Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Rampogan Macan, Penyebab Punahnya Harimau Jawa


Budaya

Rampogan Macan, Penyebab Punahnya Harimau Jawa

oleh. Rangga Ansori- Rabu, 20 Mei 2020 11:32 WIB
IMG
Rampokan macan di Kediri (1890-1925)

Rayapos | Jakarta – Kepunahan satwa pada era modern umumnya disebabkan oleh perburuan yang tidak terkontrol, alih fungsi hutan, terganggunya rantai makanan, dan faktor lain yang hampir seluruhanya disebabkan oleh campur tangan manusia.

Melihat beberapa dekade belakangan di Jawa marak diadakan budaya Rampogan Macan yang menyebabkan populasi Harimau Jawa Menurun drastis, hingga akhirnya dinyatakan punah pada periode tahun 1980an.

Awal mulanya pertarungan antara kerbau dengan harimau telah ada sejak abad ke-17 di kerajaan Mataram, dimana pertarungan ini kerap digelar pada hari raya Idul Fitri dan tahun baru Islam.

Namun pertarungan itu berubah sejak abad ke-18 dimana harimau mulai di tarungkan melawan manusia, bukan lagi melawan kerbau.

Pertunjukan rampogan macan biasanya digelar secara rutin oleh Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Rampogan Macan digelar sejak tahun 1791 oleh Kesultanan Yogtakarta setiap perayaan Idul Fitri dan tahun baru Islam di alun-alun utara.

Kala itu pertarungan antara harimau melawan manusia disimbolkan sebagai ajang ruwat diri terhadap dosa-dosa yang diperbuat selama satu tahun, dimana harimau sendiri di jadikan simbol dari dosa-dosa manusia.

Pertunjukan rampogan macan pada masanya digelar secara umum, sehingga kerap kali memeriahkan perayaan Idul Fitri dan tahun baru Islam.

Dalam rampogan harimau dimasukan kedalam beberapa kandang yang ditempatkan di tengah-tengah alun-alun.

Ribuan prajurit bertombak ditempatkan mengelilingi kandang-kandang harimau, sedangkan sultan berserta keluarganya menyaksikan dari tempat aman.

Bersamaan dengan tabuhan gamelan dan dinyalakanya api lalu harimau dilepaskan dari dalam kandang, saat itulah ribuan prajurit bertombak akan memburu Harimau sampai mati.

Budaya rampogan sempat menyebar sampai ke daerah Jawa Timur seperti Blitar, Kediri, dan Tumapel, pada dekade 1870an.

Rampogan bertanggung jawab atas menurunya populasi Harimau Jawa pada masa itu, namun kabupaten-kabupaten di Jawa masih rutin menggelar pertunjukan Rampogan Macan.

Hingga akhirnya pemerintah Hindia Belanda melarang diselenggarakanya Rampogan Macan sejak tahun 1905, tetapi larangan tersebut tidak sepenuhnya menyelamatkan Harimau Jawa.

Pada periode tahun 1980an akhirnya Harimau Jawa dinyatakan punah akibat perburuan dan maraknya alih fungsi hutan menjadi ladang di seluruh Jawa.

(**)