Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
Berita Cepat dan Akurat
Kim Jong Un Bakal Diganti Adiknya


Asia

Kim Jong Un Bakal Diganti Adiknya

26 Apr 255 Views
IMG
Adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo-jong. Foto: Resuters

Rayapos | Jakarta - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dikabarkan meninggal, tapi tidak terkonfirmasi ke negeri tertutup itu. Adiknya, Kim Yo-jong disiapkan jadi pengganti. Juga tak terkonfirmasi.


Media massa internasional (apalagi media sosial) ramai mengabarkan hal ini. Sampai trending topic di Twitter.


Kabarnya, Kim Jong Un meninggal pasca operasi kardiovaskular.


Dikutip dari berbagai sumber, Kim Jong Un perokok dan suka minuman keras. Bahkan, sejak dia remaja.


Tentang itu, pengasuh masa kecil Jong Un menceritakannya. Nama pengasuhnya Kenji Fujimoto. Orang Jepang.


Soal, bagaimana Kenji Fujimoto bisa masuk lingkar dalam Istana, tak terjelaskan. Padahal, sebelum tahun 1940 Jepang menjajah Korea. 


"Dulu, di istana saya punya dua tugas," cerita Kenji Fujimoto.


Pertama, untuk melayani Kim Jong Il (ayah Kim Jong Un), Kenjit adalah koki sushi utamanya.


Kedua, mengurus Kim Jong Un kecil, ketika itu usia 6 tahun.


"Bagi Kim Jong Un, saya adalah kawan bermainnya, hampir seperti pengasuh," kata Fujimoto seperti dikutip harian Daily Mail.


"Saya bisa katakan, saya adalah orang terdekat Kim Jong Un di masa kecilnya. Saya bahkan merasa dia adalah anak saya sendiri," tambah Fujimoto.


Sejak Jong Un berusia enam tahun, Kenji Fujimoto menghabiskan waktunya hampir setiap hari bersama Jong Un.


Menurut ingatan Fujimoto, Jong Un sudah meminta belajar nyetir mobil, yaitu sebuah sedan Mercedes, saat baru berusia tujuh tahun.


"Mereka menempatkan sebuah kotak di kakinya untuk membantunya menginjak pedal dan seorang lainnya memberi petunjuk. Mobil pertamanya adalah sebuah Mercedes-Benz. Sekarang dia memiliki sekitar 10 buah Mercedes dan semuanya antipeluru," kenang Fujimoto.


Pada usia 14 tahun, Kim Jong Un mulai mencoba merokok.


Bahkan, Kim Jong Un kerap mengetuk pintu kamar Fujimoto pada pukul 03.00 dini hari hanya untuk meminta rokok. Jong Un kecil sudah mulai minum minuman keras pada usia 14 tahun.


"Dia minum sangat banyak untuk ukuran remaja. Dia minum vodka terbaik Rusia. Tak jarang dia menghabiskan sendiri satu botol vodka," kata Fujimoto. Tentu saja mabok.


Seiring waktu berlalu, Kim Jong Un meneruskan gaya hidup mewahnya.


Dia kerap menghabiskan waktu di dua kapal layar yang dibelikan ayahnya.


Sebuah kebiasaan awal yang bisa menjadi pembenar sebuah laporan belum lama ini yang mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara itu pada 2012 saja menghabiskan uang sebanyak 716 juta dollar AS atau sekitar Rp 8 triliun.


Pada akhir masa remajanya, Jong Un kerap berada di tengah-tengah "brigade pemuas nafsu" milik ayahnya.


Mereka adalah sekelompok perempuan muda cantik yang dipaksa bernyanyi, menari telanjang, memijat, dan melakukan hubungan badan.


Meski demikian, Fujimoto melanjutkan, saat menginjak usia 18 tahun Kim Jong Un tak menunjukkan ketertarikan terhadap perempuan dan tak suka memiliki hubungan dengan perempuan.


Kondisi ini membuat sang ayah, Kim Jong Il, sempat mengira putranya itu memang tidak menyukai perempuan.


Fujimoto berspekulasi bahwa Jong Un sebenarnya membenci kegemaran ayahnya bermain perempuan dan kemungkinan itulah sebabnya Jong Un kemudian mengeksekusi pamannya sendiri, Jang Song Taek.


Pada masa kekuasaan Kim Jong Il, sang pamanlah yang bertanggung jawab memilih para gadis itu, bahkan sang paman pula yang melakukan tes keperawanan terhadap para gadis itu sebelum dipersembahkan untuk Kim Jong Il.


Fujimoto menambahkan, masih lekat dalam ingatannya bagaimana keluarga penguasa Korut itu mempertahankan gaya hidup mewah mereka, bahkan pada saat negeri mereka mengalami bencana kelaparan selama dua dekade.


"Keluarga ini bahkan memiliki kolam renang ukuran olimpiade, bioskop pribadi, dan ruang olahraga yang sangat luas. Ruang bermain anak-anak sangat luas dilengkapi mobil remote control dan meja biliar," tambah dia.


Pada 2001, Fujimoto "kabur" dari negeri itu dan kembali ke Jepang.


Perbuatannya ini dianggap keluarga Kim sebagai sebuah pengkhianatan yang kemudian mencoba membunuh mantan koki ini.


Namun, setahun kemudian seorang pejabat Korea Utara muncul di kediaman Fujimoto dan mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara sudah memaafkannya dan memintanya kembali ke Pyongyang.


Meski sempat ragu untuk memenuhi undangan itu, Fujimoto kemudian datang dan hadir di istana kepresidenan Korea Utara.


"Saya sangat takut. Saya sudah mengkhianati Kim Jong Un dengan meninggalkan Korea Utara, jadi sangat mungkin dia akan membunuh saya," ujar Fujimoto.


Namun, hal yang dikhawatirkannya itu tidak terjadi. Kim Jong Un menyambut Fujimoto dengan senyum dan kemudian memeluknya.


"Lama tak bersua Tuan Fujimoto. Pengkhianatan Anda terhadap Korea Utara sudah lama dimaafkan," ujar Kim Jong Un.


Kim Jong Un, tambah Fujimoto, kemudian menyatakan terima kasihnya karena dia telah menemaninya semasa masih kecil.


"Lalu dia menantang saya lomba minum," kenangnya.


Meski disambut sangat baik dan kesalahannya sudah dilupakan, Fujimoto mengatakan bahwa dia tak ingin kembali ke Korea Utara dan bekerja untuk Kim Jong Un.


"Bahkan jika Pemerintah Jepang memberi saya 100 juta yen agar saya kembali ke Korea Utara, tetapi saya tak akan kembali ke sana," kata dia.


Salah satu penyebab keengganan Fujimoto kembali ke negeri komunis itu adalah eksekusi Jang Song Taek pada Desember tahun lalu.


"Sangat mungkin Jong Un menarik kembali pengampunannya dan melenyapkan saya seperti saya tidak pernah ada sebelumnya," ujar Fujimoto.


Prosesi Kekuasaan Korut


Sementara itu, sejak Kim Jong Un dikabarkan kritis, telah beredar analisis bahwa adik perempuan Kim Jong Un, yakni Kim Yo Jong yang akan menggantikan posisinya. 


Disebut bahwa Kim Yo Jong akan memimpin Korea Utara sementara sampai anak Kim Jong Un cukup umur untuk menjadi pemimpin Korea Utara. 


Tapi apakah Kim Jong Un memang sudah mempersiapkan Kim Yo Jong sebagai pengganti sementara dirinya? 


Setidaknya ada 3 hal yang selalu terjadi di Korea Utara setiap akan terjadi pewarisan kekuasaan. 

 

1. Proses 'Magang'


Dalam sejarah Korea Utara, pewarisan kekuasaan itu bahkan bisa terlihat 20 tahun sebelum kekuasan benar-benar diwariskan, bahkan bisa pula hanya 3 tahun menjelang pewarisan kekuasaan dengan cara apapun (kematian atau lainnya). 


Untuk itu marilah kita melihat bagaimana proses Kim Il Sung (pendiri Korut-Kakek Kim Jong Un) menurunkan kekuasaannya kepada sang anak, Kim Jong Il (Ayah Kim Jong Un). 


Selain itu, mari kita lihat juga bagaimana Kim Jong Il menurunkan kekuasaannya ke putera keduanya, Kim Jong Un. 


Dalam penurunan kekuasaan terdahulu, selalu ada masa persiapan atau magang terhadap calon pemimpin Korea Utara. 


Dikutip dari berbagai sumber, Kim Il Sung mulai memasukkan Kim Jong Il ke dalam pemerintahan Korea Utara sekitar tahun 1970.


Tapi, BBC dalam sebuah tulisan berjudul 'Kim Jong-un: Bukan 'putra mahkota' tapi akhirnya menjadi pemimpin Korea Utara' pada 4 Juni 2018, justru menyebut bahwa Kim Il Sung telah mempersiapkan Kim Jong Il sejah 1950an. Dimana Kim Jong Il kerap ikut dalam sejumlah kegiatan yang dihadiri Kim Il Sung


Bahkan sejak tahun 1980, Kim Il Sung sudah memberikan Kim Jong Il jabatan-jabatan penting di dalam pemerintahan. 


Bahkan pada awal 1990an, sudah sangat jelas bahwa Kim Jong Il akan menggantikan karena Kim Jong Il sudah diberi julukan-julukan seperti sang ayah. 


Benar saja ketika Kim Il Sung meninggal, Kim Jong Il langsung menggantikannya. 


Artinya proses magang Kim Jong Il sebelum menggantikan ayahnya berjalan selama 20 tahun. 


Lalu bagaimanakah proses pergantian Kim Jong Il ke Kim Jong Un? 


Sebuah tulisan di Tempo Edisi 15 September 2008 dalam sebuah tulisan berjudul 'Korea Utara Setelah Kim Jong Il', cukup menggambarkan suasana yang mirip dengan apa yang terjadi pada Kim Jong Un akhir-akhir ini. 


Proses magang Kim Jong Un jauh lebih singkat ketimbang proses magang Kim Jong Il. 


Kim Jong Un tercatat hanya menjalani proses 'magangnya' selama 2 tahun. 


Setidaknya proses 'magang' Kim Jong Un dimulai pada tahun 2009 ketika dia mulai diberikan beberapa jabatan oleh Kim Jong Il. 


Sehingga analisis yang muncul dari Pengajar Hubungan Internasiona Universitas Yonsei, Lee Jung Min, justru kalangan militer yang akan menggantikan Kim Jong Il, berbagai dengan sosok dari keluarga yang Kim yang tidak diketahui siapa. . 


Tulisan di wikipedia menunjukkan bahwa gelagat Kim Jong Un akan memimpin Korea Utara sudah mulai kelihatan pada tahun 2009.


Pada tanggal 8 Maret 2009, BBC mengabarkan bahwa Kim Jong-un telah menjadi salah satu kandidat dalam pemilihan parlemen Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara.


Laporan berikutnya mengabarkan namanya tidak muncul dalam daftar anggota parlemen, namun ia malah diberi jabatan tingkat menengah pada Komisi Militer Sentral, yang merupakan salah satu cabang militer Korea Utara.


Pada tahun 2009, para diplomat asing mulai memahami bahwa Kim Jong-un akan menggantikan ayahnya sebagai ketua Partai Buruh Korea dan sekaligus sebagai pemimpin masa depan Korea Utara secara de facto.


Selain itu, media menjulukinya dengan "Yŏngmyŏng-han Tongji, yang diterjemahkan secara bebas menjadi "Teman Brilian.


Selain itu, Kim Jong Il juga meminta agar para staf kedutaan asing menunjukkan kesetiaan kepada putranya.


Dilaporkan pula bahwa warga Korea Utara diperintahkan untuk menyanyikan "lagu pujian" bagi Kim Jong-un dalam gaya yang serupa dengan lagu pujian yang dinyanyikan untuk Kim Jong-il dan Kim Il-sung.


Pada bulan Juni, Kim Jong-un dilaporkan telah melakukan kunjungan ke RRT secara diam-diam untuk "menunjukkan dirinya" kepada para pemimpin RRT, walaupun Menteri Luar Negeri RRT membantah kunjungan tersebut.


Pada tahun 2010 sudah semakin jelas bahwa Kim Jong Il menginginkan Kim Jong Un sebagai pengganti dirinya. 


Kim Jong-un dipromosikan menjadi daejang, pangkat yang setara dengan jenderal, pada tanggal 27 September 2010, sehari menjelang konferensi Partai Buruh Korea digelar di Pyongyang.


Lalu untuk pertama kalinya, media Korea Utara menyebut nama beserta gelar militernya dalam pemberitaan, meskipun ia tidak memiliki pengalaman militer sebelumnya.


Berikutnya Kim Jong Un ditunjuk sebagai wakil ketua Komisi Militer Sentral dan Komite Sentral Partai Buruh pada 28 September 2010. 


Lalu pada tanggal 10 Oktober 2010, bersama ayahnya, Kim Jong-un menghadiri perayaan ulang tahun ke-65 Partai Buruh Korea.


Hal ini semakin menegaskan posisinya sebagai pemimpin Partai Buruh berikutnya.


Kemudian, untuk pertama kalinya, pers internasional diberi akses untuk meliput acara, yang secara tidak langsung mengindikasikan betapa pentingnya kehadiran Kim Jong-un dalam acara tersebut.


 Pada bulan Januari 2011, rezim berkuasa mulai "membersihkan" sekitar 200 anak didik paman mertua Jong-un, Jang Sung-taek, serta wakil ketua Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara, O Kuk-ryol, baik melalui penahanan ataupun melalui eksekusi.


Tindakan ini dinilai dilakukan untuk mencegah seseorang menyaingi Jong-un.


Pada bulan-bulan berikutnya, Kim Jong-un semakin ditonjolkan saat ia menemani ayahnya melakukan "tur bimbingan" dan menerima sejumlah hadiah dari para pemimpin asing, suatu kehormatan yang hanya diberikan kepada calon pemimpin tertinggi Korea Utara.


Ketika Kim Jong Il meninggal pada tahun 2011, Kim Jong Un pun menggantikannya. 

2. Mulai dapat Julukan 


Berikutnya, biasanya para calon pemimpin Korea Utara akan mulai memiliki julukan sebelum benar-benar diwarisi kekuasaan.


Hal ini dialami oleh Kim Jong il maupun Kim Jong Un. 


Pada tahun 2009, para diplomat asing mulai memahami bahwa Kim Jong-un akan menggantikan ayahnya sebagai ketua Partai Buruh Korea dan sekaligus sebagai pemimpin masa depan Korea Utara secara de facto.


Saat itu pula media menjulukinya dengan "Yŏngmyŏng-han Tongji, yang diterjemahkan secara bebas menjadi "Teman Brilian.


Selain itu, Kim Jong Il juga meminta agar para staf kedutaan asing menunjukkan kesetiaan kepada putranya.


Dilaporkan pula bahwa warga Korea Utara diperintahkan untuk menyanyikan "lagu pujian" bagi Kim Jong-un dalam gaya yang serupa dengan lagu pujian yang dinyanyikan untuk Kim Jong-il dan Kim Il-sung.

3. Aksi Penyingkiran


Dalam sejarah pewarisan kekuasaan di Korea Utara, selalu ada aksi penyingkiran dengan berbagai cara terhadap lawan politik. 


Setidaknya ini mulai terlihat ketika Kim Jong Il hendak mewariskan kekuasaannya kepada Kim Jong Un. 


Dikutip dari beberapa sumber, usai mengalami sakit keras pada tahun 2008, dan semakin yakin Kim Jong Un akan meneruskan Kim Jong Il, aksi pembersihan pun dimulai. 


Ditulis wikipedia, pada bulan Januari 2011, rezim berkuasa mulai "membersihkan" sekitar 200 anak didik paman mertua Kim Jong-un, yakni Jang Sung Taek, serta wakil ketua Komisi Pertahanan Nasional Korea utara, O Kuk ryol, baik melalui penahanan ataupun melalui eksekusi.


Tindakan ini dilakukan untuk mencegah seseorang menyaingi Jong-un.


Bahkan setelah Kim Jong Un memimpin Korea Utara, orang-orang yang dekat dengan Kim Jong-il seperti Ri Yong Ho, Kim Yong Chun, U Ton Chuk, dan Kim Jon gak, dan dianggap sebagai saingan Kim Jong-un, dicopot dari jabatannya atau menghilang secara misterius.


Seorang pejabat Korea Selatan mengungkapkan bahwa Kim Jong-un berupaya untuk "menghapus semua jejak pemerintahan ayahnya", 11 bulan setelah naik kekuasaan, dan bertekad untuk mengganti para pejabat pemerintah "dengan orang-orang yang hanya setia kepadanya."


Berikutnya, pada akhir 2013, tiga orang menteri pertahanan dan empat staff umum angkatan bersenjata dicopot dari jabatannya.


Selain itu, lima dari tujuh pria yang turut mengawal jenazah ayahnya saat pemakaman juga telah "dibersihkan", termasuk pamannya, Jang Sun-taek.


 Kim Jong-un mengumumkan bahwa "penemuan dan pembersihan kelompok Jang telah memurnikan partai dan jajaran revolusioner.


Setelah Jang dieksekusi pada 12 Desember 2013, media negara Korea Utara memperingatkan bahwa para tentara "tidak akan mengampuni siapapun yang tidak mematuhi perintah Panglima Tertinggi.


Terakhir disebut-sebut bahwa Pyongyang terlibat dalam kematian Kim Jong Nam, saudara tiri Kim Jong Un pada tahun 2017. 


Lalu Bagaimana Kim Yo Jong? Apakah Kim Jong Un sudah mulai mempersiapkan magang Kim Yo Jong seperti dirinya dulu dipersiapkan Kim Jong Il?


Sebuah tulisan di tirto.id dalam artikel berjudul 'Korut Adalah Dinasti Kim, Dinasti Kim Adalah Korut' pada 13 Oktober 2017, memberikan gambaran yang cukup bagaiman Kim Jong Un memasukkan Kim Yo Jong ke jabatan penting di pemerintahan.


Sebenarnya, rata-rata anak Kim Jong Il pernah bekerja di pemerintahan Korut di bagian propaganda. 


Kim Sul-song (anak Kim Jong-il yang lahir dari pasangan keduanya), pernah ditugaskan di departemen propaganda Komite Partai Pekerja Korea setelah lulus dari Jurusan Ekonomi Kim Il-sung University.


Ada juga Kim Jong-chul, kakak Kim Jong-un, pernah bekerja di departemen propaganda Komite Partai Pekerja Korea.


Namun Kim Yo Jong sedikit berbeda, Kim Yo Jong diangkat menjadi anggota alternatif dari badan pembuat keputusan utama pada Minggu (8/10/2017). 


Kim Yo Jong memperoleh posisi itu setelah bekerja di balik layar sejak sang kakak menjadi pemimpin Korea Utara


Sebelumnya, Kim Yo-jong terdaftar sebagai wakil direktur departemen di komite pusat partai.


Menurut Michael Madden, editor situs web North Korea Leadership Watch, peran propaganda resmi negara membuat Yo-jong dikenal sebagai "pembuat citra terkemuka untuk saudaranya dan (Korea Utara) secara keseluruhan," demikian dikutip dari Channel News Asia.


Sejak diberi tanggung jawab untuk mengembangkan propaganda pengultusan pemimpin tertinggi, Yo-jong naik daun di lingkaran penguasa Korea Utara.


Bahkan, Kim Yo-jong telah lebih menggantikan seorang kepala propaganda veteran dan telah mengambil alih kendali dengan "mengkonsolidasikan kekuatan Kim Jong-un" dan menerapkan "proyek pengabdian" terhadap pemimpin Korea Utara itu.


Ya, tampaknya Kim Yo Jong memang sudah memulai proses magangnya. (*)

Category