Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Kisah Ilmuwan China yang Bilang Covid-19 Buatan Manusia


Eropa Amerika

Kisah Ilmuwan China yang Bilang Covid-19 Buatan Manusia

oleh. Djono W. Oesman- Selasa, 15 September 2020 15:00 WIB
IMG
DR dr Li Meng Yan

Rayapos | Jakarta - DR dr Li Meng Yan ilmuwan China pemberani.  Dia berani mengambil risiko mati, dengan mengungkap, bahwa Covid-19 buatan manusia. Bukan dari alam.

Menurut Li Meng Yan, virus itu diciptakan di Wuhan Institute of Virology, Wuhan, China. Meng Yan adalah dokter bergelar Philosophy of Doctor (Ph D) yang pakar vaksin. Virus dan vaksin adalah bidang yang sama, berbolak-balik. Jadi, Meng Yan adalah orang yang ahli virus juga.

Siapakah Li Meng Yan? Dikutip dari berbagai sumber, dia lahir dan dibesarkan di China. Kedua orang tuanya juga China. Meng Yan kini dijuluki pembelot, sebab dia lari ke Amerika.

Pendidikan dan Karir

Meng Yan meraih gelar sarjana kedokteran dari Xiangya Medical College di Central South University di Kota Changsa, China. 

Dia melanjutkan pendidikan. Akhirnya meraih gelar PhD dari Southern Medical University Guangzhou, universitas yang terafiliasi dengan militer China.

Data dari China Academic Journals (CNKI) menyebutkan, riset Meng Yan  untuk menjadi sarjana kedokteran adalah tentang efek propanolol pada tahun 2014. 

Data dari Frontiers in Immunology, pada 2018, Meng Yan sudah bekerja meneliti vaksin influenza di WHO Collaborating Centre for Infectious Disease Epidemiology and Control, School of Public Health, The University of Hong Kong. Berarti dia ahli vaksin, khusunya influenza, berdomisili di Hong Kong.

Meneliti COVID-19

Seperti diberitakan Fox News, pada Desember 2019 itulah awal Li Meng Yan mengetahui ada kasus wabah mirip SARS di Wuhan. Supervisornya, Leo LM Poon memintanya terlibat dalam penelitian itu. Waktu itu belum muncul istilah Covid.

Sebagai gambaran, Fox News (lengkapnya Fox News Channel - FNC) adalah televisi berita yang didirikan raja media massa Amerika, Rupert Murdoch. Berkantor pusat di New York, Amerika.

Atas penugasan atasannya, Meng Yan berhubungan intens dengan para ilmuwan China daratan, meneliti wabah di Wuhan. 

Dari penelitiannya bersama para ilmuwan China daratan, mereka tahu bahwa wabah itu disebabkan virus. Sangat menular antar manusia. Temuan ini terjadi pada 31 Desember 2019. Dinamakan Covid-19.

Temuan tersebut dilaporkan Meng Yan kepada atasannya, Leo LM Poon

pada 16 Januari 2020. Namun, atasannya malah meminta Li Meng Yan diam saja. Tidak perlu banyak bicara. Apalagi bicara dengan publik.

Pada 19 Maret 2020, hasil riset Meng Yan tentang COVID-19 terbit di jurnal medis Lancet berjudul Viral Dynamic in Mild and Severe Cases of COVID-19. 

Pemaparan hasil riset itulah akhir dari karya Meng Yan di China.

Li Meng Yan mengatakan, hasil risetnya disensor pemerintah China. Dia pun menyesalkan dua atasannya Leo Poon dan Malik Peiris yang mengabaikan temuannya. Sama sekali tidak membelanya.

Padahal lembaga risetnya berafiliasi kepada WHO, bukan China. Akhirnya, Meng Yan menduga WHO pun korup dan terlibat menutupi hal ini.

"Jangan melewati batas. Kita bisa kena masalah dan dihilangkan," kata Meng Yan menirukan ucapan atasannya.

Kabur ke Amerika...

Ilmuwan China ini pun memutuskan kabur ke Amerika Serikat. Caranya, dia berdiskusi dulu dengan blogger Hong Kong di Amerika bernama Lu Deh. Lu Deh menyarankan Meng Yan pindah ke Amerika. Rencana ini ketahuan suaminya yang juga ilmuwan di laboratorium yang sama.

Suaminya marah dan berkata tindakan Meng Yan bisa membuat mati keluarga mereka. Meng Yan yang patah hati terpaksa meninggalkan suaminya.

Ia merasa jika tetap di China, dirinya bisa dipenjara atau bahkan dibunuh. Pada 27 April 2020, Li Meng Yan terbang dengan Cathay Pacific ke Amerika dan tiba pada 28 April 2020. Dia berhasil menghindari CCTV kampus, membawa koper dan menyiapkan pelariannya dengan memanfaatkan cuti tahunan.

Di Bandara Los Angeles dia dihentikan petugas bandara. Meng Yan yang takut dideportasi mengungkapkan dirinya membawa rahasia soal COVID-19 dan meminta perlindungan.

"Saya mau mengungkap kebenaran soal COVID-19. Tolong lindungi saya, jika tidak pemerintah China membunuh saya," kata dia.

FBI pun datang dan memeriksanya beberapa waktu. Sementara pemerintah China menggeledah apartemennya dan memeriksa kedua orangtua Meng Yan di Qingdao. Universitas Hong Kong menghapus Meng Yan dari website kampus. Pada 14 Mei 2020, jurnal Nature masih menerbitkan penelitiannya Meng Yan soal COVID-19 pada hamsters, riset yang dikerjakan bersama dua atasannya di Hong Kong dan sejumlah peneliti lain.

Tampil di media Amerika

3 Bulan setelah pelariannya ke Amerika, tepatnya 13 Juli 2020 Li Meng Yan mulai blak-blakan kepada berbagai media dimulai dari Fox News di Amerika Serikat, soal virus Corona adalah buatan manusia dari laboratorium di Wuhan. Pemerintah China, WHO dan Universitas Hong Kong membantah segala tuduhan Meng Yan.

Terakhir sekali, dia bicara lagi kepada New York Post pada 11 September 2020 kemarin. Kali ini dia bilang punya bukti kuat kalau COVID-19 dibuat di laboratorium di Wuhan.

"Ini datang dari lab, lab di Wuhan dan lab ini dikendalikan oleh pemerintah China. Pasar Wuhan itu cuma pengalih perhatian, virus ini bukan dari alam," kata dia dalam video chat dari tempat yang dirahasiakan. Wuhan Institute of Virology telah membantah tuduhan ini. (*)