Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Pohon-pohon Rindang Dihabisi, Oh... Jakarta


Peristiwa

Pohon-pohon Rindang Dihabisi, Oh... Jakarta

oleh. Kemal Setiawan- Sabtu, 16 November 2019 13:16 WIB
IMG
GUNDUL KOTA. Sisa pohon-pohon rindang di Jalan Cikini Raya Jakarta yang dihabisi.

Rayapos | Jakarta - Penebangan pohon-pohon besar di Jakarta, dikritisi pakar tata kota. Terutama, penggundulan pohon di Jalan Cikini Raya beberapa waktu lalu, sangat disayangkan.

Seharusnya, pemerintah daerah DKI Jakarta menjaga pohon yang menjadi warisan gubernur sebelumnya.

Bukan malah memangkas habis tanaman yang mampu menyerap polutan. Yakni, karbon dioksida yang dikeluarkan knalpot kendaraan.

Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, kepada wartawan, Sabtu (16/11/2019) mengatakan:

“Justru saya melihat dinas tidak serius merawat pohon-pohon di ibu kota. Kalau pohon itu keropos harusnya diselamatkan, bukan ditebang semua,”

Menurutnya, penebangan pohon dalam proyek revitalisasi trotoar sudah sepatutnya dihentikan.

Selain itu, Dinas Kehutanan DKI Jakarta harusnya mengaudit dan meregistrasi pohon yang ada.

Keberadaan dan kondisi pohon dapat mudah dilacak dan diketahui statusnya.

Alokasi anggaran besar di DKI Jakarta seharusnya bisa digunakan Pemprov DKI Jakarta untuk memetakan lokasi dan kondisi pohon menggunakan teknologi terkini. Sudah ada alat untuk itu.

“Pohon yang sakit dirawat. Pohon berlubang ditambal. Pohon keropos atau akan tumbang, ditebang dan segera diganti pohon baru,” katanya.

“Tapi kalau alasannya keropos dan takut tumbang dasarnya apa? Harus disertai dengan kajian yang tepat,” katanya.

Nirwono mengatakan, kebijakan penebangan pohon karena bagian dari pelebaran trotoar dan saluran air justru tidak tepat.

Alasannya, desain trotoar dan saluran seharusnya mengikuti keberadaan pohon yang sudah ada.

“Ini jelas salah, karena pohon existing harusnya dipelihara, bukan malah ditebang. Apalagi pemeliharaan pohon sudah dianggarkan dalam APBD,” katanya. Sudah ada anggarannya yang besar.

Selain itu, kata dia, pohon-pohon besar seperti beringin dan angsana yang ditebang memiliki usia puluhan hingga ratusan tahun.

Jika pohon tersebut ditebang, maka proses penanaman pohon pelindung tersebut akan memakan waktu lama. Ratusan tahun lagi.

“Justru kalau semakin banyak pohon besar itu makin bagus untuk menyerap air dan berfungsi menjaga habibat satwa liar serta penanda sebuah kawasan,” ucap Nirwono.

Beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta, Suzi Marsitawati mengatakan, penebangan pohon itu bagian dari peremajaan tanaman.

Suzi menilai, bahwa pohon  telah keropos dan mudah tumbang. Jika dibiarkan justru bisa membahayakan pengguna jalan ketika musim hujan.

“Pohonnya sudah cukup tua dan dan khawatir batang sudah banyak yang keropos,” ujar Suzi.

Menurut Suzi, penebangan pohon di Jalan Cikini Raya bagian dari program revitalisasi trotoar.

Menurut dia,  penanaman pohon angsana di Cikini untuk penghijauan kota.

Meski pertumbuhannya lebih cepat dibanding pohon lain, namun pohon jenis angsana memiliki kelemahan pada bagian batang mudah keropos.

Rencananya, pohon angsana akan diganti dengan pohon tabebuya dan bungur.

“Kedua jenis pohon ini akarnya tidak merusak konstruksi pedestrian dan memiliki keindahan warna bunga yang menarik sertia mampu menyerap polutan juga,” ucap Suzi. (*)