Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Moral Rusak, Pemotor di Trotoar Malah Memaki Pejalan Kaki


Peristiwa

Moral Rusak, Pemotor di Trotoar Malah Memaki Pejalan Kaki

oleh. Djono W. Oesman- Jumat, 23 Agustus 2019 19:25 WIB
IMG
Ilustrasi pemotor naik ke trotoar. Sudah biasa.

Rayapos | Jakarta - Diakui atau tidak, moral sebagian warga di Jakarta, sudah rusak parah. Pemotor biasa lewat di trotoar, bahkan pejalan kaki dimaki-maki pemotor.


Kejadian seperti itu sudah sangat sering. Bahkan divideokan dan selalu viral. Tapi, tetap saja tidak ada tindakan apa-apa dari yang berwenang.


Terbaru, terjadi di Jalan Cikini, Jakarta Pusat. Pemotor naik ke trotoar. Saat ditegur pejalan kaki, malah marah. Memaki-maki pejalan kaki. Divideokan dan viral. Moral bangsa merosot.


Diketahui, video yang dibagikan oleh akun Instagram @koalisipejalankaki itu terjadi di trotoar kawasan Cikini, Jakarta Pusat, baru-baru ini.


“Barbarian Jalan Raya. Saat penegakan hukum lemah, disinilah pejalan kaki kerap dapat intimidasi dari para pengendara yang mengokupansi trotoar saat ditegur oleh pejalan kaki,” tulis @koalisipejalankaki


Netizen pun ikut mengomentari dan mengecam aksi pengendara motor tersebut. Para pejalan kaki lain mengaku, hal tersebut sudah lumrah.


“Saya juga beberapa kali mengalami hal serupa. Akhirnya mending diem dan ngalah. Daripada benjol,” tulis @loedji di kolom komentar.


Bukan hanya di kawasan Cikini, beberapa ruas trotoar Jakarta juga kerap dilalui kendaraan bermotor.


Misalnya di trotoar Jalan Casablanca, Jakarta Selatan. Pejalan kaki mengeluhkan seringnya sepeda motor melintas area pedestrian.


Hal tersebut sering terjadi terutama sore hari saat jam pulang kerja.


Sepeda motor melintas di trotoar demi menghindari arus lalu lintas di ruas Jalan Casablanca arah Tebet yang padat-merayap.


Pada Kamis (25/4/2019) sekitar pukul 18.45 WIB misalnya, banyak pengendara motor yang nekat menerabas jalur pedestrian, mulai dari pengguna motor pribadi maupun pengendara ojek daring.


Mereka leluasa melaju di area pedestrian yang terbilang lebar.


Pejalan kaki tak begitu ramai di jalur itu. Sementara trotoar lebar. Maka, pemotor sangat ramai di situ.


Apa komentar warga pejalan kaki di situ?


"Mau sampai kapan begini jadi budaya? Ngomong apa adanya ya, sebenarnya kita pejalan kaki bisa saja mepet ke pinggir biar sama-sama enak ceritanya," kata Ernest (29) kepada wartawan.


Dia mengemukakan, saban hari melewati trotoar itu sepulang kerja, selalu ada sepeda motor yang melintas.


"Kadang-kadang sih memang cuma satu, dua, tiga yang lewat. Cuma kalau pembiaran begini terus dilakukan ya jangan heran kalau nanti dianggap wajar suatu hari kalau tempat pejalan kaki dikuasai motor," kata dia.


Romi (31) yang berjalan kaki menuju halte juga risau dengan banyaknya sepeda motor yang melintas.  


"Masalahnya mereka ngebut karena ngeliat kita (pejalan kaki) minggir, trotoarnya lega. Ya masa kita enggak minggir kalau mereka keroyokan gitu?" kata Romi. 


Pendapat serupa diungkapkan Risa (21).


Mahasiswi yang sedang kuliah sembari magang ini mengatakan ingin menegur para pelanggar tersebut.


Apa daya, nyalinya tidak cukup kuat karena ia tak yakin ada pejalan kaki lainnya yang cukup peduli.


"Pengin sih negur, kalau bisa dijitakin. Cuma saya siapa? Mereka juga pasti ngerasa benar, apalagi ramai-ramai. Sayanya sendiri, (pejalan kaki) yang lain entah mau ikut campur apa nanti saya dianggap mau cari perhatian segala macamlah," kata dia. (*)