Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Ahok di Pertamina, Banjir Bunga


Peristiwa

Ahok di Pertamina, Banjir Bunga

Rabu, 27 November 2019 10:33 WIB
IMG
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menerima SK sebagai Komisaris Utama Pertamina, di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta Pusat, Senin (25/11/2019).

Rayapos | Jakarta - Puluhan karangan bunga membanjiri kantor pusat PT Pertamina (Persero), Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Selasa (26/11/2019) pagi.

Itu merupakan ucapan kepada Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok atas terpilihnya sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (persero).

Hingga pukul 10.00 pagi ini, karangan bunga terus berdatangan. Tepatnya di depan ruangan Dewan Komisaris.

Di depan ruangan itu terdapat kurang lebih 10 karangan bunga. Sementara karangan bunga lainnya berada di sudut-sudut kantor Pertamina lainnya.

Salah satu pegawai yang duduk di ruangan resepsionis tampak baru saja menerima karangan bunga pada pukul 10.00

Ia menandatangani nota terima barang dari petugas pengirim karangan bunga tersebut.

"Sudah dari Senin kemarin banyak karangan bunga yang datang. Ucapan buat Pak Ahok. Mungkin sudah sampai puluhan lebih ya," kata pegawai wanita usai menerima karangan bunga itu.

Tertulis beberapa pengirim seperti Komunitas Dokter Peduli Bangsa, Sahabat Indonesia Maju, Direksi PT Elnusa Tbk, Bank BRI, ITBS Corporation Tokyo-Japan, Sahabat Pancasila Untuk Jokowi, hingga dari Band BTP.

"Pak BTP, Keep Shining Latihan Nyanyi Terus Yah Pak Bareng Kita Band BTP," tertulis karangan bunga dari Band BTP tersebut.

Karangan bunga itu umumnya berukuran kurang lebih 2x2 meter.

Namun terdapat karangan bunga paling besar berukuran 2x4 meter. Berasal dari Ketua Umum dan Pembina Rejo.

Ahok juga mengikuti agenda perdana sejak resmi menjadi Komisaris Utama Pertamina.

Ahok juga mengunjungi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekitar pukul 13.00 WIB.

Saat acara diskusi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengungkap lima pekerjaan rumah (PR) perusahaan yang harus segera diselesaikan. Nicke berbicara hal tersebut di depan Ahok.

Selama Nicke berpidato, Ahok terlihat serius dan sesekali tersenyum.

Nicke awalnya menjelaskan terkait ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri yang masih dipenuhi impor.

"Sejujurnya, kami masih harus sebagian impor karena belum mampu mencukupi kebutuhan sendiri," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Nicke juga menyinggung mengenai infrastruktur minyak nasional dan kebutuhan energi untuk 70 ribu desa di Indonesia yang belum terjangkau.

Nicke juga menuturkan kebijakan BBM Satu Harga sedang diterapkan. Tetapi, itu pun belum menyeluruh ke wilayah-wilayah di Indonesia.

Lanjut Nicke, penerimaan sumber energi. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan target kombinasi energi sebesar 23 persen dari energi terbarukan.

Pemerintah sudah melangsungkan kebijakan pencampuran minyak nabati pada BBM alias biodiesel. Namun, itu pun belum cukup.

Begitu pula dengan penggunaan energi dan panas bumi lainnya.

"Artinya, kita harus mencari sumber energi terbarukan. Kita lihat CPO terdapat banyak di Sumatera, maka perlu bangun bio refinery di sana. Lalu, batu bara di Sumatera Selatan, maka bangun coal grasifikasi di sana," ujar Nicke.

Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari mengkritik ucapan Ahok saat hari pertamanya menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina. Candaan Ahok tersebut membuat Qodari khawatir.

Qodari bahkan meminta agar Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina cukup bekerja saja, tanpa harus bicara.

Ia menilai bahwa kekuatan Ahok selama ini adalah kemampuannya. Qodari berkaca pada peristiwa tahun 2017 silam soal kasus penodaan agama yang menjerat Ahok.

"Menurut saya memang Ahok sekali lagi punya kelemahan yaitu di dalam komunikasi politik," terang Qodari.

"Dan saya hari ini sudah mulai khawatir karena ternyata Ahok melayani proses door stop ya, beberapa kali kedengaran seolah-olah Ahok menghindari pertanyaan," tambah Qodari. (*)