Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Ambulans Jenazah Covid-19 Antre di TPU Kalideres


Peristiwa

Ambulans Jenazah Covid-19 Antre di TPU Kalideres

Minggu, 05 April 2020 22:32 WIB
IMG
Ambulans jenazah Covid-19 yang antre. Foto: SPNN

Rayapos | Jakarta - Terpaksa, mobil ambulans pembawa jenazah kasus Covid-19 antre di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Minggu (5/4/2020) siang. Sebab, pemakaman terpusat di situ.

Ambulans tak hanya milik Dinas Pemakaman DKI Jakarta saja, tapi juga ada mobil jenazah milik Sudin Pemakaman Jakarta Utara dan Dompet Dhuafa.

Tiap satu mobil jenazah diikuti minimal oleh satu mobil yang mengangkut para keluarga. 

Beberapa sepeda motor juga ikut membuntuti kendati jumlahnya tak sebanyak pemakaman biasa.

Hingga pukul 15.00 WIB sudah 10 jemazah yang dikuburkan di TPU tersebut.

Mereka yang dimakamkan di sini tak semuanya positif, bahkan ada yang statusnya pasien dalam pemantauan (PDP) atau orang dalam pemantauan (ODP).

Siang itu jumlah kendaraan yang terparkir di area makam lebih ramai ketimbang kendaraan yang melintas di jalanan di depan TPU Tegal Alur.

Lantaran banyaknya jenazah yang harus dimakamkan, mobil jenazah harus antre.

"Sekarang emang lebih banyak yang datang, " ucap seorang petugas makam.

"Hari ini aja (sampai pukul 15.00 WIB) sudah 10 jenazah yang dimakamin," imbuh petugas tadi.

Mobil jenazah yang antre baru diperbolehkan mendekat setelah jenazah yang lebih dulu dimakamkan, sudah diziarahi keluarganya.

Proses pemakaman jenazah dengan protap Covid-19 memang relatif cepat.

Untuk tiap pemakaman berkisar 15 menit.

Petugas makam telah mempersiapkan liang lahat dalam jumlah banyak. 

Jenazah yang datang kondisinya di dalam peti dan dilapisi plastik sehingga tinggal dimasukkan ke dalam liang lahat.

Petugas makam tinggal menguruk tanah. 

Pusara makam bagi para jenazah yang dimakamkan dengan protap Covid-19 tak dilengkapi dengan papan nisan. 

Hanya gundukan tanah saja sebagai tanda bahwa itu adalah makam yang sudah terisi.

Sedangkan para keluarga baru diperbolehkan mendekat setelah lubang makam selesai ditutup.

Mereka harus mengenakan masker dan disemprot disinfektan saat akan mendekati dan setelah dari pusara makam.

"Memang SOP pemakamannya begitu," ucap petugas itu. 

Gali Pakai Eskavator

Petugas yang enggan disebutkan namanya ini mengaku, sejak beberapa hari terakhir jumlah jenazah yang dimakamkan makin banyak ketimbang sepekan lalu.

Bahkan, area makam di Blok AA I untuk jenazah protap Covid-19 sudah semakin melebar hingga ke tempat yang pekan lalu jadi area parkir mobil jenazah.

Saat ini, sudah ada puluhan lubang yang disiapkan untuk memakamkan para jenazah yang dilakukan dengan SOP Covid-19.

"Karena memang jumlahnya makin banyak sekarang," ujarnya.

Adi, petugas makam TPU Tegal Alur, mengatakan proses penggalian lubang makam sejak beberapa hari terakhir ini telah menggunakan ekskavator.

Selain digali menggunakan alat berat, jarak antara makam saat ini juga terlihat lebih pendek dibanding makam umum yang ada di TPU Tegal Alur.

Bila di makam umum jarak antar makam sekira 1,5 meter, maka untuk jarak antar makam jenazah dengan SOP Covid-19 hanya sekira satu meter saja.

Berdasarkan data hingga Minggu (5/4/2020) sore, sudah ada 210 jenazah di TPU Tegal Alur yang dimakamkan dengan SOP Covid-19.

Jumlah tersebut berasal dari 135 jenazah yang dimakamkan di Blok Unit Islam dan 75 jenazah yang dimakamkan di Unit Kristen dan Unit Buddha yang ada di TPU Tegal Alur.

Adi mengatakan, jenazah yang dimakamkan dengan SOP Covid-19 ini tak hanya yang sudah positif Covid-19 atau corona.

"Mereka yang masih berstatus PDP atau ODP juga kita lakukan dengan protokol Covid-19," katanya.

Standy By Sampai Malam

Sejak TPU Tegal Alur dipilih sebagai lokasi pekuburan jenazah pasien Covid-19, petugas makam lebih sibuk dari biasanya.

Asep dan kawan-kawan sudah bersiaga dari pagi hingga pukul 22.00 WIB, untuk memakamkan jenazah.

Di area makam, ada empat lampu tembak yang disangga dua tiang yang tegak di atas sebuah mobil pikap berikut genset sebagai bahan listrik.

Mobil itu stand by di sana, jaga-jaga kalau ada jenazah pasien Covid-19 datang dan harus dimakamkam malam.

"Kita semua siaga menunggu informasi dari Dinas. Biar malam juga kita makamin kalau ada yang dibawa ke sini," imbuh dia.

Menurut Asep, lubang yang digali untuk jenazah karena penyakit menular lebih dalam dan lebih panjang, mengikuti ukuran peti.

Sanur (55), salah satu penggali kubur di TPU Tegal Alur, mengiyakan ucapan Asep.

"Dalamnya dua meter lebih untuk lebih meminimalkan virus, meski sebenarnya jenazah juga sudah aman karena dimasukin peti dan dilapisi plastik," ucap Sanur.

"Kalau panjangnya juga dua meter lebih, kalau lebarnya semeter karena ngikutin ukuran peti," ia menambahkan. 

Sejumlah liang kubur sudah disiapkan petugas di area Blok AA I, karena tidak pernah tahu berapa jenazah yang datang dan dimakamkan hari itu.

TPU Tegal Alur menerima pemakaman untuk jenazah pasien Covid-19 sejak Jumat (20/3/2020).

"Setiap hari kita gali karena ada terus jenazah yang datang untuk dimakamin," cerita Sanur.

Makam jenazah pasien corona berjejer di satu area, hanya gundukan tanah tanpa nisan.

Ada tidaknya nisan, sambung Sanur, tergantung kesepakatan dengan ahli waris atau keluarga.

"Dari Dinas kita terima hanya jenazah saja yang sudah dimasukkan ke dalam peti dan dibungkus plastik," terang dia.

Sampai Jumat sore, ada tujuh liang kubur yang sudah diselesakan Sanur dan teman-temannya sesama penggali kubur.

Jumlah Jenazah Terus Bertambah

Rasa takut, pasti menghinggapi para penggali kubur yang memakamkan jenazah pasien Covid-19.

"Rasa takut pasti ada, tapi kita Lillahi taala karena ini bagian dari tugas," kata Sanur.

Ia mengakui punya tugas baru, tak hanya menggali kubur tapi juga memakamkan jenazah korban virus corona atau Covid-19.

Sanur membenarkan setiap harinya jumlah korban corona yang dimakamkan di TPU Tegal Alur kian bertambah.

Di sela waktu ketika tak ada jenazah yang datang, para petugas makam memanfaatkan untuk menggali liang lahat sebanyak mungkin.

Mereka mengenakan alat pelindung diri (APD) berupa jas hujan plastik, masker, sarung tangan dan sepatu boots.

Asep menambahkan penjelasan rekan kerjanya itu.

Setiap harinya sebelum pulang ke rumah, ia terlebih dahulu berganti pakaian. 

Setibanya di rumah, pakaian bekas ia bekerja langsung direndam. 

Sedangkan jas hujan plastik serta sarung tangan plastik yang ia kenakan saat memakamkan jenazah langsung dibakarnya.

Sebab, keduanya hanya untuk sekali pakai.

"Saya juga langsung mandi. Setelah bersih baru ketemu keluarga karena ngeri juga namanya ada anak istri di rumah," kata Asep.

Baik Sanur dan Asep terus berharap agar tak semakin banyak korban corona yang meninggal serta wabah ini segera berakhir.

"Semoga aja virus ini segera berakhir dan kita semua bisa sehat," ucap Asep. (*)