Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
LUAR BIASA, Inilah Manfaat Virus Corona


Peristiwa

LUAR BIASA, Inilah Manfaat Virus Corona

Minggu, 01 Maret 2020 11:28 WIB
IMG
UDARA CHINA BERSIH. Foto badan antariksa AS, NASA dan Badan Antariksa Eropa, menggunakan satelit pemantau polusi melacak penurunan kadar nitrogen dioksida selama dua bulan terakhir di daratan China. Foto ini diambil Januari 2020 saat baru terjadi wabah Virus Corona dan Februari 2020 setelah pemerintah melarang warga keluar rumah. Foto: DailyMail

Rayapos | Jakarta - Virus corona musibah. Tapi ada hikmah di balik musibah. Paling tidak, gegara adanya virus corona, udara di China bersih dari polusi. Ini hasil pantauan lembaga antariksa AS, NASA.

Dilansir dari DailyNews, foto satelit NASA menunjukkan fakta menakjubkan, polusi di China benar-benar bersih setelah krisis corona.

Polusi di China benar-benar bersih setelah negara ini terkena wabah Virus Corona. 

Larangan keluar rumah di China yang dilakukan pemerintah terhadap warganya benar-benar efektif.

Gambar-gambar satelit yang luar biasa menunjukkan bagaimana polusi telah membersihkan China secara signifikan, karena wabah virus corona.

Warga negara China atau mereka yang tinggal di negara China, dipaksa pemerintah bertahan di dalam ruangan dan sejumlah pabrik terpaksa ditutup.

NASA dan Badan Antariksa Eropa telah menggunakan satelit pemantauan polusi untuk melacak penurunan kadar nitrogen dioksida selama dua bulan terakhir.

Perbedaan konsentrasi nitrogen dioksida terungkap dalam dua peta yang dirilis oleh badan antariksa.

Yang pertama menunjukkan konsentrasi gas yang besar di Beijing dan Shanghai dalam tiga minggu pertama Januari. Itu sebelum karantina diberlakukan.

Kondusi polusi di China pada bulan Januari 2020 bisa dilihat pada foto di atas.

Peta kedua dalam tiga minggu terakhir bulan Februari 2020 mengungkapkan perbedaan yang mengejutkan.

Bersih. Hampir tidak ada nitrogen dioksida yang terlihat setelah China memberlakukan penguncian di Wuhan dan kota-kota lain di provinsi Hubei dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran virus.

Warga negara diimbau atau bahkan ada yang dilarang untuk tidak keluar rumah.

Para ilmuwan pertama kali memperhatikan perbedaan di sekitar Wuhan, China, pusat virus.

Pemerintah China menutup transportasi masuk dan keluar kota Wuhan serta menutup bisnis untuk mengarantina wabah Virus Corona.

Nitrogen dioksida adalah gas berbahaya.

Nitrogen dilepaskan selama pembakaran bahan bakar dan dipancarkan oleh mobil, pembangkit listrik dan fasilitas industri.

Itu terbentuk ketika bahan bakar fosil seperti batu bara, gas atau diesel dibakar pada suhu tinggi dan dapat menyebabkan berbagai efek berbahaya pada paru-paru.

Nitrogen dioksida juga dapat meningkatkan peradangan pada saluran udara dan risiko serangan asma yang lebih besar.

Peneliti kualitas udara di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard Space NASA, Fei Liu (kebetulan keturunan China) mengatakan: 

"Ini adalah pertama kalinya saya melihat penurunan dramatis di area seluas itu untuk acara tertentu."

Penurunan nitrogen dioksida juga bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek di seluruh China.

Saat itu bisnis tutup dari minggu terakhir Januari hingga awal Februari untuk merayakan festival.

Tetapi kata Liu, tingkat pengurangan lebih signifikan tahun ini karena telah bertahan lebih lama dan belum ada peningkatan nitrogen dioksida setelah Tahun Baru Imlek.

Enam peta tambahan yang berfokus pada Wuhan mengungkapkan konsentrasi nitrogen dioksida selama tiga periode termasuk sebelum Tahun Baru Imlek, selama perayaan dan setelah perayaan pada 2019 dan 2020.

Sementara ada penurunan drastis dalam tingkat nitrogen dioksida dalam 12 bulan, ilmuwan NASA, Barry Lefer menambahkan:

Betapa, peraturan lingkungan baru yang ditegakkan oleh otoritas China selama beberapa tahun terakhir telah berkontribusi, menurut Fox News.

Sebelumnya, Pencemaran Parah

Sebelumnya diberitakan, kondisi udara yang tercemar membuat tingkat polusi di China mengalami kenaikan.

Konsentrasi rata-rata partikel udara PM 2.5 yang ada di China, naik 5,2 persen pada Januari-Februari 2019.

Dilansir dari Reuters, berdasarkan survei Kementerian Ekologi dan Lingkungan, naiknya polusi udara PM 2.5 ditandai dengan kondisi konsentrasi partikel udara di China, yakni 61 mikrogram per meter kubik.

Selain itu, dari 337 kota di China, tercatat sebanyak 83 kota saja yang mencapai standar nasional konsentrasi udara sebesar 35 mikrogram.

Sementara itu, tingkat polusi PM 2.5 yang terjadi di 28 kota di wilayah pengendalian pencemaran utama Beijing-Tianjin-Hebei mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Angkanya naik sebesar 24 persen menjadi rata-rata 108 mikrogram per meter kubik selama Januari-Februari 2019.

Adapun angka ini 10 kali lebih besar dari angka yang direkomendasikan aman oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Artinya, parah.

Kemudian, tingkat PM2.5 di kota di Dataran Fenwei yang dikenal sebagai zona kontrol asap utama juga mengalami lonjakan angka polusi udara sebesar 26,6 persen.

Angka polusi mencapai 119 mikrogram per meter kubik dalam periode tersebut.

Maka, Pemerintah China memaksa kota-kota utara yang rawan kabut asap untuk menerapkan pembatasan emisi khusus pada Oktober 2018 hingga Maret 2019.

Upaya ini guna mengimbangi meningkatnya tingkat pembakaran batu bara dari sistem penghangat negara selama musim dingin yang juga merupakan target negara di tahun ini.

Sebelumnya, Pemerintah China menyalahkan kondisi kualitas udara yang buruk selama dua bulan itu.

Mereka mengatakan bahwa efek El Nino yang lemah, peningkatan suhu dan kelembaban telah membuat lebih sulit untuk menyebarkan emisi. Maksudnya, emisi tidak berpindah oleh angin.

Meskipun dengan kondisi kualitas udara yang buruk, mau tidak mau, masyarakat berupaya agar tidak gagal memenuhi target.

Kementerian telah berjanji untuk menindak daerah yang gagal memnuhi target, namun belum tahu hukuman apa yang akan mereka hadapi.

Provinsi Hebei dan Shanxi, di mana termasuk delapan kota berkabut di China, telah membentuk sistem "reward and punishment".

Daerah yang memiliki kinerja terburuk nantinya harus membayar denda ke daerah-daerah yang telah melakukan hal terbaik.

Pada Rabu (20/3/2019), Provinsi Hebei menerbitkan daftar 14 distrik yang gagal memenuhi target negara di tahun 2018, termasuk zona industri utama di Tangshan, kota penghasil baja terbesar di China.

Berdasarkan informasi dari Pemerintah Provinsi, kepala daerah dari 14 distrik tersebut dipanggil ke Biro Perlindungan Lingkungan Provinsi untuk menerima kritik publik. 

Hikmah Corona

Tapi, sekarang China sudah bersih dari polusi. Gegara virus corona.

Jadi, musibah corona mendatangkan manfaat bersihnya udara. Apakah perlu virus corona terus tetap ada? (*)