Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Ledakan Beirut, Diduga dari 2.750 Ton Amonium Nitrat


Afrika & Timur Tengah

Ledakan Beirut, Diduga dari 2.750 Ton Amonium Nitrat

oleh. Djono W. Oesman- Rabu, 05 Agustus 2020 14:03 WIB
IMG
Lokasi ledakan Beirut dekat pelabuhan. Foto: AFP

Rayapos | Beirut - Akibat ledakan besar di Beirut, Lebanon, tercatat 78 orang meninggal dunia dan ribuan orang lainnya mengalami luka-luka.

Ledakan terjadi di area pelabuhan pada Selasa 4 Agustus 2020 waktu setempat. Ledakan besar itu membentuk seperti awan jamur dan merusak bangunan di pelabuhan.

Sumber penyebab ledakan itu masih diselidiki. Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab, bersumpah akan mencari siapa pembuat ledakan ini.

Berikut Fakta Ledakan Dahsyat di Lebanon Sejauh Ini:

1. Ledakan di Lebanon Terjadi Dua Kali

Ledakan besar yang mengguncang Beirut, Lebanon, terdengar dua kali. Ledakan sangat besar.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (4/8/2020), sumber keamanan mengonfirmasi bahwa dua ledakan mengguncang area pelabuhan Beirut, sehingga menyebabkan puluhan orang terluka.

Ledakan kedua memicu bola api raksasa berwarna oranye ke langit Beirut, juga pada Selasa (4/8/2020) waktu setempat, yang diikuti gelombang kejut seperti angin tornado yang meratakan area pelabuhan dan menyapu kota Beirut, bahkan memecahkan kaca di lokasi berjarak beberapa kilometer.

Ledakan itu sangat besar hingga mengguncang seluruh kota Beirut dan suara ledakan dilaporkan terdengar di seluruh negara tersebut. 

Getaran akibat ledakan ini bahkan terasa hingga ke Nikosia, ibu kota dari negara kepulauan Siprus, yang berjarak 240 kilometer jauhnya.

Penyebab ledakan hingga kini belum diketahui.

2. PM Lebanon: Ada 2.750 Ton Amonium Nitrat di Lokasi Ledakan

Perdana Menteri (PM) Lebanon, Hassan Diab, mengatakan ada sekitar 2.750 ton amonium nitrat tersimpan di gudang lokasi ledakan.

Hassan menyebut pengiriman bahan pemicu ledakan itu tersimpan di gudang selama 6 tahun.

"Tidak dapat diterima bahwa pengiriman 2.750 ton amonium nitrat telah ada selama enam tahun di sebuah gudang, tanpa mengambil langkah-langkah pencegahan," kata Diab pada pertemuan dewan pertahanan, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (4/8/2020).

"Itu tidak bisa diterima dan kita tidak bisa diam tentang masalah ini."

Amonium nitrat adalah suatu senyawa kimia. Penggunaan amonium nitrat adalah sebagai komponen campuran peledak yang digunakan dalam konstruksi pertambangan, penggalian, dan konstruksi sipil.

3. PM Lebanon: Yang Bertanggung Jawab Atas Bencana Ini Akan Bayar Harganya

Perdana Menteri (PM) Lebanon Hassan Diab berjanji mengusut ledakan besar di Lebanon.

Dia bersumpah bahwa mereka yang bertanggung jawab atas dua ledakan hebat di Beirut yang menewaskan puluhan orang dan melukai ribuan lainnya, akan dimintai pertanggungjawaban.

Hassan mengatakan yang bertanggung jawab atas ledakan besar itu untuk membayar harganya.

"Apa yang terjadi hari ini tidak akan berlalu tanpa pertanggungjawaban. Mereka yang bertanggung jawab atas bencana ini akan membayar harganya," kata Hassan Diab dalam pidato yang disiarkan televisi, seperti yang dilansir AFP, Rabu (4/8/2020).

Diab juga meminta bantuan internasional untuk membantu Lebanon yang sudah terperosok dalam krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade.

Seorang pejabat keamanan senior Lebanon mengatakan sebelumnya bahwa ledakan yang mengguncang seluruh Beirut bisa disebabkan oleh "bahan peledak" yang disita dan disimpan di gudang "selama bertahun-tahun".

Diab dalam pidatonya menjanjikan pengumuman tentang "gudang berbahaya ini yang telah ada selama enam tahun, sejak 2014".

4. 78 Orang Tewas, 4.000 Orang Luka

Ledakan besar di Lebanon memakan korban jiwa. Kementerian Kesehatan Lebanon mengkonfirmasi total saat ini korban tewas akibat ledakan besar itu berjumlah 78 orang.

"Banyak orang hilang saat ini. Mereka bertanya ke departemen darurat tentang orang-orang yang mereka cintai, ini sulit untuk mencari di malam hari karena tidak ada listrik. Kami menghadapi bencana nyata dan perlu waktu untuk menilai tingkat kerusakan," ujar Menkes Beirut, Hamad Hassan kepada Reuters, dilansir CNN, Rabu (5/8/2020).

Jumlah korban luka saat ini hampir sekitar 4.000. Namun, Hassan belum menjelaskan secara rinci ada penambahan atau tidak, karena sebelumnya diberitakan sebanyak 3.700 orang luka-luka akibat ledakan besar ini.

5. Satu WNI Terluka

Satu orang warga negara Indonesia (WNI) diketahui mengalami luka-luka akibat ledakan besar di Lebanon.

"Ada 1 WNI yang mengalami luka-luka (inisial NNE)," kata Juru Bicara KBRI di Beirut, Teuku Faizasyah, kepada wartawan, Rabu (5/8/2020).

Faizasyah mengetakan staf KBRI Beirut sudah melalukan komunikasi dengan WNI tersebut.

WNI sudah mengalami perawatan di rumah sakit dan saat ini dalam kondisi stabil dan diizinkan pulang dari rumah sakit.

6. 1 WN Australia Tewas

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Marrison mengungkapkan satu warga negara Australia ikut tewas dalam ledakan di Lebanon.

Kedutaan Besar Australia di Beirut juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat ledakan hebat ini.

Seperti dilansir CNN dan AFP, Rabu (5/8/2020), kematian satu warga Australia itu disampaikan PM Morrison saat dalam wawancara dengan program Channel 7 Sunrise, afiliasi CNN, pada Rabu (5/8) pagi waktu Australia. Tidak disebutkan lebih lanjut soal identitas warga Australia yang meninggal akibat ledakan di Beirut itu.

PM Morrison hanya menyatakan bahwa dirinya menerima informasi soal ledakan besar di Beirut, namun belum mendapat penjelasan soal dugaan penyebabnya.

"Menjadi penyesalan mendalam saya untuk memberitahukan kepada Anda bahwa satu warga Australia meninggal dalam ledakan mengerikan ini," ucap PM Morrison.

7. Ledakan di Lebanon Terasa hingga Siprus

Ledakan besar itu terasa hingga ke Siprus. Jarak Lebanon ke Siprus cukup jauh hingga ratusan mil.

Dilansir CNN, Rabu (4/8/2020) ledakan di dekat pelabuhan Beirut itu membentuk gelombang kejut berbentuk awan besar jamur, membalikkan mobil dan merusak bangunan yang berada jauh dari lokasi.

Ledakan terasa jauh hingga ke Siprus, ratusan mil jauhnya, dan tercatat sebagai gempa bumi berkekuatan 3,3 di Ibu Kota Lebanon.

8. Rumah Eks PM Lebanon Rusak

Sejumlah bangunan dilaporkan rusak akibat ledakan dahsyat di Lebanon. Salah satunya, markas mantan PM Lebanon Saad Hariri.

Dilansir CNN, Selasa (4/8/2020), kepulan api membubung tinggi pasca-ledakan besar. Bangunan di sekitar pelabuhan rusak, termasuk kediaman Saad Hariri.

Rumah-rumah yang berjarak 10 kilometer dari lokasi kejadian rusak, berdasarkan keterangan saksi. Media lokal juga memperlihatkan video mobil-mobil hancur dan terbalik akibat ledakan.

9. Dugaan Awal Penyebab Ledakan

Sumber ledakan di Lebanon awalnya diduga sebagai kebakaran besar.

Dilansir CNN, Selasa (4/8/2020) sumber ledakan pada awalnya diyakini sebagai kebakaran besar di sebuah gudang petasan di dekat pelabuhan Beirut.

Ledakan besar itu membentuk seperti awan jamur dan merusak bangunan di pelabuhan, termasuk kantor mantan Perdana Menteri (PM) Saad Hariri.

Setelah ledakan, tim pemadam kebakaran bergegas ke tempat kejadian untuk mencoba memadamkan api. Sejumlah besar orang terluka dalam ledakan itu, kata pihak berwenang, dan rekaman video dari tempat kejadian menunjukkan korban luka yang terhuyung-huyung di jalan-jalan Beirut.

Menteri Kesehatan Lebanon memerintahkan semua rumah sakit di dekat sumber ledakan untuk bersiap menerima para korban yang datang.

10. Saksi Mata: Mirip Bom Atom

Warga setempat menyebut ledakan di Lebanon seperti bom atom.

Seperti dilansir AFP, Rabu (5/8/2020), ledakan kedua memicu bola api raksasa berwarna oranye ke langit Beirut pada (4/8) waktu setempat, yang diikuti gelombang kejut seperti angin tornado yang meratakan area pelabuhan dan menyapu kota Beirut, bahkan memecahkan kaca di lokasi berjarak beberapa kilometer.

"Seperti malapetaka di dalam. Ada mayat-mayat di tanah. Ambulans masih mengangkut korban tewas," tutur seorang tentara yang ada di area pelabuhan Beirut.

"Ledakan itu seperti sebuah bom atom," ucap seorang warga Beirut bernama Makrouhie Yerganian (70), seorang pensiunan guru yang tinggal di dekat pelabuhan Beirut selama bertahun-tahun.

"Saya telah mengalami semuanya, tapi tidak pernah yang seperti ini," tuturnya, merujuk pada pengalamannya berada di tengah perang sipil tahun 1975-1990 di Lebanon.

11. Presiden Tetapkan 3 Hari Masa Berkabung

Presiden Lebanon Michel Aoun menetapkan hari berkabung serta memerintahkan investigasi untuk mengusut peristiwa itu.

Dilansir BBC, Rabu (5/8/2020), Aoun menetapkan 3 hari masa berkabung.

Selain itu dia juga menganggarkan 100 miliar lira atau USD 66 juta sebagai dana darurat untuk menanggulangi dampak dari ledakan itu.

Aoun, seperti dilansir CNN, juga mengerahkan militer untuk melakukan penyelidikan.

12. Gubernur: Mirip Bom di Hiroshima dan Nagasaki

Ledakan dahsyat di Lebanon ini mengingatkan Gubernur Marwan Abboud dengan ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang.

"Ini mirip dengan apa yang terjadi di Jepang, di Hiroshima dan Nagasaki. Itu mengingatkan saya. Sepanjang hidup saya, saya tidak pernah melihat kerusakan separah ini," kata Gubernur Lebanon, Marwan Abboud, dilansir CNN, Rabu (5/8/2020).

Abboud juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya menjelaskan bahwa ledakan di Lebanon ini begitu besar dan banyak orang hilang setelahnya.

"Kami tidak tahu. Tadi ada kebakaran, kemudian pemadam kebakaran datang untuk memadamkan, lalu ledakan terjadi dan mereka hilang. Kami mencari mereka," kata Abboud.

Ada 10 personel pemadam kebakaran yang hilang. Di luar itu ada banyak lagi orang hilang. Sekitar 4.000 terluka dan 78 orang meninggal dunia sejauh ini.

"Ini adalah bencana nasional," kata Aboud.

13. Kedutaan Jerman Rusak, Staf Luka-luka

Kedutaan Jerman mengalami kerusakan setelah ledakan dahsyat di Lebanon. Ada staf Kedubes Jerman dilaporkan yang mengalami luka-luka.

"Korban luka juga termasuk personel kedutaan," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Jerman, seperti dilansir AFP, Rabu (5/8/2020).

Tidak disebut jumlah pasti staf Kedubes Jerman yang luka-luka akibat ledakan ini.

"Kita untuk saat ini tidak bisa mengesampingkan apakah ada warga Jerman di antara korban tewas dan korban luka," imbuh pernyataan Kementerian Luar Negeri Jerman. (*)