Jakarta, NY IMG HI 58° LO 56°
IMG-LOGO
BUMI MAKIN PANAS, Qatar Ngecat Jalan Jadi Biru


Afrika & Timur Tengah

BUMI MAKIN PANAS, Qatar Ngecat Jalan Jadi Biru

26 Oct 23 Views
IMG
Aspal jalan dicat biru.

Rayapos | Doha - Suhu udara Qatar di musim panas sekarang 46 derajat Celsius. Sementara, pada 2022 Qatar jadi tuan rumah Piala Dunia sepakbola.

Maka, di Doha, ibu kota Qatar, Departemen Pekerjaan Umum telah mengecat Jalan Abdullah Bin Jassim.

Itu jalan di dekat salah satu pasar terbesar di sana, dengan warna biru agar bisa mengurangi suhu aspal. Hasilnya, mengurangi suhu aspal sebesar 20 derajat Celsius.

Juga, kini pendingin udara berukuran raksasa mulai dipasang di sepanjang trotoar dan bahkan di pusat perbelanjaan luar ruangan.

Sehingga angin sejuk memungkinkan orang-orang untuk dapat terus beraktivitas.

Tetapi pendingin udara luar adalah bagian dari lingkaran setan. Kalau tidak dilakukan, suhu sangat panas. Kalau dilakukan berdampak buruk ke perubahan iklim.

Ini karena listrik di Qatar berasal dari bahan bakar fosil. Yang melepaskan sejumlah besar karbon dioksida ke atmosfer. Menyebabkan darurat iklim.

Menurut Bank Dunia, Qatar adalah negara penghasil emisi gas rumah kaca per kapita terbesar dunia.

Volumenya hampir tiga kali lebih banyak dari Amerika Serikat dan hampir enam kali lebih banyak dari China.

Negara Timur Tengah ini menggunakan sekitar 60 persen listriknya untuk mendinginkan udara.

Sementara di China dan India, penggunaan penyejuk udara menyumbang kurang dari 10 persen dari keseluruhan penggunaan listrik.

Konferensi Pendinginan dan Pemanasan Distrik Internasional memperkirakan, total kapasitas pendinginan di Qatar, beserta emisi yang dihasilkannya, pada tahun 2030 akan mencapai nyaris dua kali lipat daripada tahun 2016.

"Jika pendingin udara dimatikan, keadaannya akan sangat tak tertahankan. Anda tidak dapat berfungsi secara efektif," ujar Yousef al-Horr, pendiri Organisasi Teluk untuk Penelitian dan Pengembangan, mengatakan kepada The Washington Post.

Di daerah perkotaan yang berkembang pesat di seluruh Timur Tengah, beberapa kota diramalkan tidak bisa lagi dihuni, ujar Mohammed Ayoub, direktur peneliti senior di Institut Penelitian Lingkungan dan Energi Qatar.

Panas yang mematikan

"Kita berbicara tentang kenaikan suhu 4 hingga 6 derajat Celsius di daerah yang suhunya sudah tinggi," kata Ayoub.

Bahaya akutnya lebih disebabkan oleh kelembaban. Ketika kelembaban sangat tinggi, penguapan dari kulit melambat atau berhenti.

"Jika udara panas dan lembab, dan kelembaban relatif mendekati 100 persen, Anda bisa mati karena panas yang Anda hasilkan sendiri," kata Jos Lelieveld, dari Institut Kimia Max Planck di Jerman.

Temperatur udara di Qatar sekarang telah meningkat lebih dari 2 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri.

Ini karena sifat perubahan iklim yang tidak merata dan lonjakan konstruksi yang turut mempengaruhi iklim di ibu kota Doha, kata para ilmuwan.

Sebuah televisi Jerman melaporkan adanya ratusan kematian di kalangan pekerja asing di Qatar dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini mendorong penerapan aturan baru terhadap pekerjaan di luar ruangan.

Pemerintah Qatar mengatakan, bahwa Piala Dunia akan diselenggarakan dengan jejak karbon netral, dan baru-baru ini meluncurkan rencana untuk menanam sejuta pohon. Ide ini dikecam oleh seorang pakar dan dianggap "tidak realistis."

Kekhawatiran jika penggemar sepak bola yang berkunjung ke negara itu pingsan atau bahkan mati akibat udara panas, mendorong Qatar menunda penyelenggaraan Piala Dunia selama lima bulan. (*)