Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Contoh, eks ISIS Minta Pulang ke Inggris


Peristiwa

Contoh, eks ISIS Minta Pulang ke Inggris

Sabtu, 08 Febuari 2020 16:40 WIB
IMG
Shamima Begum. Foto: AFP
Rayapos | London - Wanita eks WN Inggris, Shamima Begum (20) mantan jihadis ISIS, memohon kembali ke Inggris. Sedangkan Kewarganegaraan Inggris dia sudah dicabut sejak tahun lalu.

Dikutip Rayapos dari Kantor Berita AFP, Sabtu (8/2/2020), Komisi Banding Imigrasi Khusus Inggris, SIAC, Jumat (7/2/2020) waktu setempat memutuskan, menolak permohonan Shamima Begum.

Hakim Doron Blum merujuk statement Menteri Dalam Negeri Inggris, Sajid Javid (Mendagri Inggris pertama yang beragama Islam), seperti dilansir AFP, Sabtu (8/2/2020) mengatakan:

"Pemohon banding (Shamima Begum) berada dalam situasi itu sebagai akibat dari pilihannya sendiri, dan tindakan orang lain. Tapi bukan karena apa yang telah dilakukan Menteri Dalam Negeri Inggris." 

SIAC juga menyatakan, Shamima Begum merupakan warga negara Bangladesh berdasarkan azas keturunan.

Maka, dia dipersilakan Inggris tetap memiliki kewarganegaraan (Bangladesh) meski status kewarganegaraan Inggris-nya dicabut.

Atas putusan ini, pengacara Begum, Daniel Furner menyatakan akan segera mengajukan banding.

Shamima Begum berumur 15 tahun ketika meninggalkan Inggris untuk bergabung dengan ISIS di Suriah pada 17 Februari 2015. 

Dia adalah satu dari tiga pelajar asal Bethnal Green, Inggris, di sebelah timur London yang berangkat ke Suriah untuk bergabung ISIS.

Begum yang sempat dijuluki sebagai 'Pengantin ISIS" itu mengklaim bahwa setelah tiba di wilayah Suriah yang dikuasai ISIS, dirinya menikah dengan seorang anggota ISIS asal Belanda. 

Keberadaannya diketahui pers setelah dia ditemukan di sebuah kamp pengungsi Suriah pada Februari 2019. Saat itu dia sedang hamil 9 bulan. 

Bayinya meninggal setelah dilahirkan. Dua anaknya yang lain juga telah meninggal di Suriah.

Kepada awak media, Shamima Begum terang-terangan berharap untuk bisa kembali ke Inggris. 

Kasus Begum memicu perdebatan panas di kalangan netizen. 

Banyak yang menentang rencana kepulangan Begum ke Inggris. Bahkan publik makin berang ketika Shamima Begum menyatakan tidak menyesali keputusannya bergabung dengan ISIS. 

Bahkan dia tidak mengutuk serangan bom di Manchester Arena pada Mei 2017 serta menyebutnya "pantas" sebagai tindakan balas dendam atas serangan udara terhadap ISIS.

Sampai akhirnya Sajid Javid yang ketika itu menjabat Menteri Dalam Negeri Inggris, mencabut kewarganegaraannya, pada Februari 2019.

Shamima Begum pun mengambil langkah hukum terhadap Kantor Dalam Negeri Inggris pada tahun 2019. 

Pengacaranya berdalih bahwa kliennya tidak dianggap sebagai warga negara Bangladesh dan karena itu menjadi tidak memiliki kewarganegaraan (stateless) akibat tindakan Kementerian Dalam Negeri Inggris.

Hukum internasional menyatakan, larangan untuk membuat seseorang "stateless" dengan mencabut kewarganegaraannya. 

Tanpa kewarganegaraan, kehidupan seseorang di era modern hampir tak bisa dijalani dengan normal.


Siapakah Shamima Begum?

Dikutip Rayapos dari DailyMail, dia dilahirkan di London dari orang tua keturunan Bangladesh.

Shamima Begum bersekolah dasar di Bethnal Green, London. Sekolah ini banyak dipuji dalam kedisplinan siswa-siswi. Juga menonjol di bidang kesenian.

Shamima Begum melanjutkan pendidikan menengah di Bethnal Green Academy. Artinya, di situ juga.

Mendadak, pada Februari 2015, Shamima Begum bersama dua teman sekolahnya, Amira Abase dan Kadiza Sultana meninggalkan Inggris.

Menghilangnya tiga siswi itu segera dilacak polisi. Kemudian ketahuan, bahwa mereka sudah terbang ke Turki. Lantas menuju Suriah. 

Hasil penyelidikan polisi setempat, ketiga gadis remaja itu bergabung ke ISIS.

Keluarga Begum bersedih. Memohon kepada pemerintah setempat, agar Begum bisa dipulangkan ke Inggris. Tapi pemerintah tidak bisa melakukan itu.

Sekretaris Bethnal Green Academy, Nicky Morgan, mewakili sekolah Shamima Begum, pada Februari 2015 menyatakan, pihak sekolah hanya bisa berdoa, agar tiga siswi itu pulang kembali.

Dari hasil liputan pers, diketahui, Shamima Begum memang tinggal Suriah. 

Pada akhir Februari 2015, atau sekitar sepuluh hari sejak dia tinggal di Suriah, langsung dinikahi Yago Riedijk yang usianya delapan tahun lebih tua dari Begum.

Yago Riedijk adalah bule kelahiran Belanda. Dia eks Warga Negara Belanda yang telah masuk Islam dan masuk Suriah pada Oktober 2014, atau beberapa bulan sebelum Begum. 

Pernikahan Yago Riedijk-Shamima Begum dikaruniai tiga anak. 

Anak pertama dan kedua meninggal saat masih bayi, karena kedua orang tuanya sibuk jadi pejuang ISIS.

Lahir lagi anak ketiga laki-laki, pada Februasi 2019. Saat itu sang anak lahir di kamp pengungsi, karena ISIS sudah sangat terdesak oleh tentara PBB. 

Anak Begum ini meninggal juga pada Maret 2019. Sementara, suaminya tidak diketahui keberadaannya, karena sama-sama melarikan diri dari kejaran musuh.

Peran Mematikan

Dikutip Rayapos dari media massa Inggris, The Daily Telegraph bahwa Begum bertugas di "polisi moral" ISIS.

Tugasnya, antara lain, merekrut wanita asing (selain Suriah) untuk bergabung ke ISIS. Dia aktif melakukan promosi ISIS kepada wanita Inggris.

Tugas itu dinilai ISIS: Sukses. Kemudian Shamima Begum diberi hak membawa senapan Kalashnikov (buatan Rusia). Dilatih militer. Dan, dibolehkan membunuh siapa saja yang disebut Musuh Islam.

Tugas Shamima Begum lainnya, adalah mengawasi pakaian para wanita ISIS. "Harus tertutup rapat," tulis The Daily Telegraph. Jika tidak, ditembak mati.

Dikutip dari media massa The Independent, karir Shamima Begum di ISIS, cemerlang. Dia dinilai: Raja Tega.

Salah satu karya Shamima Begum adalah mendisain pakaian bomber bunuh diri. Khususnya rompi. Tempat bom dipasang.

Ketika seorang anggota ISIS dijadikan bomber bunuh diri, langsung dipakaikan rompi buatan Shamima Begum itu.

Pada saat rompi sudah dikenakan 'sang pengantin' (pelaku bom bunuh diri, bisa pria - wanita) maka dia tidak bisa berubah pikiran lagi. Harus maju.

Sebab, kancing rompi dirancang khusus. Jika dibuka, bom langsung meledak. (*)