DIUNGKAP, AD/ART FPI

DIUNGKAP, AD/ART FPI

Oleh: Djono W Oesman




Mndagri Tito Karnavian di rapat DPR RI


Rayapos | Jakarta - Izin Ormas FPI dibahas di Rapat Komisi II DPR RI bersama Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian. Di situ AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumahtangga) FPI dibuka.

"Mengenai masalah ormas terkait FPI, ini masih pada kajian di Kementerian Agama. Betul rekan-rekan dari FPI sudah buat surat di atas meterai mengenai kesetiaan atau pernyataan terhadap negara dan Pancasila," kata Tito Karnavian di rapat Komisi II DPR RI.

Dilanjut: "Tapi problemnya di AD/ART FPI."

"Di AD/ART itu di sana disampaikan tadi juga sudah dibacakan Pak Junimart bahwa visi dan misi organisasi FPI adalah penerapan Islam secara kafah di bawah naungan khilafah Islamiyah melalui pelaksanaan dakwah, penegakan hisbah dan pengawalan jihad," kata Tito

Dilanjut: "Ini yang sedang didalami lagi oleh Kementerian Agama karena ada pertanyaan yang muncul, karena ini ada kabur-kabur bahasanya."

Dijelaskan Tito Karnavian soal teori teologi dari kata-kata 'penerapan Islam secara kafah'. Tito kemudian menyinggung soal NKRI bersyariah.

"Nah, kata-kata mengenai penerapan Islam secara kaffah ini teori teologinya bagus," kata Tito.

Dilanjut: "Tapi kemarin sempat muncul istilah dari FPI mengatakan NKRI bersyariah. Apakah maksudnya dilakukan prinsip syariah yang ada di Aceh, apakah seperti itu."

Dilanjut: "Kalau dilakukan bagaimana tanggapan dari elemen-elemen lain, elemen-elemen nasionalis mungkin, elemen minoritas yang dulu pernah dipikirkan oleh para founding fathers kita."

Dilanjut: "Salah satu yang diperhitungkan kemungkinan nanti akan diimbangi lagi di daerah-daerah tertentu."

"Seperti di Papua dulu pernah Manokwari membuat perda sendiri, sesuai dengan prinsip keagamaan di sana."

"Nanti Bali juga membuat perda sendiri sesuai prinsip keagamaan di sana. Ini bisa berdampak pada goyangnya solidaritas kebinekaan, ini semua saya kira silakan kita pikirkan sebagai wacana."

"Kemudian di bawah naungan khilafah Islamiyah, kata-kata khilafah-nya kan sensitif, apakah biologis khilafah Islamiyah ataukah membentuk sistem negara. Kalau sistem negara bertentangan dengan prinsip NKRI ini," jelas Tito.

Tito kemudian membahas soal pelaksanaan dakwa yang menurutnya tak masalah. Namun dia kembali menyoroti soal penegakan hisbah.

"Pemahaman hisbah ini yang kendalanya amar ma'ruf nahi munkar ini kadang-kadang dilakukan di lapangan dengan cara-cara melakukan penegakan hukum sendiri. Sweeping sendiri."

"Kita melihat ini menjelang Natal, dulu pernah menjelang Natal sweeping atribut Natal, pernah. Kemudian ada macam-macam ada perusakan tempat hiburan dll dalam rangka penegakan hisbah."

"Nah ini perlu diklarifikasi," sebut Tito.

Tito menyebut klarifikasi soal penegakan hisbah ini jika dilakukan akan bertentangan dengan sistem hukum di Indonesia.

Menurutnya, penertiban hukum sepenuhnya kewenangan penegak hukum, bukan ormas.

Selain itu, Tito menyinggung soal diksi jihad. Jihad, kata Tito, banyak artinya dan ada yang menganggap jihad itu perang. Tito ingin hal-hal ini diklarifikasi.

"Jangan sampai yang di grass root menyampaikan, 'oh jihad perang, perang berarti kita boleh melakukan aksi amaliah'. Dalam amaliyah dalam bahasa sana kelompok sana, tapi dalam pemahaman sehari-hari ya serangan teror gitu," ucap Tito.

"Nah, ini yang perlu diklarifikasi dalam pasal 6 ini dan ini sekarang sedang jadi kajian oleh Kemenag yang lebih memahami tentang apa terminologi keagamaan itu. Jadi sifatnya sekarang di sana di Kemenag untuk membangun dialog dengan FPI, ya kita tunggu saja seperti apa hasilnya," jelas Tito. (*)