Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Tanpa Intervensi Pemerintah, Pengidap Corona Bisa 2,5 Juta Orang


Peristiwa

Tanpa Intervensi Pemerintah, Pengidap Corona Bisa 2,5 Juta Orang

Minggu, 29 Maret 2020 11:08 WIB
IMG
Ilustrasi Corona. Foto: ShutterStock

Rayapos | Jakarta – Pandemi Corona jika ditangani pemerintah secara serius, diprediksi, pengidap Corona sekitar 500.000 orang. Jika ditangani asal-asalan, pengidap sekitar 1.750.000 orang. Jika tak ditangani, 2,5 juta orang.

Itu hasil studi Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (FKM UI). Hasil studi analisis ini sudah diserahkan ke pemerintah.

Prediksi tersebut merupakan salah satu bagian dari draf ‘COVID-19 Modelling Scenarios, Indonesia’, disusun FKM UI 27 Maret 2020, ditujukan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

“Kita diminta oleh Bappenas,” kata pakar epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, kepada wartawan, Minggu (29/3/2020).

Pandu Riono adalah salah satu anggota tim penyusun draf ‘COVID-19 Modelling Scenarios: Indonesia’. Dia Doktor epidemiologi, lulusan University of California, Los Angeles, AS.

Selain dia, ada Iwan Ariawan, Muhammad N Farid, dan Hafizah Jusril.

Di Indonesia, Minggu (29/3/2020) hari ini, sudah ada 1.155 kasus positif COVID-19, 102 kasus di antaranya berakhir dengan kematian.

Kasus-kasus itu bukan sekadar angka, tapi merupakan jumlah manusia.

Angka itu bisa meningkat berlipat-lipat bila tak ada intervensi tingkat tinggi dari pemerintah untuk menanggulangi penyebaran COVID-19.

Berikut adalah jenis-jenis intervensi yang dilakukan terhadap penularan COVID-19 yang dimaksud Tim FKMUI:

  1. Tanpa intervensi
  2. Intervensi rendah: jaga jarak sosial secara sukarela, membatasi kerumunan massa
  3. Intervensi moderat: tes massal cakupan rendah, mengharuskan jaga jarak sosial (penutupan sekolah/bisnis)
  4. Intervensi tinggi: tes massal cakupan tinggi, mewajibkan jaga jarak sosial

Berdasarkan jenis-jenis intervensi di atas, termasuk jenis yang manakah penanganan pemerintah Indonesia terhadap COVID-19 saat ini?

“Yang sekarang hanya ada imbauan. Jadi, antara tanpa intervensi dan intervensi rendah,” kata Pandu Riono.

Tim FKMUI menjelaskan, tiap 1 kasus positif COVID-19 (satu orang) bisa menginfeksi setidaknya 2 orang lainnya.

Mereka telah membuat prediksi. Indikator yang digunakan adalah jumlah penduduk Indonesia adalah 268 juta.

Dari jumlah penduduk tersebut, 52,9% populasi tinggal di wilayah urban; 14,8% tinggal di rumah kurang dari 8 meter persegi.

Angka terjadinya pneumonia (penyakit radang paru-paru) adalah 1,3 per 1.000 orang; 28,2% penduduk bepergian; 50,2% mencuci tangan dengan cara tidak benar. Berikut adalah prediksinya.

Prediksi Jumlah total kumulatif kasus COVID-19 di Indonesia menurut beberapa intervensi:

  1. Tanpa intervensi: +/- 2.500.000 orang berpotensi terjangkit COVID-19
  2. Intervensi rendah: +/- 1.750.000 orang berpotensi terjangkit COVID-19
  3. Intervensi moderat: +/- 1.250.000 orang berpotensi terjangkit COVID-19
  4. Intervensi tinggi: +/- 500.000 orang berpotensi terjangkit COVID-19

Prediksi tersebut diasumsikan terjadi pada hari ke-77.

Tim menggunakan patokan hari ke-1 pada pekan pertama Februari 2020 alias lebih awal dari pengumuman kasus pertama oleh Pemerintah Indonesia (2 Maret 2020).

Soalnya, data yang diperoleh dari rumah sakit di Indonesia sudah menunjukkan adanya peningkatan kasus pneumonia dan gejala mirip COVID-19 sejak pekan pertama Februari.

Itu adalah prediksi total kumulatif kasus positif COVID-19.

Berikut adalah prediksi efek terhadap kematian berdasarkan tingkat intervensi yang diterapkan pemerintah terhadap kondisi wabah ini.

Estimasi jumlah kematian kumulatif akibat COVID-19 di Indonesia:

  1. Tanpa intervensi: 240.244
  2. Intervensi redah: 144.266
  3. Intervensi moderat: 47.984
  4. Intervensi tinggi: 11.898

Dengan prediksi ini, bukan menakut-takuti. Tapi, agar pemerintah dan masyarakat semua tidak kaget. Karena ini analisis akademik dari UI. (*)