Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
AS Berencana Menutup Kantor Konsulat Tiongkok


Eropa Amerika

AS Berencana Menutup Kantor Konsulat Tiongkok

oleh. Rangga Ansori- Kamis, 23 Juli 2020 14:12 WIB
IMG
AS memberikan jangka waktu 72 jam kepada pihak Beijing untuk segera menutup kantor konsulat mereka di Houston.

RAYAPOS | JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan penutupan beberapa kantor konsulat Tiongkok yang berada di negaranya. Rencana penutupan tersebut merupakan imbas dari ketegangan hubungan antara kedua negara tersebut. Kamis (23/07/2020) WIB.

Dilansir dari media berbahasa Inggris Aljazeera, pemerintah AS sebelumnya telah mengeluarkan ultimatum terhadap Tiongkok untuk segera menutup kantor konsulat mereka di Houston, AS. Mereka memberikan jangka waktu 72 jam kepada pihak Beijing untuk segera menutup kantor konsulat mereka.

Pada sebuah keonferensi di Gedung Putih, Rabu (22/07/2020) presiden AS yang menjabat sejak tahun 2017 itu mencatat beberapa indikasi tindakan yang mencederai hubungan baik antara kedua negara. Catatan tersebut kemudian menghasilkan perintah penutupan kantor konsulat oleh Departemen Luar Negeri, AS.

"Kurasa mereka membakar dokumen dan membakar kertas," ungkap Trump.

Perintah penutupan kantor konsulat tersebut kemudian memancing reaksi keras dari pihak Kedutaan Besar Tiongkok untuk AS.

Mereka menilai keputusan tersebut sebagai tindakan gegabah, dan merupakan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Media lokal Tiongkok South China Morning Post melaporkan pada hari ini, Kamis (23/07/2020) bahwa pihak Beijing dapat melakukan tindakan balasan untuk menutup kantor konsulat AS di wilayah Chengdu.

Pemerintah Tiongkok juga menyebutkan bahwa tindakan penutupan kantor konsulat merupakan sebuah upaya menyalahkan Beijing atas kegagalan AS sendiri.

Dikutip dari China Daily pada hari ini, Kamis (23/07/2020), mereka menggambarkan tindakan tersebut sebagai tuduhan yang tidak berdasar.

"langkah baru dalam upaya pemerintah AS untuk melukis Cina sebagai aktor jahat di panggung dunia, dan dengan demikian menjadikannya sebagai pelanggaran hukum bagi masyarakat internasional.” tulis mereka.

"Langkah itu menunjukkan bahwa tertinggal di belakang lawan pemilihan presidennya dalam jajak pendapat ... pemimpin AS berusaha keras untuk menggambarkan China sebagai agen kejahatan," tambahnya.

Hingga saat ini belum ada tanda-tanda ketegangan antara dua negara berkekuatan ekonomi besar itu akan mereda. (**)