Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Brigadir Mallaby Dimakamkan di Sini


Peristiwa

Brigadir Mallaby Dimakamkan di Sini

Minggu, 10 November 2019 14:10 WIB
IMG
Makam Brigadir Jenderal Mallaby. Dok Rayapos

Rayapos | Jakarta - Tak banyak yang tahu, makam Jenderal Mallaby dipindahkan dari Komplek Pemakaman Kembang Kuning, Surabaya ke Pemakaman Menteng Pulo, Jakarta pada tahun 1960-an.

Jenderal Mallaby (nama lengkapnya Aubertin Walter Sothern Mallaby) tewas di Surabaya pada 30 Oktober 1945.

Itulah penyebab perang dahsyat antara tentara Sekutu melawan arek-arek Suroboyo pada 10 November 1945. Yang kemudian tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

Makam Mallaby, berada di dekat gedung-gedung tinggi komplek perkantoran Kuningan. Sekaligus di sela permukiman padat penduduk Menteng Pulo.

Namanya Komplek Pemakaman JWC. Sebuah komplek makam di pusat kota Jakarta yang menyimpan kisah Gelora Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Butuh usaha ekstra agar bisa sampai ke lokasi. Jalan masuk berliku di wilayah padat penduduk Menteng Pulo.

Perjalanan menuju lokasi bisa dijangkau melalui Jalan Dr Saharjo.

Atau Jalan Pendawa (parkir luar Mall Casablanca).

Bisa juga dari Jalan Taman Rasuna Selatan via Menteng Atas Barat.

Semua jalur masuk tersebut akan menuju satu lokasi, Jalan Menteng Pulo Raya.

Di sisi kanan dan kiri Jalan Menteng Pulo Raya, tampak bermacam kompleks makam. Dipisah menurut kepercayaan dan agama.

Ada makam Islam, Kristen, Konghucu. Sementara sisanya, dibedakan berdasar faktor historis, seperti Ereveld Menteng Pulo, kompleks makam tentara Belanda dan Jakarta War Cemetery (JWC), kompleks makam tentara Sekutu.

Dua lokasi terakhir hanya dipisah pagar. JWC berada di Jalan Menteng Pulo IX, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.

Sutiadi Aripin, Manajer Indonesia Pasifik Area, Penanggung Jawab Komplek Pemakaman JWC, mengatakan:

“Pintu depan sedang kami perbaiki, rumput, tanaman, dan nisan juga sedang dibersihkan, setiap menjelang 10 November.”

Sebab, biasanya pihak Kedutaan Inggris menyelenggarakan Remeberance Day atau Poppy Day.

Itu merupakan acara peringatan tewasnya para tentara Persemakmuran (Commonwealth of Nations) pada Perang Dunia I.

Pada peringatan tersebut di lokasi JWC, menurut Aripin, dihadiri para duta besar negara Persemakmuran, beberapa veteran perang, dan keluarga.

Di komplek JWC terdapat 1.811 makam.

Sebanyak 236 makam merupakan korban tewas tak dikenal. Sisanya merupakan 715 makam tentara Inggris, 304 pasukan brigade India, 96 tentara Australia, 4 tentara Kanada, 2 Selandia Baru, 1 Afrika, 1 Burma, 22 Melayu, dan 36 lainnya.

“Tidak ada perbedaan makam perwira dan pasukan prajurit di sini. Semua sama. Hanya dibedakan berdasarkan lokasi menurut keyakinan. Ada makam Hindu, lalu Islam, dan Kristen,” ungkap Aripin.

JWC, lanjut Aripin, merupakan pemakaman bagi serdadu Persemakmuran nan gugur saat mempertahankan Jawa dan Sumatera dari tangan Jepang.

Sebagian merupakan korban Jaman Bersiap, serta tewas pada peristiwa Pertempuran Surabaya, 10 November 1945.

“Ya, di sini ada makam Mallaby. Jenazahnya sebelumnya dimakamkan di pemakaman Kembang Kuning, Surabaya. Lalu dipindah ke sini tahun 1960-an,” imbuh Aripin.

Brigadir Jendral AWS Mallaby, Komandan Pasukan Birgade 49 Infantri India, tewas di dalam mobil Lincoln berwarna abu-abu. Mallaby tewas di usia 45.

Peledakan mobil Mallaby itu tepat berada di depan Gedung Internatio, sore hari 30 Oktober 1945.

Kronologis kematian seorang komandan pemenang Perang Dunia II tersebut masih menjadi misteri.

Ada yang mengatakan, bahwa tewasnya Mallaby akibat kecelakaan. Yakni, tentara Belanda melemparkan granat untuk melindungi Mallaby dari situasi kacau saat itu.

Kekacauan terjadi, sebab rakyat Surabaya saat itu menuntut agar seluruh pasukan Inggris meninggalkan Gedung Internatio. Lokasinya dekat Jembatan Merah Surabaya.

Sedangkan, pasukan Inggris bertahan. Sehingga sewaktu-waktu gedung itu diserang arek-arek Suroboyo.

Tapi, ada pula yang mengakui, bahwa pembunuh Mallaby adalah arek Suroboyo.

Pendapat ini ditepis oleh veterang perang bangsa Indonesia, bernama Moekari.

Moekari adalah anggota Tokobetsu Kaisatsu-Tai, polisi bentukan Jepang di tahun 1944.

Menurut Moekari, pembunuh Jenderal Mallaby adalah pasukan Belanda sendiri. Motifnya, agar segera pecah perang.

Sebab, waktu itu pihak Belanda belum berencana menggelar perang. Sementara, arek Suroboyo menuntut Belanda dan Inggris meninggalkan Gedung Internatio.

Mallaby adalah perwira Inggris, sedangkan pelempar granat, menurut Moekari, tentara Belanda. Bisa jadi begitu, walaupun pelempar granat juga tidak tertangkap.

Menurut Moekari, sangat kecil kemungkinan Mallaby dibunuh tentara Indonesia. Sebab, penjagaan terhadap Mallaby berlapis-lapis. Sulit bagi pihak Indonesia mendekati.

Yang jelas, kini makam Mallaby berada di ujung sebelah kiri arah pintu masuk gerbang utama pemakaman JWC  .

Tak tampak perbedaan dengan makam lainnya. Semua makam memang sama, tanpa gundukan, bernisan, tanpa ada tanda salib seperti makam Belanda di komplek sebelah, maupun tanda lainnya.

Jenazah Mallaby dipindahkan bersamaan dengan serdadu lainnya dari Palembang, Medan, dan Muntok. Awalnya, hanya JWC terdiri dari 474 makam. Kemudian tanah diperluas dan total menjadi 1811 makam hingga kini.

JWC dibuka tiap hari Senin hingga Jumat pukul 08.00-17.00 WIB untuk umum. Selain merasakan ketenangan dan keasrian tanaman dan hamparan rumput hijau di tengah kota, pengunjung juga belajar sejarah, terutama pertempuran sengit arek Surabaya. (*)