Faisal Basri Ungkap Petral, Muhammad Riza Chalid, Dahlan Iskan

Rayapos | Jakarta - Mafia Migas di Indonesia diungkap lagi. Oleh Mantan Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basri. Menyebut Petral, Muhammad Riza Chalid, dan Dahlan Iskan.

Ternyata, menurut Faisal Basri, Petral pernah seolah-olah dikesankan dibubarkan pada zaman Menteri BUMN Dahlan Iskan. Ternyata...

Faisal Basri, master bidang ekonomi dari Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika (1988). Dia kritikus ekonomi yang sangat tajam sejak zaman Orde Baru. Kredibilitasnya juga bagus.

Faisal Basri blak-blakan bongkar mafia migas di tengah permainan Pemilu 2019.

Faisal ungkapkan bagaimana keterkaitan antara partai pemerintah dan pengusaha Mohammad Riza Chalid.

Faisal Basri menjelaskan, sebelumnya tim reformasi migas berhasil membongkar pemburu rente migas yang memanfaatkan pemerintah untuk membuat kebijakan yang menguntungkan perusahaan milik pengusaha Mohammad Riza Chalid. 

Perusahaan anak Pertamina, PT Pertamina Energy Trading Ltd (petral) diketahui mengatur sejumlah kontrak pembelian impor migas di bawah Pertamina Energy Service (PES), Singapura.

Disitulah kata Faisal, mereka mengeruk keuntungan dari impor Migas yang diperlukan Indonesia.

“Diatur-lah oleh PES ini, siapa yang bisa memasok minyak, baik minyak mentah dan BBM,” kata Faisal saat wawancara dengan Asumsi,  Senin (7/10/2019).

Sebenarnya, kata Faisal, hal itu sudah berlangsung sejak zaman pemerintahan SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono).

Saat itu mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah berniat membubarkan Petral. Bukan hanya berniat, tapi sudah dikatakan.

Ternyata, lanjut Faisal Basri, akhirnya justru Dahlan yang mendapat teguran dari SBY.

“Makanya, jangan main-main dengan mafia migas ya,” kata Faisal.

Berangkat dari kegaduhan yang sempat dibuat Dahlan Iskan, lanjutnya, memang sempat ada pembenahan di era SBY soal mafia Migas.

Namun, ia meyakini, pembenahan tersebut hanya bohong-bohongan, untuk menutupi fakta di balik isu mafia migas di Petral.

“Tidak jadi pembubaran itu. Batal. Tapi kesannya ada pembenahan bohong, dimana PES hanya boleh membeli dari BUMN asing, tapi sebenarnya bukan di situ masalahnya,” jelas Faisal.

Padahal, kata Faisal, yang harusnya dibenahi ialah makelar-makelar Migas bukan menyalahkan trader migas.

“Ya... itulah, banyak keterlibatan penguasa, sehingga hal-hal itu tetap dipelihara,” jelas Faisal.

Kini Petral telah dibubarkan. Meski begitu, Faisal tidak yakin sepenuhnya mafia migas akan berhenti menjadi lintah darat bagi negara ini.

Hal ini lantaran, Muhammad Riza Chalid yang namanya pernah disebut terkait dengan Petral, disebut memiliki kedekatan dengan salah satu partai pemerintah yakni Nasdem.

Pernyataan Faisal dikuatkan dengan kehadiran Muhammad Riza Chalid di acara Nasdem.

“Nah sekarang dia dekat dengan Nasdem. Ada satu acara dengan Nasdem,” kata Faisal.

Selain itu ia juga menyebut Muhammad Reza Chalid kini memiliki perusahaan yang dibangun bersama Sekretaris Jenderal Nasdem, Johny G Plate.

“Dan dia punya perusahaan sama Johny Plate. Main di Migas juga, sampai sekarang dapat kredit dari BRI 26 juta dolar, jadi gak berhenti-henti itu,” jelas Faisal.

Pembersihan Sektor Migas

Diketahui, berangkat dari hasil investigasi tim reformasi Migas, Petral dibubarkan tahun 2015. Kali ini benar-benar dibubarkan. Saat Indonesia dipimpin Presiden Jokowi.

Faisal Basri mengapresiasi kinerja pemerintah untuk membubarkan PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral), anak usaha PT Pertamina (Persero).

Menurut Faisal, hal tersebut adalah janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang terpenuhi.

"Ini komitmen pemimpin tertinggi. Bukan hanya Petral dibubarkan tapi pembersihan sektor migas," ujar Faisal kepada wartawan di kantor INDEF, Selasa (26/5/2015).

Faisal memaparkan, Presiden Jokowi mengerti situasi yang dihadapi sektor migas saat ini.

Faisal berpendapat, ada banyak pihak yang ingin mengatur negara, melalui sektor migas. Yang keadaannya sedang berantakan di dalam negeri.

"Presiden sadar sekali, ada kekuatan besar ikut mendikte dan mengancam kekuatan demokratis," ungkap Faisal.

Faisal juga mengaku salut dengan kecepatan dari kinerja pemerintahan Jokowi dalam memperbaiki sistem sektor migas.

Dari komitmen Presiden Jokowi, Faisal melihat realisasinya dilakukan dengan baik oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said.

"Saya nggak pernah ketemu Jokowi, tapi saya lihat gerak geriknya, saya pada kesimpulan subjektivitas saya. Komitmen luar biasa, sampai ke Sudirman Said," kata Faisal. (*)