Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Lengger Lanang, Penari Pria Berbusana Wanita Menghadapi Modernisasi


Budaya

Lengger Lanang, Penari Pria Berbusana Wanita Menghadapi Modernisasi

oleh. Rangga Ansori- Senin, 22 Juni 2020 16:35 WIB
IMG
Kelompok kesenian Lengger Lanang asal Banyumas saat tampil dalam acara "Borobudur International Festival" tahun 2017.

RAYAPOS | JAKARTA – Isu gender merupakan salah satu isu yang sering mendapatkan sentimen negatif dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam. Namun di Kabupaten Banyumas terdapat kelompok kesenian ‘Lengger Lanang’ yang sampai saat ini terus menjaga eksistensinya di tengah terjangan modernisasi dan sentimen gender.

Di era modern seperti saat ini sudah barang tentu masyarakat akan lebih percaya terhadap hal-hal yang bersifat rasional dan dapat dibuktikan dengan akal sehat. Kondisi ini disebabkkan oleh makin majunya kualitas pendidikan, sehingga pola pikir masyarakat dewasa ini memiliki kecenderungan menyingkirkan semua hal berbau mistis pada tatanan kehidupanya.

Jelas ini merupakan kabar gembira, kualitas pendidikan merupakan salah satu faktor penentu kemajuan peradaban sebuah bangsa. Namun bagaimana dengan kebudayaan-kebudayaan hasil dari peradaban nenek moyang kita terdahulu? Padahal kebudayaan merupakan hasil dari peradaban di masa lalu yang harusnya bisa menjadi acuan bagi setiap bangsa yang sedang melangkahkan kakinya menuju kejayaan.

Lengger Lanang dalam tatanan kebudayaan masyarakat Banyumas merupakan salah satu bentuk seni budaya yang kurang mendapat tempat di era modern seperti saat ini. Kini kelompok kesenian lengger lanang di wilayah Kabupaten Banyumas bisa dihitung jari jumlahnya.

Saat ini terdapat beberapa kelompok lengger lanang Banyumasan yang masih eksis, mereka menyebar di beberapa daerah seperti Somagede, Baturaden, Kedungbanteng, Wangon, dan Jatilawang.

Istilah Lengger

Istilah lengger sendiri merupakan penggabungan dari dua suku kata dalam bahasa jawa dialek banyumas, yaitu leng yang berarti lubang dan jengger atau jengger ayam. Dua kata tersebut kemudian digabungkan, masyarakat banyumas tempo dulu menyebutnya sebagai lengger (diarani leng jebule jengger) yang artinya ‘dikira perempuan ternyata laki-laki’.

Kesenian ini besar dan menjadi seni populer dalam lingkup masyarakat agraris jawa, bahkan kesenian lengger ditulis dalam karya legendaris kesusastraan jawa baru ‘Serat Centini’ karya Ranggasutrasna (Raden Ngabei), dan Darusprapta.

Karya sastra legendaris yang berisikan nilai-nilai seksualitas dan mistis jawa ini memuat tentang kesenian lengger lanang sebagai sebuah kebudayaan yang hidup dalam realitas sosial masyarakat jawa.

Fenomena Silang Gender

Fenomena silang gender paling banyak muncul pada bentuk kesenian jawa yang mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat pedesaan.

Hal ini pernah disebutkan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, seorang mantan Gubernur Jenderal VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang menelurkan karya ensiklopedia kebudayaan Indonesia berjudul‘History of Java” pada tahun 1817. Dalam hal ini Rafles mengelompokan lengger lanang sebagai kesenian yang berkembang pada masyarakat pertani jawa, sejenis dengan ronggeng, dan tayub.

Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, banyak yang menyimpulkan bahwa fenomena silang gender terjadi karena adanya kebutuhuan duniawi dalam bentuk hiburan. Penari lengger pria berdandan wanita sebenarnya merupakan fenomena silang gender yang cukup tua, khususnya di wilayah Kabupaten Banyumas.

Dandanan wanita dalam pentas lengger ini perlu dimaknai dengan cermat, dimana dananan mereka ini merupakan bentuk pengingat bagi masyarakat tentang nilai-nilai kehidupan. Kesenian ini menggambarkan tentang ketiadaan kata “asli”, yang ada hanya bentuk kinerja yang semakin lama menjadi semakin terlihat alami.

Pada dasarnya para penari pria bukanya sedang meniru sosok wanita, namun mereka sedang memparodikan anggapan anggapan-anggapan sempit masyarakat tentang gender dan feminitas. Faktanya secantik apapun penari pria saat tampil dalam balutan busana wanita di atas panggung, pada kehidupan sehari-hari mereka tetap sosok laki-laki yang menjalankan peran sosial seperti semestinya.

Perkembangan Lengger Lanang

Lengger lanang dahulu merupakan kesenian yang menjadi bagian dari ritual masyarakat setelah masa panen berakhir, lengger lanang menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil pertanian mereka selama satu tahun.

Bahkan beberapa menempatkan pertunjukan lengger lanang sebagai simbol bentuk persembahan kepada Dewi Sri (Dewi Kesuburan) dalam ajaran keagamaan lokal masyarakat jawa.

Namun semakin maju zaman, kesenian ini juga mengalami peralihan fungsi yang sebelumnya sebagai tarian religius berubah menjadi kesenian untuk keperluan pertunjukan. Saat ini “tanggapan” (pementasan) lengger lanang lebih sering untuk acara-acara seperti pentas budaya, pernikahan, khitan, dan acara adat lain.

Saat ini beberapa kelompok lengger lanang sendiri masih aktif, mereka bahkan rutin dipentaskan dalam beberapa festival budaya yang digelar pemerintah daerah. Baru-baru ini kisah tentang perjalanan hidup seorang lengger lanang juga sempat di kisahkan dalam film berjudul ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ garapan sutradara Garin Nugroho.

Film ini di ilhami dari kisah nyata seorang penari lengger lanang asal Banyumas yang berhasil ‘go international’ bernama Rianto. Kendati sempat menuai kontroversi di kalangan masyarakat, namun film yang di rilis pada tahun 2019 ini sebenarnya memberikan banyak pelajaran tentang realitas sosial dalam kehidupan masyarakat jawa.

(**)