Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Banjir Underpass Kemayoran Masih 90 Cm


Peristiwa

Banjir Underpass Kemayoran Masih 90 Cm

Minggu, 01 Maret 2020 09:55 WIB
IMG
Banjir di Underpass Kemayoran, Jakarta Pusat

Rayapos | Jakarta - Banjir Jakarta benar-benar tak teratasi. Sampai Minggu (1/3/2020) pagi ini kedalaman banjir di Underpass Kemayoran, Jakarta Pusat, masih sekitar 90 sentimeter. 

Dan, sepanjang tahun 2020 ini di situ selalu tenggelam dengan kedalaman bukan lagi sentimeter, melainkan meter. Terparah, rekornya, pada Selasa (25/2/2020) lalu kedalaman 7 meter.

Pengendali Grup D Sektor Kemayoran, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, Suroto, di Underpass Kemayoran, Jakpus, Minggu (1/3/2020) pagi mengakui:

"Diperkirakan masih 90 cm ya." 

Untuk pekan lalu sampai akhir pekan ini, banjir di situ memasuki hari ke-5. 

Pagi ini di lokasi, petugas Damkar menyediakan tiga pompa untuk menyedot genangan air. Sementara ada dua pompa lagi dari PPK Kemayoran yang segera diluncurkan ke lokasi banjir.

Pastinya, Underpass Kemayoran sampai saat ini belum bisa dilalui kendaraan. Akses dari lokasi menuju Jalan HBR Motik arah Sunter, masih ditutup garis polisi.

Rencananya akan dilakukan pembilasan setelah air benar-benar surut. Ada 20 personel damkar yang saat ini bersiap. 

Jika tidak ada hujan, proses pembersihan underpass Kemayoran diperkirakan selesai malam hari ini.

"Kalau nggak hujan lagi malam lah (selesai)," ujar Suroto.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan, banjir yang sering merendam underpass Kemayoran, Jakpus, akibat sistem drainase yang tidak terancang.

Tanpa perencanaan, tanpa rancangan.

Kasubdit Perencanaan Direktorat Sungai dan Pantai, PUPR, Bambang Heri Mulyono di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Jumat (28/2/2020) mengatakan:

"Setiap hujan besar, terkena banjir. Hal ini terjadi sampai sekarang karena underpass Kemayoran tidak dirancang permukiman."

"Awalnya ini adalah bandar udara. Sistem drainase di situ belum direncanakan untuk permukiman."

"Sekarang rumah permukiman. Kalau terjadi hujan, seluruh air masuk ke wilayah tersebut," Memprihatinkan. (*)