Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Ahok: Saya Baca Buku Pitutur Budaya Jawa


Peristiwa

Ahok: Saya Baca Buku Pitutur Budaya Jawa

Minggu, 17 November 2019 23:02 WIB
IMG
Basuki Tjahaja Purnama saat tampil di Universitas Kristen Petra, Surabaya, beberapa waktu lalu.

Rayapos | Surabaya - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dulu dikenal suka bicara ceplas-ceplos, belakangan sudah berubah lebih lembut bicara.

Gaya Ahok yang dulu keras, ceplas-ceplos itulah yang dikhawatirkan banyak orang, ketika kini dia sedang dibahas di Kementerian BUMN untuk kemungkinan menjadi pimpinan di salah satu perusahaan BUMN.

Sehingga, beberapa orang mengkhawatirkan karakter Ahok ketika memimpin perusahaan BUMN nantinya.

Tapi, Ahok sepertinya sudah berubah. Ketika dia tampil bicara di Universitas Kristen Petra, Surabaya, beberapa waktu lalu, dia mengatakan itu.

Ahok di depan civitas academica Universitas Kristen Petra, tampil bersama Prof DR H Ahmad Syafi'i Ma'arif dan Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Yudi Latif Ph D.


Buya Syafi'i Ma'arif menyampaikan, pentingnya persatuan-kesatuan bangsa. Itulah yang harus dijaga oleh bangsa Indonesia.

Buya Syafi'i mengatakan, Indonesia butuh petarung-petarung dalam upaya membangun bersama. "Tapi, petarung yang masuk akal," katanya.

Giliran Ahok, antara lain, mengatakan, diperlukan kerendahan hati bagi semua orang untuk mencapai persatuan - kesatuan Indonesia.

Ahok mengatakan: "Jangan mentang-mentang karena kita lebih kaya, berkuasa, terus menginjak-injak orang seenaknya. Tidak boleh."

Tapi, yang menarik, Ahok bicara soal belajar lemah lembut. "Soal ini, saya juga masih belajar. Belajar bicara lemah lembut," katanya.

Ratusan hadirin menyimak. Prof Syai'i Ma'arif pun kelihatan memperhatikan Ahok.

Ahok melanjutkan: "Saya baca buku 'Pitutur Budaya Jawa'. Di situ pelajaran bicara lemah lembut."

Kontan, hadirin tertawa. Prof Syafi'i Ma'rif pun ketawa. Karena, semua orang tahu, di situlah kelemahan Ahok selama ini.

Ahok melanjutkan: "Kita tidak bisa mengatakan, bahwa saya orang Sumatera. Sudah biasa keras. Nggak begitu. Kita mesti bicara yang lembut, yang baik."

Jadi, sebelum Ahok dipanggil Menteri BUMN, Erick Thohir, untuk diajak diskusi kemungkinan memimpin salah satu perusahaan BUMN, Ahok sudah belajar bicara lembut.

Apakah itu bakal jadi bekal Ahok untuk kembali tampil di jabatan publik (perusahaan BUMN)? Kita tunggu perkembangan lebih lanjut. (*)