Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Anji Merasa Diperalat, Sebaliknya Hadi Pranoto Klaim Tidak Salah


Hukrim

Anji Merasa Diperalat, Sebaliknya Hadi Pranoto Klaim Tidak Salah

oleh. Andrew Tito- Kamis, 10 September 2020 08:18 WIB
IMG
Hadi Pranoto dan Anji mulai disidik polisi terkait tuduhan melanggar UU ITE

Rayapos | Jakarta - Video Youtube tentang jamu Corona akhirnya jadi perkara hukum. Musisi Anji dan Hadi Pranoto saling lempar tanggung jawab setelah kasus dugaan penyebaran hoax 'obat Corona' masuk penyidikan polisi. 

Hadi Pranto menilai, dirinya seharusnya tidak kena UU ITE, sementara Anji merasa diperalat olah Hadi.

Pengacara Hadi Pranoto, Tonin Singarimbun mengatakan, bahwa kliennya tidak bisa dijerat dengan UU ITE. Tonin mempertanyakan letak berita bohong yang dituduhkan kepada Hadi Pranoto.

"Mas Hadi ini kan dilaporkan di UU ITE, dia aja FB, Youtube, IG, Twitter nggak punya, gimana dia kena UU ITE? Yang laporin ngawur saya bilang. Dia diselipkan Pasal 15 Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 (soal penyebaran berita bohong). Di mana berita bohongnya?" kata Tonin kepada wartawan, Selasa (8/9/2020).

Menurut Tonin, seharusnya musisi Anji yang kena UU ITE. Sebab Anji lah yang menyebarkan video tersebut melalui akun YouTube-nya.

"Harusnya yang dilaporkan Anji-nya kalau masalah ITE. Kalau masalah mas Hadi mana bisa dikenakan UU ITE. Sampai kapan pun mas Hadi tidak bisa dikenakan UU ITE," sebut Tonin.

Tonin mengaku pihaknya puas dengan hasil pemeriksaan polisi terhadap Hadi Pranoto. Menurutnya, kliennya bisa menjawab total 48 pertanyaan yang diajukan penyidik dengan baik.

Sebaliknya, pengacara Anji, Milano Lubis, mengatakan Hadi Pranoto justru telah membangun kredibilitas palsu sebagai profesor penemu 'obat Corona'.

"Hadi pranoto sudah membangun kredibilitas palsu sebagai profesor yang menemukan obat COVID-19. Kredibilitas palsu itu sudah disebarkan oleh Hadi Pranoto melalui media cetak dan elektronik di Lampung," ujar Milano Lubis dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (9/9/2020).

Milano lantas menjelaskan tujuan Anji mewawancarai Hadi Pranoto saat itu. Menurutnya, Anji memiliki perhatian akan kesembuhan dan keselamatan masyarakat Indonesia dari pandemi COVID-19.

Milano mencontohkan kasus hoax pengeroyokan Ratna Sarumpaet. Prabowo--yang saat itu merupakan calon presiden--dan Amien Rais sempat bersuara soal kasus 'pengeroyokan' Ratna Sarumpaet yang ternyata adalah hoax.

"Contoh kasus sebagai bahan perbandingan: Prabowo dan Amien Rais tidak dijadikan tersangka dalam kasus kebohongan Ratna Sarumpaet, karena dalam pertimbangan hukum putusan pengadilan dinyatakan bahwa Prabowo dan Amien Rais adalah korban karena telah terpengaruh oleh informasi bohong dari Ratna Sarumpaet untuk menyebarkan peristiwa penganiayaannya," papar Milano.

"Teori hukum: kesesatan fakta tidak dapat dipidana (feitelijke dwalling)," imbuhnya.

"Sebagai orang yang concern terhadap kesembuhan dan keselamatan masyarakat Indonesia dari pandemi COVID-19, dengan iktikad baik dan riset yang cukup, Anji tergerak untuk memperkenalkan Hadi Pranoto kepada seluruh masyarakat Indonesia terkait dengan obat COVID-19 temuannya itu," beber Milano.

Anji merasa diperalat oleh Hadi Pranoto untuk menyesatkan fakta soal 'obat Corona' Hadi Pranoto. Bukan hanya Anji, tetapi juga media di Lampung menjadi korban sesat Hadi Pranoto.

"Media cetak dan elektronik di Lampung serta Anji sebenarnya adalah korban yang dijadikan alat oleh Hadi Pranoto untuk menyebarkan berita tentang obat COVID buatannya itu," pungkasnya.

Kasus tersebut hingga saat ini masih diselidiki polisi. Setelah Anji, polisi juga telah meminta keterangan Hadi Pranoto sebagai saksi terlapor. (*)