Raja Salman Ke Indonesia: Misi Penyelamatan Kerajaan, Bukan Program “Bagi-Bagi Duit”

Foto: YouTube

Kunjungan Raja Salman ke Asia, termasuk Indonesia bukan untuk bagi-bagi duit lewat skema investasi seperti yang selama ini digembar-gemborkan. Sebaliknya, ia keliling Asia untuk mencari duit, karena potensi pasar Asia yang menggiurkan.

Ekonomi Saudi Arabia kini meradang. Neraca perdagangan terus bergerak liar ke sisi negatif, sementara cash flow kerajaan pun setali tiga uang. Diprediksi roda ekonomi Saudi Arabia akan terus mengalami penurunan dan sebagai imbas, pemerintah Saudi langsung melakukan pemangkasan anggaran, termasuk menunda beberapa proyek investasi di dalam negeri.

Sejak harga minyak terjun bebas, Saudi Arabia terjebak dalam kumparan badai ekonomi. Tahun 2015 defisit ada di kisaran USD 98 miliar. Setahun kemudian, defisit neraca sedikit membaik ketika terpaku pada USD 79 miliar. Anjloknya harga minyak, menyebabkan Saudi Arabia kehilangan 80 persen pendapatannya.

Ternyata “Emas hitam” tak bisa lagi dijadkan sandaran, seiring dengan keuangan kerajaan yang terus memburuk. Bunga antar bank meroket, sehingga menyakiti sektor industri non migas.

Keadaan tidak menjadi lebih baik, karena Saudi Arabia terpaksa tunduk pada kebijakan OPEC –suatu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya-, untuk memangkas produksi minyak. Dari 10,62 juta barel per hari, pompa-pompa minyak Saudi dipangkas menjadi 10,47 juta barel per hari di bulan Desember 2016. Celakanya, pemangkasan produksi diperkirakan akan terus bertambah di tahun 2017.

Sedikit menengok ke belakang, di bulan Maret 2016, International Monetary Fund (IMF) memprediksi Saudi Arabia akan segera mengimplementasikan pajak tinggi bagi warganya, serta pencabutan subsidi BBM. Hal ini kemudian menjadi kenyataan. Tidak ada lagi subsidi bahan bakar untuk kelas menengah ke bawah.

Ramalan pelaku ekonomi malah lebih kejam. Mereka berkata Saudi Arabia beresiko kehabisan uang, alias bangkrut jika terus menerus mengandalkan minyak sebagai primadona. Prediksi ini seperti bergerak ke arah kenyataan. Tahun 2016, tak kurang dari USD 80 miliar tergerus untuk menambal lobang-lobang yang makin menganga.

Akhir tahun 2016, gaji para menteri dipotong 20 persen, sementara bonus dan benefit juga terpaksa harus disunat. Bonus kerja lembur dipotong 25-50 persen, sementara tunjangan kendaraan dan perumahan dipangkas 15 persen. Gelimangan kemewahan serta berlimpahnya uang, tergelincir seiring makin “licinnya” harga minyak dunia.

Saudi Arabia sedang berada dalam bayang-bayang krisis dan itu tak bisa disangkal. Salah satu cara ampuh yang dilakukan pemerintah kerajaan adalah diversifikasi industri. Saudi sedang balik kanan. Minyak tak bisa lagi jadi andalan, sebab itu industri non migas harus digenjot semaksimal mungkin untuk menghindari kebangkrutan.

Tak heran, sejarah kemudian tercipta. Untuk pertama kalinya, pemerintahan Raja Salman terpaksa mulai melakukan penjualan bonds (surat hutang), sebagai salah satu upaya menghindari kebangkrutan.

Oktober 2016, surat hutang yang sebagian besar dalam US Dolar mulai “diobral”.

Penjualan gelombang pertama ini dibagi ke dalam tiga jenis maturity yaitu surat hutang berjangka 5 tahun dilepas 160 poin di atas surat hutang milik pemerintah Amerika, surat hutang berjangka 10 tahun dengan 185 basis poin premium, serta surat hutang berjangka 30 tahun dilepas dengan 235 basis poin di atas bonds Amerika Serikat.

Dalam waktu singkat sejak mulai dilepas ke pasar, Saudi Arabia langsung mendulang USD 17,5 miliar dari penjualan bonds.

Tak cukup sampai di situ, akhirnya Raja Salman pun terpaksa harus keluar dari “zona nyaman” royal family. Tak ada pilihan, selain turun gunung untuk menyelamatkan ekonomi kerajaan. Digelarlah rencana “pelesiran” ke sejumlah negara di benua Asia. Kali ini Malaysia, Indonesia, serta China masuk dalam daftar kunjungan.

Khusus untuk Indonesia, sudah bukan rahasia bahwa kita memiliki kemesraan tingkat dewa dengan pemerintah Saudi Arabia. Tak mengherankan, jika dalam kunjungan kali ini, Raja Salman membawa 1500 delegasi termasuk 25 pangeran kerajaan. Di samping Jakarta, mereka akan berlibur ke Bali dalam total delapan hari kunjungan.

Mencengangkan!

Setelah 47 tahun tidak pernah menyambangi Indonesia, kali ini dari semua negara yang dikunjungi, di Indonesia lah waktu akan paling banyak dihabiskan.

Apakah kita begitu penting di mata Raja Salman?

Berkaca dari postur ekonomi Saudi, rasanya memang ada udang di balik batu. Satu hal yang pasti, pasar Indonesia tentunya sangat menggiurkan untuk dinikmati.

Apakah Presiden Jokowi dan tim ekonominya akan membeli sejumlah bonds yang akan ditawarkan oleh Raja Salman, bisa iya dan bisa juga tidak.

Selain penyelamatan dari sisi industri keuangan, pemerintah Saudi Arabia mulai melirik sektor pariwisata. Tidak banyak tentunya yang bisa dinikmati di negara gurun tersebut. Namun jangan lupa, ada sebuah industri yang selama ini sukses mendulang dana massif bagi pundi-pundi kerajaan: industri wisata religi dalam bentuk penunaian salah satu rukun Islam yaitu ibadah haji.

Rasanya hampir pasti Indonesia tak usah lagi mengemis-ngemis minta penambahan kuota haji. Tinggal “kekhilafan” Raja Salman saja, jika enggan membuka keran program haji dari Indonesia –nota bene merupakan negara muslim terbesar di dunia-.

Pasalnya, ibadah haji merupakan salah satu strategi dalam diversifikasi industri Saudi Arabia. Ibadah haji adalah industri ketiga terbesar setelah minyak dan gas bagi pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia. Sekitar 2 juta jemaah dari seluruh dunia mengunjungi Saudi Arabia saat musim haji tiba dan angka ini diperkirakan akan melonjak hingga 2,7 juta di tahun 2020 nanti.

Menurut data pemerintah Saudi Arabia, pariwisata berkontribusi sebanyak USD 22,6 miliar setiap tahun bagi pendapatan negara, dimana USD 12 miliar (separuhnya) datang dari sektor ibadah haji.

Lalu kemudian ada Aramco, perusahaan minyak pelat merah milik kerajaan Saudi Arabia. Ketika nanti berbicara dengan Presiden Jokowi, Raja Salman disebut-sebut akan menawarkan saham-saham Aramco untuk dibeli pemerintah Indonesia. Sekitar 5 persen (setara dengan USD 100 miliar) akan ditawarkan salah satunya kepada Indonesia.

Secara keseluruhan, dilepasnya saham Aramco merupakan penjualan publik terbesar. IPO (initial public offering) Silicon Valley pun akan terlihat seujung kuku dibanding IPO Aramco. Diperkirakan nilai jual Aramco ada di kisaran USD 2 triliun, dimana angka fantastis ini jauh lebih besar dari nilai jual ExxonMobil, Apple, atau bahkan Alibaba.

Jika sang raja terpaksa harus turun gunung menjual aset-aset kerajaan, rasanya tidak sulit bagi kita untuk membayangkan betapa menakutkannya kondisi ekonomi Saudi Arabia.

Ada 6 tipe pesawat yaitu B777, B744, B747F, B736, B757, dan Gulfstream yang akan mengangkut rombongan Raja Salman. Selain itu, total ada sekitar 459 ton barang-barang yang sudah masuk ke Indonesia lewat Halim Perdana Kusumah dan Ngurah Rai Bali. Termasuk di dalamnya furniture, mesin X-Ray dan tak ketinggalan empat unit mobil kerajaan bertipe Mercedez Benz S 600.

Kemudian ada logistik untuk 1500 delegasi petinggi-petinggi kerajaan. Jangan lupa juga, biaya penginapan untuk liburan di Bali yang so pasti akan menggunakan sejumlah hotel termahal di Pulau Dewata.

Pada akhirnya, kunjungan Raja Salman ke Indonesia bukanlah program “bagi-bagi duit” seperti yang digembar-gemborkan selama ini. Sebaliknya, ia sedang berada dalam sebuah rescue mission terbesar sepanjang sejarah Saudi Arabia.

Kunjungan ke Indonesia ibarat sebuah investasi yang harus dikembalikan. Dengan ekonomi Saudi Arabia yang megap-megap, wajar jika Raja Salman memberikan “umpan besar”, karena mengharap “ikan besar” dari Indonesia.

Mudah-mudahan pemerintah akan berlaku bijak. Jika kita pintar melihat celah, niscaya Indonesia akan sangat diuntungkan.

Namun kalau kita terlalu dimanipulasi dengan eforia kunjungan historis Raja Salman, tanpa sadar kitalah yang sebenarnya sedang bekerja untuk menyelamatkan kerajaan yang kini sedang limbung itu !!

BAGIKAN