OPCW pastikan serangan Idlib menggunakan gas sarin

rayapos.com - Serangan Gas Sarin
Anak-anak yang tewas akibat serangan gas sarin di Suriah (Foto: dailymail.co.uk)

@Rayapos.com | Jakarta: Hasil uji laboratorium terkait gas yang digunakan dalam serangan Khan Sheikhoun awal bulan ini, telah dipastikan bahwa serangan tersebut menggunakan zat sarin yang berbahaya.

Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), atau Organisasi Pelarangan Senjata Kimia, telah menganalisa beberapa sampel dari tiga korban yang meninggal dunia dalam serangan tersebut di dua laboratorium berbeda.

Ketua OPCW, Ahmet Uzumcu, mengatakan bahwa serangan yang menewaskan 33 anak-anak dan 56 orang dewasa, di Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, pada 4 April lalu, melibatkan gas beracun yang mematikan.

“Hasil analisa dari empat laboratorium yang ditunjuk OPCW mengindikasikan paparan sarin atau bahan serupa sarin. Rincian lebih lanjut dari analisa laboratorium akan menyusul, tapi hasil yang telah diperoleh tak terbantahkan,” kata Uzumcu.

Dilihat dari sebuah rekaman gambar pasca serangan tersebut, banyak warga sipil yang mayoritas adalah anak-anak mengalami sesak nafas dan mengeluarkan busa dari mulut.

Namun Presiden Suriah Bashar al-Assad menepis tudingan yang mengatakan bahwa pasukan militer Suriah yang telah melancarkan serangan gas beracun tersebut. Karena pada 2013 lalu setelah serangan senjata kimia di Damaskus, Suriah diwajibkan menyerahkan cadangan senjata sesuai dengan kesepakatan AS dan Rusia.

Sementara itu, badan intelijen Prancis mengkonfirmasi akan memberikan bukti dalam beberapa hari mendatang tentang keterlibatan Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam serangan senjata kimia di Idlib.

“Ada penyelidikan yang sedang dilakukan oleh dinas intelijen Prancis dan intelijen militer. Ini adalah pertanyaan dalam beberapa hari dan kami akan memberikan bukti bahwa rezim Suriah melakukan serangan ini,” kata¬† Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault.

Seperti yang diketahui, sarin merupakan senyawa organofosfat yang tidak berwarna dan tidak berbau. Menurut organisasi kesehatan dunia, sarin 26 kali lebih mematikan dibandingkan dengan sianida dan diklasidikasikan sebagai senjata pemusnah massal. Akan tetapi produksi darin sudah dilarang oleh Konvensi Senjata Kimia sejak tahun 1993.

BAGIKAN