Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Hari Pahlawan, Misteri Tewasnya Jenderal Mallaby


Peristiwa

Hari Pahlawan, Misteri Tewasnya Jenderal Mallaby

Minggu, 10 November 2019 12:23 WIB
IMG
Jenderal Mallaby dan tentara Jepang. Foto: Iphoss

Rayapos | Jakarta - Hari ini, 10 November 2019 adalah Hari Pahlawan. Itu merujuk pertempuran dahsyat 10 November 1945 di Surabaya.

Penyebab pertempuran 10 November 1945 adalah tewasnya Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby. Lebih dikenal Jenderal Mallaby.

Tewasnya Jenderal Mallaby ini menjadi pemicu utama NICA (Netherlands Indies Civil Administration) menggempur Kota Surabaya.

Sehingga terjadi pertempuran sengit pada 10 November 1945, dan hari ini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Informasi mengenai pembunuh Jenderal Mallaby salah satunya datang dari seorang veteran perang bernama Moekari.

Moekari merupakan anggota Tokobetsu Kaisatsu-Tai, polisi bentukan Jepang di tahun 1944.

Menurut Moekari, pembunuh Jenderal Mallaby adalah pasukan Belanda sendiri.

“Info ini saya peroleh dari teman saya yang waktu itu memang melihat langsung peristiwa itu,” beber Moekari kepada wartawan di Hotel Harris-Pop Gubeng Surabaya, Selasa (8/11/2016).

Informasi dari teman Moekari, yang kini sudah meninggal, itu masuk akal.

Sebab menurut Moekari, yang bisa dekat langsung dengan Jenderal Mallaby tentu orang-orang Belanda sendiri.

Orang-orang Indonesia, tidak mungkin bisa mendekati Mallaby. Sang jenderal dijaga ketat berlapis-lapis.

“Yang bisa melakukan itu hanyalah orang yang profesional. Waktu itu tentara Belanda melempar granat ke mobil Mallaby,” ucapnya.

Selain pelaku pembunuhan (pelempar granat) tak diketahui, juga motif pembunuhan misterius.

Tapi, Moekari menyatakan, target dari aksi itu adalah untuk membuat marah Tentara Sekutu dan menghancurkan tentara Indonesia.

Sebab, pihak tentara Belanda waktu itu belum ada rencana merancang serangan.

“Faktanya target itu berhasil sehingga memicu perang 10 November itu,” imbuh Sri Lestari, putri Moekari yang turut mendampingi di acara silaturahmi tersebut.

Sementara itu, berbagai sumber mengemukakan berbagai cerita mengenai awal kedatangan Sekutu ke Indonesia hingga pertempuran 10 November selesai.

Namun, belum ada catatan mengenai sosok orang yang membunuh Jenderal Mallaby.

Buku berjudul 'Indonesia dalam Arus Sejarah edisi 6' (2012) hanya menjelaskan bagaimana Mallaby terbunuh ketika ada aksi tembak-menembak terhadap penduduk Surabaya.

Sumber lain menyebutkan, bahwa Jenderal Mallaby terkena granat dari anak buahnya yang sebenarnya justru berusaha melindungi.

Namun, granat itu meleset dan terkena mobilnya, hingga kemudian terbakar.

Artinya, Jenderal Mallaby tidak sengaja dibunuh, melainkan suatu kecelakaan.

Sementara itu, secara terpisah sejarawan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Rojil Nugroho Bayu Aji menambahkan dan memperjelas peristiwa tersebut.

"Ini tak ada kesimpulan siapa yang menembak atau yang menggranat. Orang Inggris sendiri mengkritisi laporan bahwa orang Surabaya bengis dalam peristiwa itu," ujar Rojil.

Masih menjadi misteri memang siapakah yang membunuh Mallaby.

Awal kedatangan NICA

Dalam artikel 'Jelang Hari Pahlawan - Jenderal Mallaby Tewas jadi Pemicu Lahirnya Perang Surabaya',

Itu pasca Soekarno dan Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya berdaulat dan bebas dari ancaman negara asing.

Secara de fakto, Belanda masih menyimpan ambisi untuk menancapkan lagi kekuasaannya di Indonesia.

Apalagi, kemenangan pihak Sekutu dalam Perang Dunia II semakin memantapkan niat Belanda terhadap Indonesia.

Tentara Sekutu yang diboncengi NICA (Netherlands Indies Civil Administration) mulai diberangkatkan menuju ke Indonesia.

Mereka diturunkan di tempat-tempat strategis di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan untuk memulai langkahnya.

Selain kembali berkuasa, pihak Sekutu dan Belanda mempunyai tujuan lain, yaitu untuk melucuti persenjataan Jepang.

Mereka mengambil alih kendali dan menghukum tentara Jepang yang tersisa.

Dilansir dari buku Indonesia dalam Arus Sejarah edisi 6 (2012), pihak Sekutu yang dulu melihat orang Indonesia sebagai "het zachtste volk ter wereld" (bangsa terhalus di dunia), kini menjadi bangsa yang lebih liar, ganas, dan garang.

Kedatangan Tentara Sekutu juga sampai ke Surabaya pada Oktober 1945.

Mereka melakukan aksi seremonial berjalan ke berbagai sudut kota untuk melihat situasi dan kondisi. Mereka melakukan orientasi medan.

Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby, seorang perwira Inggris, memimpin sejumlah inspeksi dan persiapan menjelang pelucutan senjata tentara Jepang.

Jadi, fokus mereka saat itu melucuti persenjataan tentara Jepang yang sudah beberapa bulan menduduki Indonesia.

Mallaby juga berupaya meredam amarah penduduk Surabaya. Konsolidasi dilakukan agar pelaksanaan cepat selesai.

Namun, semangat penduduk Surabaya adalah mempertahankan kemerdekaan.

Mereka tak mempedulikan janji pihak Sekutu, namun hanya fokus pada upaya mempertahankan kemerdekaan.

Pada 30 Oktober 1945, Mallaby, perwira Kerajaan Inggris itu tewas. Mobil yang ditumpanginya hangus terbakar. Tentu akibat ledakan granat.

Kejadian bermula karena perlawanan rakyat Surabaya yang menginginkan Gedung Internatio terbebas dari militer Inggris.

Akibatnya, muncul percekcokan yang membuat Mallaby tewas.

Pihak Inggris kemudian mengultimatum rakyat Surabaya untuk menyerahkan berbagai senjata sebelum pukul 06.00 pagi pada 10 November 1945.

Ultimatum itu tak diperhatikan. Rakyat Surabaya melawan, hingga terjadilah pertempuran dahsyat.

Sampai sekarang, pertempuran yang dikenal dengan Peristiwa 10 November itu diperingati sebagai Hari Pahlawan. (*)