Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Kabupaten Sitaro Sulut Zero Covid-19, Raih Penghargaan BNPB


Kesehatan

Kabupaten Sitaro Sulut Zero Covid-19, Raih Penghargaan BNPB

oleh. Muchlis Aji- Jumat, 16 Oktober 2020 16:49 WIB
IMG
Bupati Kepulauan Sitaro, Evangelian Sasingen

Rayapos | Jakarta - Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) Sulawesi Utara (Sulut) ternyata nol kasus Covid-19. Bupatinya, Evangelian Sasingen mendapat penghargaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencara (BNPB) di Jakarta, Kamis 15/10/20)

Kabupaten Sitaro berada di sebuah pulau di utara Sulut. Jumlah penduduk hingga akhir tahun 2019 berjumlah 73.584 jiwa.

Apa rahasia Kabupaten Sitaro bisa zero Covid-19? Jawabnya, selain karena letaknya berada di kepulauan, juga seluruh komponen masyarakat, pemuka adat, dan tokoh agama jadi kunci. Mereka benar-benar berjuang mencegah penularan Covid-19.

Sejak Maret hingga Mei, Sitaro menuai prestasi sebagai daerah dengan ‘Zero Covid-19’.

Dalam talkshow “Zero Covid-19 Penerima Penghargaan BNPB” di Media Center Satgas Covid-19 Graha BNPB Jakarta, Kamis (15/10/2020), Bupati Kepulauan Sitaro, Evangelian Sasingen mengatakan: 

Prestasi itu membuat Sitaro menjadi salah satu kabupaten yang mendapatkan penghargaan tinggi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Evangelian Sasingen mengatakan, sebelum pemerintah mengumumkan secara resmi Covid-19, dirinya sudah menginformasikan kepada seluruh warga untuk memperketat pengawasan di sepuluh pintu masuk pulau.

“Di setiap pintu ada pemeriksaan ketat. Awal-awal kami tidak menggunakan pelindung karena belum ada APD. Kami gunakan jas hujan sebagai pengganti,” ujar Bupati Eva, sapaan akrab Evangelian Sasingen.

Bupati Eva menjelaskan, kasus Covid-19 sempat muncul di akhir Mei dan Juni dari satu klaster pasar.

Saat itu, dirinya memutuskan menutup pasar untuk sterilisasi. Sementara pasien positif langsung di-tracing sampai satu kelurahan.

Begitu hasilnya reaktif mereka langsung ditampung di rumah singgah. Diobati, dan sembuh.

Selain membangun rumah singgah, Bupati Eva membentuk tim Gugus Tugas dari tingkat kecamatan, kelurahan, desa, sampai kampung.

Tim ini memantau ketat seluruh tamu yang masuk.

“Kami bangun rumah singgah di kabupaten, kecamatan, hingga desa semua ada. Setiap orang masuk harus diisolasi 2 minggu sebelum ke tempat tujuan,” ujarnya.

Tokoh adat Kepulauan Sitaro Erland, Jaya Salindeho mengatakan kerjasama masyarakat, budaya, dan pemerintah daerah sangat maksimal.

Hanya kata dia, tantangan yang dihadapi adalah sumber daya manusia di kampung-kampung terpencil.

Namun semua itu teratasi dengan membentuk lembaga adat.

“Pembentukan lembaga adat itu memberi hasil positif untuk mengedukasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, dan penanganan bencana alam,” tandasnya. (*)