CEO GoPay Dulu Jualan Panci, Loh...

CEO GoPay Dulu Jualan Panci, Loh...




Aldi Haryopratomo (kanan). Foto: Capture Youtube


Rayapos | Jakarta - Jangan sepelekan semangat orang. Kata ini cocok untuk Aldi Haryopratomo, CEO GoPay. Dia lulusan Harvad University, Amerika. Tapi pernah jualan panci di desa. 


Itu terungkap dalam vlog baru di akun youtube Arief Muhammad berjudul 'Undercover bareng CEO GoPay'. Tayang pada Jumat (9/8/2019).


Dalam wawancara itu Arief Muhammad membongkar berbagai hal tentang Aldi.


Mulai dari pendidikannya, sampai kebiasaan uniknya kerap mengambil orderan GoJek.


Bukan cuma itu, Aldi juga kerap turun langsung melakukan survei terhadap pedagang pengguna GoPay. 


Alasannya hanya satu, ia ingin tahu langsung apa yang dialami para pengemudi Ojol Gojek maupun pedagang dalam memakai aplikasi GoPay. 


Dengan cara itu Aldi bisa mendapatkan jawaban yang jujur terkait baik buruknya pelayanan GoPay. 


Aldi mengaku tak ada yang sadar bahwa dirinya CEO GoPay setiap sedang narik GoJek atau melakukan survei terkait GoPay. 


"Nggak ada yang tahu biasanya," ujar Aldi. 


Tapi beberapa kali ada pengemudi Ojol yang menyadari bahwa mukanya mirip CEO GoPay. 


"Ketika itu lagi ada wawancara CEO GoPay," ujar Aldi. 


Akibat wawancara itu banyak tayang di media, salah satu pengemudi Ojol di tempat ia nongkrong pun menyadari kemiripan Aldi dengan CEO GoPay. 


"Terus dibilang ama mereka, 'wah elu mirip nih ama CEO GoPay'. 'Ya mirip aja mukanya, nasib mah beda ya'," ujar Aldi menceritakan ejekan candaan dari para rekan driver Ojol. 


Bagaimana kisah Aldi sampai akhirnya bisa menjadi CEO GoPay?


Jalan ceritanya cukup berliku. Menunjukkan betapa pentingnya perjuangan dalam hidup, serta keinginan untuk membuat orang lain maju. 


Aldi anak seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Artinya dia tak memiliki banyak jaringan bisnis turun temurun dari sang ayah. 


Tapi Aldi memiliki keinginan kuat untuk sekolah di luar negeri. 


Hal itu terwujud ketika ia mendapatkan beasiswa S-1 Teknik Elektro dari Purdue University, Amerika Serikat. 


Ia lulus dari Purdue University dengan predikat cumlaude. 


Lalu,Aldi bekerja di California. Di perusahaan penyaluran kredit mikro untuk orang-orang di negara berkembang. 


Berikutnya Aldi sempat mendirikan bisnisnya sendiri yang bergerak di mikro finance. Tapi tak berlanjut karena kehabisan dana. 


Dari situ Aldi sadar, ia harus memiliki jaringan bisnis yang baik. 


Artinya, ia harus masuk di mana banyak orang memiliki jaringan bisnis. 


Ia pun mengikut tes dan akhirnya mendapatkan beasiswa dari Harvard University. 


Lulus dari Harvard, Aldi kembali mengembangkan bisnis lamanya, yakni startup RUMA (Rekan Usaha Mikro Anda).


Dia mendapat rekan dari salah satu investor Ebay.


Starup RUMA ia jalani dengan sungguh-sungguh. 


Misi RUMA adalah meningkatkan akses, derajat, dan pendapatan bagi masyarakat berpendapatan rendah melalui teknologi.


RUMA terus berkembang. Sampai akhirnya melahirkan usaha baru, yakni Arisan Mapan. 


Arisan Mapan dimulai Aldi setelah ia melakukan berbagai survei kebutuhan warga di desa. 


Dia melihat warga desa kerap mencicil berbulan-bulan hanya untuk sebuah panci. 


Skema cicilan itulah yang ia ganti dengan skema arisan untuk membeli berbagi barang kebutuhan. 


Caranya cukup unik. Aldi meminta ibu-ibu di desa membentuk kelompok per lima orang untuk membeli panci.


Setiap bulan, setiap ibu harus menyisihkan uang Rp 50.000, dan akan ada 1 ibu mendapat panci seharga Rp 250.000. 


Dengan cara itu, kelima ibu-ibu tadi seluruhnya akan memiliki panci baru seharga Rp 250.000 hanya dalam waktu 5 bulan. 


Artinya mereka tidak perlu mencicil panci selama 8 bahkan 12 bulan. 


Segalanya terus berjalan. Sampai sebuah kesempatan akhirnya datang dari GoJek yang tengah berkembang. 


Kesempatan itu datang ketika salah satu anggota arisan Mapan tak mampu lagi ikut karena suaminya sudah meninggal. 


Dari situlah Aldi menyarankan agar si ibu ikut GoJek yang juga sedang berkembang di tahun-tahun itu. 


Kebetulan Aldi memang sudah kenal dengan pendiri Gojek, Nadiem Makarim.


Mereka saling kenal saat sama-sama kuliah di Harvard University.


Dari situ lah hubungannya dengan Nadiem kembali terjalin. 


Sampai akhirnya keduanya sepakat bergabung, dan Aldi kemudian menjadi CEO GoPay. 


Sekitar tahun 2016 Aldi jadi CEO GoPay. (*)