Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Gatot Gaungkan Salat Jamaah di Tengah Corona, MUI Melarang


Peristiwa

Gatot Gaungkan Salat Jamaah di Tengah Corona, MUI Melarang

oleh. Djono W. Oesman- Rabu, 18 Maret 2020 16:59 WIB
IMG
Kantor Majelis Ulama Indonesia

Rayapos | Jakarta – Pernyataan eks Pamglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo yang menggaungkan makmurkan masjid dan salat berjamaah di tengah wabah Corona, dibalas Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa Islam agama rasional.

Wasekjen MUI, Misbahul Ulum awalnya menanggapi pernyataan Gatot yang menyebut di China banyak orang yang bukan beragama Islam, ramai-ramai mendatangi masjid dan belajar wudu hingga ikut salat berjemaah.

Menurutnya, itu perlu didalami lagi apakah benar atau tidak.

Misbahul Ulum kemudian bicara soal ajakan Gatot agar umat Islam tetap memakmurkan masjid dan salat berjemaah di tengah wabah Corona.

Misbahul Ulum mengatakan, Islam adalah agama yang rasional.

“Kita memang lari dari taqdir, tapi menuju taqdir yang lebih baik, kan seperti itu. Jadi pandangan MUI sebagaimana terdapat dalam fatwa itu sangat rasional dan tidak dalam rangka menjawab pandangan orang per orang,” katanya saat dihubungi wartawan via telepon, Rabu (18/3/2020).

“Jadi, Nabi pernah menyampaikan kalau ada wabah di suatu tempat, orang luar dilarang masuk, dan orang dalam tidak boleh keluar.”

“Nabi memberi penghargaan kepada orang yang meninggal di daerah terjangkit wabah sebagai orang yang mati syahid, dan itu tidak berarti kita disuruh masuk ke daerah dimaksud agar mati syahid, tidak demikian,” sambungnya.

Lanjut Misbahul, MUI sangat menghargai setiap pandangan, termasuk pandangan soal aspek kesehatan dan lainnya.

Namun dia juga mengingatkan bahwa Arab Saudi sendiri memberlakukan aturan yang ketat soal menghadapi virus COVID-19 ini.

Dia tetap meminta masyarakat mengikuti fatwa MUI dan juga arahan pemerintah.

“Kita mengharapkan dengan adanya adanya fatwa MUI, imbauan dari pemerintah daerah setempat, kita itu semakin peduli terhadap itu,” katanya.

Dilanjut: “Karena dari pandangan Islam kita itu tidak boleh dalam bahaya dan membahayakan orang lain.”

“Kita umpamanya sehat, terus di daerah merah misalnya kemudian kita pergi ke masjid, menurut pandangan kita bisa jadi membahayakan kepada kita tapi bisa jadi kita justru membahayakan orang lain yang kebetulan mungkin imunnya rendah, kecapekan dan lain-lain.”

“Di dalam Islam itu kita tidak boleh dizalimi dan menzalimi istilahnya, tidak boleh menzalimi diri sendiri dan tidak boleh menzalimi orang lain. Seperti itu,” paparnya.

Presiden Jokowi Anjurkan Social Distance

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri telah meminta masyarakat melakukan social distance guna mencegah penularan virus Corona atau COVID-19. Hal itu disampaikan Jokowi pada Minggu (15/3/2020) lalu.

Jokowi juga meminta masyarakat tidak panik. Kegiatan yang biasa dilakukan di luar, seperti bekerja, belajar, hingga beribadah, bisa dilaksanakan di dalam rumah.
Masyarakat juga diminta menjauhi tempat-tempat keramaian, seperti mal, dan tempat wisata.

Di DKI Jakarta sendiri, Pemprov juga menutup sementara tempat wisata, seperti Monas dan Ragunan.

“Saat ini yang penting social distance, menjaga jarak. Dengan kondisi itu, kita kerja dari rumah, belajar dan ibadah di rumah,” ujar Jokowi. (*)