Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Kisah Pengidap Covid-19 yang Inspiratif


Peristiwa

Kisah Pengidap Covid-19 yang Inspiratif

Kamis, 09 April 2020 15:09 WIB
IMG
Indra Jaya Sihombing (berkumis) bersama keluarga. Foto: Facebook

Rayapos | Jakarta - Ini kisah nyata. Kisah Indra Jaya Sihombing. Yang kena Covid-19 dan akhirnya sembuh. Kisahnya luar biasa. Mengharukan, menginspirasi, sekaligus menakutkan.

Indra Jaya Sihombing pernah jadi Managing director di Suara Merdeka Group of Media. Sehingga tulisannya kronologis, runtut, detil. 

Kisah itu dipublikasikan di Facebook Indra Jaya Sihombing. Sedangkan, Wartawan Rayapos, Djono W. Oesman sudah mendapat persetujuan, bahwa kisah ini dipublikasikan di sini. 

Selamat membaca:

Teman-teman, terimakasih atas dukungan dan doanya. 

Saya berbagi cerita yang saya alami saat mengalami serangan Virus Covid 19. Untuk saling menguatkan kita dalam menghadapi ancaman Covid 19:

AWAL 

Semua berawal pada hari Selasa malam tanggal 17 Maret 2020.

Jam 2 pagi, suhu badan saya naik dan badan terasa menggigil. 

Karena masih kejadian pertama saya tidak curiga terlalu jauh. 

Rabu, 18 Maret 2020 sekitar jam 14.00 suhu badan terasa naik lagi, tapi tidak ada batuk sama sekali dan tidak ada flu. 

Tapi saya mulai curiga dan menelepon dokter keluarga yang selama ini selalu menolong kami saat ada masalah dengan kesehatan kami. 

Beliau meresepkan Paracetamol sekaligus antibiotik sesuai permintaan saya. 

Rabu malam obatnya saya konsumsi, saya merasa suhu badan saya menurun dan bisa tertidur sekitar beberapa jam. 

Namun Kamis 19 Maret 2020 subuh, suhu badan saya naik lagi dan saya menggigil hebat. 

Kamis pagi 19 Maret 2020 saya kembali menelepon dokter dan beliau menyarankan saya untuk melakukan cek darah. 

Kejadian menarik terjadi pada Kamis 19 Maret siang. Saya memasak mie instan kesukaan saya. 

Pada saat saya mulai makan, saya kaget kok Mie yang biasanya enak ini kok hampir tidak ada rasa sama sekali. 

Saya hampir muntah karena rasanya menjadi aneh luar biasa (note: saat itu belum ada info yang kuat bahwa ternyata hilangnya rasa dan penciuman menjadi salah satu penanda 'bekerjanya' Covid 19 dalam tubuh). 

Sekarang saya baru sadar bahwa itulah ternyata yang saya alami hari itu. 

Jumat pagi 20 Maret 2020 saya konsultasi lagi ke dokter keluarga dan keputusan kami obatnya diganti. 

Setelah diganti dengan Sistenol dan antibiotik baru, sepanjang Jumat badan saya terasa agak nyaman. 

Namun, kembali suhu tubuh saya naik lagi saat Sabtu, 21 Maret 2020 subuh.

Sabtu siang 21 Maret 2020 saya memutuskan pergi sendiri ke Prodia untuk melakukan cek darah. 

Hasilnya saya terima Minggu pagi 22 Maret 2020: tidak ada DB dan Tipes. 

Saya jadi curiga, jangan-jangan ini virus Covid 19.

Akhirnya, Minggu sore 22 Maret 2020 saya dan isteri memutuskan pergi ke RS Medistra dan tiba disana sekitar jam 16.00. 

Kami bermaksud ke IGD namun semua ruangan IGD penuh, semua dokter dan perawat sangat sibuk. Kami pun disuruh menunggu, entah untuk berapa lama. 

Badan saya masih menggigil ringan. Sekali lagi tidak ada batuk, flu dan sesak. 

Akhirnya kami berinisiatif naik ke Poliklinik lantai 4. 

Kebetulan sekali, saat itu masih ada satu dokter yang sedang berpraktek di poli umum. Dan, jam prakteknyapun sudah hampir berakhir. 

SARAN yang HEBAT

Pasien saat itu hanya tinggal 2 orang. Saya antre menunggu.

Setelah diperiksa secara umum dan dengan pertimbangan riwayat saya dalam 5 hari terakhir, Ibu dokter menyarankan saya untuk dirawat inap supaya bisa diobservasi. 

Awalnya saya ragu, namun akhirnya kami menyetujui dan masuk ke ruang inap di lantai 4 RS Medistra. 

Belakangan saya baru sadar bahwa saran Ibu dokter ini memang sangat luar biasa tepat. 

Satu-satunya saran beliau adalah: tinggal, atau jangan pulang lagi ke rumah dan rawat inap saja. 

Entah apa dan siapa yang mendorong beliau menyarankan saran tunggal itu. 

Beliau kemudian merujuk saya ke seorang dokter ahli penyakit dalam sekaligus jantung. Kebetulan, dokter tersebut pernah merawat saya saat memasang ring jantung di RS Medistra. 

Karena hari sudah malam, sang dokter spesialis berjanji akan datang ke ruangan saya besok pagi. 

Malam itu saya disuruh istirahat, sambil diberikan obat penurun panas melalui infus dan antibiotik. 

MASA PERAWATAN 

Malam itu juga saya mulai diberikan Vitamin C dosis tinggi dan ragam vitamin. 

Senin 23 Maret 2020 pagi saya diminta untuk melakukan rontgen thorax; dan demi penegakan diagnosa yang lebih pasti dilanjutkan lagi dengan CT Scan tanpa kontras. 

Hasilnya sangat mengejutkan kami. 

Karena pola bercak menyebar yang ada di paru-paru saya menandakan pola thorax seseorang yang sedang terinfeksi virus Covid 19. 

Saya dan Isteri seketika terdiam ketika dokter dan perawat memasuki ruang rawat inap saya dengan APD lengkap, oh Tuhan akhirnya.. 

Saya pun akhirnya disebut sebagai suspect virus Covid 19 pada Selasa 24 Maret 2020 sekitar jam 16.00. 

Mereka mengatakan bahwa mulai saat itu juga akan dirawat sebagai pasien dengan diagnosa terpapar Covid 19. 

Suasana menjadi agak mencekam dan bercampur perasaan sedih karena saat itu juga isteri saya diminta meninggalkan ruangan. 

Peralatan pribadi apa pun, selain tas, sementara ditinggalkan sebab semua dianggap sudah terpapar. 

Isteri diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari bersama seluruh anggota keluarga yang lain. 

Saat itu juga, tanpa menunggu Swab Test, tim Dokter memutuskan saya akan ditangani sesuai standar penanganan pasien Covid 19. Mereka yakin.

Segala macam obat yang dinilai bisa menghajar virus Covid 19 segera diberikan malam itu juga. Langsung tanpa berpikir terlalu lama. 

Terlihat bahwa mereka sangat yakin dan percaya bahwa tindakan harus dilakukan dengan segera. 

Bu Dokter mengatakan bahwa penanganan harus cepat. Jangan sampai terlambat, kalau masih mau bertemu lagi dengan keluarga, sebab indikasinya sudah sangat-sangat jelas! 

Aduh ngeri…. 

Saya diminta menuruti segala proses. Saya harus kuat dan tenang karena itu yang paling dibutuhkan. 

Saya sempat diingatkan bahwa akan ada kemungkinan, saya dipindah ke RS Rujukan sesuai SOP penanganan pasien Covid 19. Saya menurut saja.

Namun entah ini kebetulan, dua RS Rujukan yang mereka hubungi menolak dengan alasan masih belum ada ruangan isolasi yang kosong. 

Mereka pun memutuskan akan merawat saya di ruangan itu. Ruang 404 (ruang bersejarah buat saya). 

Tidak akan dipindah, dan saya menjadi satu-satunya pasien isolasi di lantai itu, sebab ruang-ruang isolasi yang terletak di salah satu sayap lantai 3 saat itu masih dalam keadaan penuh. 

Keputusan tim medis RS Medistra bagi saya sangat luar biasa. Mereka memutuskan merawat saya dengan penanganan dan pengawasan penuh. 

Malam itu juga, saya dihujani dengan obat-obatan dosis tinggi dan vitamin dosis tinggi. Seolah berkejaran dengan ancaman virus yang sudah menancap di paru-paru saya. 

Obat lambung, Antibiotik khusus paru, Obat Tamiflu, Obat batuk, Padanan klorokuin dan Vitamin dosis tinggi adalah kombinasi obat yang saya konsumsi. 

Mereka betul-betul melakukan penanganan yang luar biasa. 

Mungkin saja mereka melihat riwayat medik saya, sebagai pasien dengan 8 ring terpasang di jantung. Secara teori, sangat beresiko jika tidak ditangani segera. 

Rasa mual, muntah, tegang bercampur takut terjadi selama 5 hari pertama perawatan. 

Semua makanan sangat hambar tapi harus ditelan demi kesembuhan cepat. 

Tanggal 25 Maret 2020 (sehari setelah saya dinyatakan sebagai Suspect Covid 19) saya melakukan Swab test. 

Kemudian pada tanggal 28 Maret saya diminta melakukan Rapid test. 

Tanggal 31 Maret 2020 dokter memberitahukan bahwa hasil rapid test saya negatif. 

Dua hari kemudian atau 2 April 2020 atau 10 hari setelah saya dirawat barulah jelas bahwa berdasarkan hasil Swab, saya positif terkena virus Covid 19.

Coba, perhatikan urut-urutan waktu itu. Dari saat gejala, sampai dipastikan positif. Cukup lama, untuk ukuran waktu yang sangat sempit.

Saya berpikir, Ok saya positif terinfeksi Covid 19. Tapi saya sudah menjalani perawatan selama 10 hari. Dan kondisi saya saat pemberitahuan hasil Swab, sudah dalam kondisi klinis yang stabil. 

Akan lain ceritanya kalau misalnya setelah 10 hari perawatan kondisi saya semakin tidak baik. 

Kecepatan pengambilan keputusan tim dokter RS Medistra untuk langsung melakukan pengobatan penuh. Tanpa menunggu hasil Swab test, adalah tindakan terpuji. 

Kalau saja misalnya saya harus menunggu terlebih dahulu hasil Swab Test sebagai acuan untuk mendapatkan pengobatan penuh, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan saya, sebab saya adalah pasien dengan resiko penyakit jantung. 

Kejelian mereka patut diapresiasi. Keputusan mereka untuk tetap mengisolasi saya di ruang 404 adalah sesuatu yang menurut saya harus saya puji. 

Setelah melewati pengobatan dengan ‘kecepatan penuh’, sejak hari ke 6,7,8,9,hingga 10 gejala klinis saya stabil. 

Suhu tubuh saya yang pernah menyentuh 39,4 mulai stabil di angka 36,3 hingga 37,0. 

Bahkan pernah di suatu pagi, suhu saya terukur di angka 35,8, kaget bercampur haru. 

Tampaknya, kombinasi antara kejelian dan kecepatan tim medis, ditambah dengan obat-obatan yang ditakar dengan pas, sistem kekebalan tubuh itu sendiri dan tentu harapan atau motivasi untuk sembuh, bergabung menjadi satu dalam melawan Covid 19 yang menyerang tubuh saya. 

Setiap malam saya berdoa dan bernyanyi. Saya bersyukur luar biasa. Tuhan menolong saya.

MAHAL dan BERAT 

Saya menjadi sangat paham bahwa penanganan pasien Covid 19 itu sebetulnya mahal dan berat. 

Saya diobservasi 3 hingga 4 kali dalam sehari secara bergantian oleh tim medis. 

Bukan saja. Soal obat-obatan, APD yang dikenakan perawat, dokter dan pelengkap tim medis lainnya, adalah unsur biaya yang memang mahal. 

Setiap kali seorang perawat masuk ke ruangan, maka APDnya akan ditinggalkan di ruangan untuk kemudian diambil dan dibuang oleh tim pembersih ruangan, sesuai SOP. 

Termasuk masker, pembungkus tangan, dan goggles mask. 

Saya kerap diingatkan bahwa jika bisa sembuh lebih cepat, akan jauh lebih baik. 

Sebab mereka juga menyadari biaya tinggi yang akan ditanggung pasien (pasien atas biaya sendiri di RS non rujukan). 

Disamping faktor biaya, saya juga mengamati betapa sulitnya para perawat untuk bernafas saat menggunakan masker dan goggles mask.

Mereka bermandi keringat, karena bajunya yang kedap dan panas dan satu lagi adanya resiko terpapar. 

Namun mereka sangat sabar, tekun, dan semangat. Sekalipun mereka juga berada di bawah ancaman resiko tertular. 

Dokternya sangat ramah luar biasa dan menenangkan hati. 

Terimakasih tim RS Medistra: Dokter, Perawat, Cleaning Room Service, tim Gizi dan semuanya. Ucapan terima kasih pun, saya rasa belum cukup untuk membalas kebaikan mereka.

Akhirnya, saya boleh pulang. Melanjutkan isolasi mandiri yang ketat di rumah dan sedang dalam proses pemulihan. 

Saya sedang berbagi cerita tentang kehebatan kalian. Bu dokter, para dokter lainnya, para perawat, cleaning service, dan semua orang di RS Medistra.

Kiranya saudara-saudara kami yang lain yang masih dirawat di seluruh Rumah Sakit, juga bisa beroleh kesembuhan. 

Mari kita dukung upaya apa pun yang bisa melenyapkan Virus Covid 19 dari bumi Indonesia. Salam sejahtera!