Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Pemerintah Bantah Terapkan Herd Immunity


Kesehatan

Pemerintah Bantah Terapkan Herd Immunity

oleh. Andrew Tito- Selasa, 19 Mei 2020 19:42 WIB
IMG
Sungguh sulitnya mengatur masyarakat. Di Pasar Anyar, Bogor, Jawa Barat, kondisi pada Senin (18/5/2020) seperti ini. Foto: Antara

Rayapos } Jakarta - Rencana pelonggaran PSBB, menimbulkan dugaan bahwa pemerintah menerapkan herd immunity (masyarakat kebal Corona). Dugaan tersebut langsung dibantah tegas.


Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, membantah dugaan tersebut. 


Menurutnya, dugaan tersebut tidak berdasar. Pemerintah tidak pernah menerapkan herd immunity di Indonesia.


“Apakah pelonggaran itu berarti kemudian tidak ada PSBB? Apakah kemudian pelonggaran dimaknai pencabutan PSBB? Apakah kemudian dimaknai dengan tidak ada tatanan hidup normal baru? Enggak ada herd immunity dipakai di Indonesia,” kata Yurianto kepada wartawan, Selasa (19/5).


“Dasarnya apa? Yang pasti herd immunity enggak pernah dipakai di Indonesia,” sambungnya.


Bukan hanya Indonesia, Inggris dan Swedia pun diduga menerapkan herd immunity. Tapi, kedua negara tersebut juga sudah membantah.


Dugaan tersebut muncul, sebab pemerintah bakal mengizinkan orang berusia 45 tahun ke bawah kembali bekerja. Itu menekan dampak PHK selama pandemi corona.


Kepala BNPB, Doni Monardo, saat jumpa pers, Senin (11/5/2020) mengatakan:


“Kelompok muda usia di bawah 45 tahun mereka adalah secara fisik sehat, mereka punya mobilitas tinggi dan rata-rata kalau toh mereka terpapar mereka belum tentu sakit, mereka tidak ada gejala. Kelompok ini tentunya kita berikan ruang untuk beraktivitas lebih banyak lagi sehingga potensi terkapar karena PHK bisa kita kurangi.” 


Di sisi lain, izin pemerintah tersebut mendapat kritik dari Pandu Riono, ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 


Menurut Pandu, alasan yang dipakai pemerintah tidak berdasar epidemiologis karena tidak melihat aspek persebaran wabah lebih lanjut. 


Sebab, meski belum tentu sakit, orang berusia 45 tahun ke bawah bisa saja menularkan ke orang lain yang lebih rentan.


Hingga Selasa (19/5) pagi, Indonesia telah memiliki 18.010 kasus virus corona dengan catatan 1.191 pasien COVID-19 meninggal. Dari data tersebut, 48,7 persen kasus disumbang oleh orang di kelompok umur 18-45 tahun.


Kelompok umur tersebut juga menyumbang 14,8 persen total kematian pasien COVID-19 di Indonesia.


Sampai saat ini tidak jelas kategori pekerjaan apa saja yang diizinkan bagi orang berusia 45 tahun ke bawah untuk kembali masuk kerja. 


Menurut Yurianto, izin yang diberikan pemerintah itu tidak berlaku untuk semua pekerjaan.


“Kalau dia umur 45 kerjaannya cuma buka mal, ya, enggak boleh orang mal sampai sekarang enggak boleh dibuka,” kata Yurianto. 


“Tetapi, pekerja di transportasi, di jasa pengiriman barang, dan industri makan, ya umur 45 saja lah yang kerja, yang 45 ke atas terlalu berisiko. Seperti itu bunyinya.”


Meski demikian, contoh yang disampaikan Yuri tidak sesuai dengan rencana pemerintah.


Sebelumnya pada akhir pekan kemarin, Menteri BUMN Erick Thohir telah merencanakan pegawai BUMN yang usianya di bawah 45 tahun untuk masuk kantor mulai 25 Mei 2020. Adapun pegawai yang usianya di atas 45 tahun diminta tetap bekerja dari rumah (work from home/WFH).


Kebijakan ini Erick tanda tangani dalam suratnya ke Direktur Utama BUMN pada 15 Mei 2020 dengan agenda Antisipasi Skenario The New Normal Badan Usaha Milik Negara. 


Sejumlah perusahaan BUMN, dari Bank Mandiri hingga Telkom, telah menyanggupi skenario tersebut. Meski demikian, tanggal pasti masuknya karyawan BUMN yang berusia 45 tahun ke bawah belum dapat diketahui karena sedang dikaji oleh pemerintah. (*)