China.


Lonjakan kasus tanpa gejala menimbulkan kekhawatiran baru, ketika Ibu Kota Hubei, Wuhan, bersiap untuk mengizinkan orang keluar-masuk kota pada 8 April 2020 untuk pertama kalinya sejak lockdown akhir Januari lalu.


Meski sudah bebas lockdown, kini pemerintah setempat memeriksa secara ketat para pendatang atau masuknya orang ke Wuhan.


China melaporkan 39 kasus virus corona baru pada hari Minggu, naik dari 30 hari sebelumnya. 


Jumlah kasus virus corona tanpa gejala juga melonjak. China terus berjuang untuk memadamkan wabah.


Komisi Kesehatan Nasional mengatakan bahwa 78 kasus asimptomatik baru telah diidentifikasi pada Minggu sore dibandingkan dengan 47 hari sebelumnya.


Kasus impor dan pasien tanpa gejala, yakni kasus tanpa menunjukkan gejala tetapi masih dapat menularkan virus kepada orang lain, telah menjadi perhatian utama China dalam beberapa pekan terakhir.


China sebelumnya berhasil menekan tingkat infeksi dengan penahanan ketat.


Otoritas kesehatan Provinsi Hubei mengungkapkan bahwa, Hubei yang merupakan episentrum awal wabah, menyumbang hampir setengah dari kasus asimptomatik baru.


Sebanyak 705 orang dengan kasus tanpa gejala berada di bawah pengawasan medis di sekitar daratan China.


Lonjakan kasus tanpa gejala yang baru dilaporkan China, Minggu (5/4/2020) lalu menimbulkan kekhawatiran.


Provinsi Hubei mulai melonggarkan pembatasan perjalanan akhir bulan lalu. Ini adalah bagian dari upaya China yang lebih luas untuk mengembalikan perekonomian ke jalur semula. (*)