Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Problem Cinta, Terjun dari Flyover Senen, Mati


Peristiwa

Problem Cinta, Terjun dari Flyover Senen, Mati

Selasa, 18 Febuari 2020 14:41 WIB
IMG
Ilustrasi

Rayapos | Jakarta - Peristiwa mengejutkan terjadi Senin (17/2/2020) tadi malam. Pemuda inisial AR (27) cekcok dengan pacarnya, NRA, lalu AR terjun dari flyover Senen, Jakarta Pusat.

Jasadnya dilarikan ke RS St Carolus. Tapi, kemudian dia meninggal. Kepalanya pecah.

Kapolsek Senen, Kompol Ewo Sarwono. mengatakan, peristiwa tersebut terjadi Senin (17/2/2020) pukul 18.45 WIB.

"Benar kejadian semalam, informasi yang dapat setelah di rumah sakit," kata Kompol Ewo, Selasa (18/2/2020).

Ewo menerangkan, berdasarkan keterangan beberapa saksi di lokasi, korban berada di atas flyover Senen.

Setibanya disana, AR bersama kekasihnya, NRA terlibat keributan.

Bahkan, korban sempat mengancam bakal bunuh diri. Seketika itu, korban berhenti berjalan dan menaiki pembatas flyover.

Melihat hal itu, kekasih korban sempat memegangi korban agar tidak jatuh.

"Namun korban melepaskan diri dan melompat ke bawah," terang Ewo.

Setelah jatuh, AR sempat dilarikan ke RS Saint Carolus, Salemba, Jakarta Pusat.

Namun, setelah mendapat perawatan intensif, nyawa korban tidak dapat diselamatkan lantaran mengalami pendarahan di bagian kepala.

Orang dengan problem kehidupan, memang bisa bunuh diri. Apa dan bagaimana itu bisa terjadi?

Dikutip dari hellosehat.com, berikut penyebab seseorang bunuh diri:

1. Depresi

Depresi adalah penyakit mental. Gejalanya agak sulit dikenali atau disadari.

Kadang, seseorang menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Tapi ia tidak tahu cara keluar dari masalah itu.

Begitu juga, ketika seseorang murung dan selalu menutup diri, kadang orang-orang mengira itu adalah kepribadiannya. 

“Mungkin ia pemalas”, misalnya, atau muncul asumsi bahwa mungkin ia sedang sedih.

Depresi membuat seseorang berpikir tidak rasional. Seolah tidak ada lagi yang menyayangi dirinya. ‘Hidup selalu seperti ini’, atau bahkan ‘hidup ini tidak akan terpengaruh jika tidak ada aku’.

Pemikiran-pemikiran keliru seperti itu yang membuat orang depresi, enggan melakukan sesuatu, bahkan tidak lagi ingin hidup.

Orang yang mengalami depresi akan menjadi tertutup, sehingga jika seseorang memiliki gejala ingin bunuh diri, orang sekitarnya pun akan kesulitan menyadarinya. 

Kita tidak tahu seberapa berat masalah yang sedang ia hadapi, apa yang ada dalam pikirannya.

2. Impulsif

Ini berarti melakukan sesuatu berdasarkan dorongan hati (impulse). Impulsif memang tidak sepenuhnya buruk. Ada sisi baiknya.

Orang-orang impulsif dapat melakukan kemajuan dengan cepat, dan spontanitasnya baik. 

Tetapi orang yang impulsif biasanya menjadi ceroboh dan cenderung nekat.

Yang terburuk adalah ketika pikiran negatif datang, ia bisa saja spontan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.

Misal, mabuk-mabukan. Atau menyayat tangannya secara tiba-tiba. Begitu juga dengan keinginan bunuh diri yang tiba-tiba muncul karena dorongan hati.

3. Masalah sosial

Ada beberapa orang yang berniat tidak ingin bunuh diri. Tapi akhirnya ia meninggal secara tidak sengaja karena ulahnya sendiri.

Contohnya, ketika seorang remaja memiliki masalah dengan keluarga atau hubungan pertemanannya. Bisa juga korban bullying. 

Lalu untuk mendapatkan perhatian atau menyerang balik orang yang membuatnya sedih, ia akhirnya meminum alkohol, dicampur obat tidur sehingga mengakibatkan kematian.

Orang-orang yang tidak memiliki dorongan bunuh diri, sebenarnya hanya butuh pertolongan, tetapi ia tidak mampu menahannya. 

Ia berpikir dengan berbuat hal sembrono dapat menyadarkan orang-orang yang menyakitinya.

Menganggur, juga jadi faktor orang bunuh diri. Semua orang hidup dalam dunia kompetisi. Bersantai-santai di rumah malah bisa memicu stres.

Ini karena kita akan membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, ditambah membeli kebutuhan hidup yang tak mudah.

Orang yang baru ke luar dari penjara juga berisiko, karena ketidakmampuan untuk kembali ke kehidupan sosial. 

Adaptasi yang tidak mudah membuat seseorang memiliki ketahanan mental yang rendah.

4. Filosofi tentang kematian

Filosofi kematian, relatif. Ada istilah “orang yang bunuh diri, bukan ingin mengakhiri hidupnya, tapi ingin mengakhiri rasa sakit yang dirasakan.”

Rasa sakit di sini bisa mengacu pada rasa sakit yang disebabkan oleh penyakit yang tidak bisa disembuhkan. 

Orang-orang seperti ini tidak dalam keadaan depresi. 

Mereka melihat tidak adanya peluang untuk hidup, sehingga memilih takdirnya sendiri dengan mempercepat rasa sakit tersebut.

5. Sakit mental lainnya

Studi Psychological Autopsy menemukan bahwa dalam kasus bunuh diri ditemukan adanya satu atau lebih diagnosis sakit mental pada 90 persen orang yang bunuh diri.

Juga ditemukan satu dari dua puluh orang yang menderita skizofrenia mengakhiri hidupnya. 

Kasus bunuh diri juga ditemukan pada kelainan kepribadian seperti antisosial, borderline, dan narcissistic personality disorder.

Faktor lainnya yang harus diwaspadai adalah:

- Pengalaman buruk

Trauma yang terjadi pada masa kecil dapat terkonsep pada alam bawah sadar kita, sehingga ada kesulitan untuk keluar dari ketakutan tersebut.

Trauma tersebut akan menghambat seseorang, bahkan jika seseorang tidak sanggup memaafkan diri sendiri atas hal buruk yang terjadi padanya. 

Dampak fatalnya, ia berisiko bunuh diri.

Faktor keturunan juga bisa menyebabkan seseorang melakukan bunuh diri. 

Jika ada keluarga Anda yang memiliki riwayat bunuh diri, Anda perlu melatih afirmasi positif ketika memiliki masalah berat atau dalam keadaan apa pun, tetaplah berpikir positif.

Tanda seseorang yang ingin bunuh diri bisa diamati jika ada perubahan prilaku yang terjadi pada keluarga atau kerabat Anda. 

Bisa jadi ia tak mampu menghadapi permasalahannya dan sedang membutuhkan pertolongan.

Ada beberapa tanda seseorang ingin bunuh diri, seperti:

- Selalu berbicara dan berpikir tentang kematian

Melakukan tindakan yang mengantar pada kematian, seperti menyetir ugal-ugalan, melakukan olahraga ekstrem tanpa berhati-hati, atau mengonsumsi dosis obat berlebihan.

- Kehilangan minat pada hal yang ia sukai

- Berbicara atau memposting sesuatu dengan kata-kata yang kelam, seperti tidak ada harapan dan merasa tidak berharga.

- Mengatakan sesuatu yang menyalahkan dirinya seperti ‘ini semua tidak akan terjadi jika aku tidak ada di sini’ atau ‘mereka akan lebih baik tanpa diriku’.

- Perubahan suasana hati yang drastis, dari sedih bisa tiba-tiba merasa bahagia.

- Berbicara tentang kematian dan bunuh diri.

- Mengucapkan selamat tinggal pada seseorang, padahal ia tak ada rencana pergi ke mana-mana.

- Depresi berat yang membuatnya memiliki gangguan tidur.

Bagaimana cara menanganinya?

Setiap masalah pasti ada solusinya, seberat apa pun itu, permasalahan juga pasti akan berakhir.

Yang perlu Anda lakukan jika Anda atau kerabat Anda mengalami tanda-tanda ingin bunuh diri, adalah:

Mencari bantuan profesional, kunjungi terapis, dan berkumpul dengan orang-orang yang positif dan suportif.

Selalu ingat, bahwa hidup memang sementara, permasalahan Anda pun hanya sementara tanpa harus mengakhiri hidup Anda. 

Setiap individu di muka bumi ini berharga dan bisa memiliki peran yang baik, yang terpenting jangan pernah menyerah.

Jika kerabat Anda yang mengalaminya, Anda harus menjadi pendengar yang baik, coba bujuk untuk pergi ke terapis, tetapi jangan beradu argumen tentang kematian atau bunuh diri. 

Orang yang sedang memiliki masalah berat, cenderung tidak berpikir rasional. Terus berikan semangat.

Obat yang dipakai sebagai pengobatan adalah antidepresan, namun Anda harus berkonsultasi dahulu ke dokter sebelum menggunakannya. 

Beberapa studi menunjukan bahwa neurobiologi bunuh diri disebabkan oleh neurotransmitter serotin, yang memainkan peran sentral pada setiap keinginan bunuh diri. (*)