Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Ritual Kawalu, Tradisi Lockdown Milik Suku Baduy


Budaya

Ritual Kawalu, Tradisi Lockdown Milik Suku Baduy

by. Rangga- 09 Apr 390 Views
IMG
Suku Baduy kerap kali terlihat di ibukota saat mereka menjual madu asli dari kampung mereka.

Rayapos | Jakarta – Negara-negara di dunia saat ini banyak yang menerapkan prosedur lockdown guna memutus mata rantai menularan wabah virus Corona (COVID-19), namun prosedur penutupan akses ini ternyata bukan hal yang baru bagi masyarakat adat Baduy di Desa Kenekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kamis (09/04/2020) WIB.

Suku Baduy sendiri dikenal sebagai masyarakat adat yang tetap teguh memegang nilai-nilai tradisi dan budaya secara turun temurun dari masa ke masa.

Mereka nerapkan aturan-aturan adat yang bertujuan untuk menjaga kelestarian alam tempat mereka mencari penghiidupan dari bertani, berkebun, berburu, dan beternak. Salah satunya adalah aturan tentang pelarangan penggunaan barang-barang yang mengandung bahan kimia seperti pasta gigi, sabun, pastik, hingga pupuk kimia.

Hal ini membuat mereka kerap kali mendapat stigma negatif sebagai masyarakat adat yang kolot dan antipati terhadap kemajuan zaman, walaupun sebenarnya peraturan tersebut mereka lestarikan demi menjaga kelestarian alam.

Ketika pemerintah menggalakan prosedur yang mengarah kepada prosedur lockdown Suku Baduy juga tidak mau ketinggalan, bedanya prosedur lockdown yang mereka terapkan merupakan tradisi tahunan dengan nama ‘Ritual Kawalu’.

Ritual Kawalu dalam tradisi Suku Baduy diartikan sebagai penutupan diri dari pendatang atau wisatawan yang setiap harinya menyambangi perkampungan mereka, baik mereka yang tinggal di kawasan Baduy Luar maupun Baduy Dalam.

Penutupan akses ini dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan, dimulai sejak tanggal 25 Februari 2020 atau 1 Kawalu Tembey (1 Safar dalam perhitungan kalender Suku Baduy).

Hal ini bertujuan untuk menghindari segala macam penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit non-fisik yang biasanya datang melalui para pendatang yang keluar masuk ke tanah adat mereka.

Selain itu juga memberikan waktu istirahat bagi alam Baduy untuk memperbaiki kelestarianya setelah beberapa bulan sebelumnya telah menyambut para pendatang dan wisatawan.

Ritual Kawali sendiri merupakan hari besar bagi masyarakat adat Suku Baduy dimana pada saat itu mereka akan banyak menggelar upacara adat, sehingga jika akses masuk tidak ditutup dikhawatirkan pengawasan dan pelayanan terhadap para wisatawan tidak akan maksimal.

“Tentu ada relevansi secara kebetulan, dari sisi timing (waktu) saat ini kebetulan Kawalu kita kaitkan (dengan) situasi dunia saat ini. Kita bisa ambil teladan dari kearifan lokal Baduy mengenai proteksi komunitas terhadap penyebaran penyakit saat ini,” ungkap Uday Suhada (Pendamping Adat Suku Baduy) dalam sebuah wawancara dengan BantenNews.

“Kalau Kawalu tertutup karena mereka khawatir ketika ada tamu datang tidak bisa menerima dengan baik karena sibuk di lembaga adat,”

“Istilahnya Baduy di-lockdown dari tamu. Ibarat bandara itu ditutup. Mulai dari Ciboleger, Cisimeut, Cibeo, itu bagian upaya mencegah penyebaran virus Covid-19,” jelasnya.

(**)

Category