Mengenang kembali catatan sejarah Jakarta, hari ini 18 Mei 1998

rayapos.com - 18 Mei
Beginilah situasi ketika mahasiswa menduduki Gedung MPR DPR RI Senayan Jakarta 18 Mei 1998 (Foto: Kompas)

Kamis 18 Mei 2017.

Nadi Ibukota Jakarta berdenyut normal, dimana semua warga menjalankan aktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Demo-demo mendukung Ahok yang kini meringkuk di tahanan juga makin meredup. Kebisingan ruas jalanan Jakarta juga menggambarkan situasi macet yang sudah jadi santapan harian masyarakat.

Namun jika menengok ke belakang tepatnya tahun 1998 tepatnya 19 tahun silam,  situasi sangat jauh berbeda.

Pukul 09.00 pagi WIB, situasi di depan Gedung MPR DPR RI tambah mencekam. Mentari pagi Senin 18 Mei 1998, beringsut menerangi langit Jakarta. Tidak ada aktivitas normal. Pasalnya, 5000 mahasiswa memenuhi gerbang rumah rakyat di Senayan.

Jakarta sedang digoyang oleh demonstrasi masal untuk menuntut pengunduran diri Presiden Soeharto. Semua bergolak. Peristiwa kerusuhan hebat di antara 13-14 Mei merupakan pemicu kemarahan yang tertuang dalam gelombang protes anti pemerintah. Jakarta terbakar hebat di bulan berdarah tersebut.

Mahasiswa yang dimotori oleh Forum Kota (Forkot) menuntut digelarnya Sidang Istimewa (SI) untuk memaksulkan Soeharto dan menolak hasil Pemilu 1997.

Mundur sejenak dari Senin 18 Mei 1998, penggalangan masa mahasiswa memang sudah dimulai sebagai akibat dari gejolak yang timbul di tanah air. Ada dua kelompok besar yang berperan sebagai motor penggerak yaitu FKMsJ dan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (biasa disebut FKSMJ).

Nama kedua kelompok ini sangat serupa. Namun dalam beroperasi, mereka adalah unit yang berbeda meski sama-sama datang dari elemen mahasiswa.

FKMsJ sendiri nantinya akan lebih dikenal dengan nama Forum Kota (Forkot). Elemen ini diorganisir oleh para aktivis mahasiswa ektra kampus. Sementara FKSMJ merupakan kelompok elemen gerakan mahasiswa yang diorganisir oleh para aktivis senat atau intra kampus.

Setelah lembaran kelam Mei 1998, FKSMJ merupakan unit yang akhirnya menggagas pertemuan nasional tokoh-tokoh negara seperti Gusdur, Megawati, Amien Rais, dan Sri Sultan di Ciganjur pada November 1998.

Dikutip dari laman kompasiana.com, Sabtu tanggal 16 Mei 1998, kedua kelompok gerakan mahasiswa ini, kemudian bersepakat untuk melakukan aksi bersama menduduki gedung MPR/DPR pada hari Rabu 20 Mei 1998.

Moment hari kebangkitan Nasional dijadikan momentum untuk melancarkan aksi massa besar-besaran. Pada hari Minggu siang (17 Mei 1998), aktivis mahasiswa FKMsJ mendengar kabar bahwa aktivis FKSMJ berniat mencuri start dengan aksi menduduki MPR/DPR pada hari Selasa 19 Mei. Kabar ini direspon oleh para aktivis FKMsJ dengan memutuskan aksi pada hari Senin 18 Mei.

Keputusan ini amat mendadak, karena diputuskan pada minggu malamnya. Maka hari Senin itu, 18 Mei 1998, dengan konsolidasi singkat seadanya terkumpullah 5000-an orang mahasiswa dari gabungan 30-an kampus se-Jakarta di depan gedung MPR/DPR.

Aksi hari itu semula hanya di depan gerbang gedung MPR/DPR, namun karena massa mendesak, aksi berhasil memasuki halaman gedung. Tak puas sampai ke halaman gedung, massa berusaha masuk ke dalam gedung, dan berniat untuk menginap. Namun niat terpaksa diurungkan. Sekitar 200-an orang berseragam loreng menggunakan baret mirip pasukan elit dari satuan angkatan bersenjata saat itu, berdiri tegap membarikade laju massa menuju ke dalam gedung MPR/DPR.

Tampilannya mengerikan. Senjata laras panjang, tak lagi digantungkan di belakang punggung, melainkan dipegang dan moncong senjatanya diarahkan ke barisan massa mahasiswa. Emosi massa saat itu tak ciut. Dan tetap berupaya mendesak masuk ke dalam gedung. Beberapa orang aktivis mahasiswa yang berperan sebagai Dinlap (Dinamisator Lapangan) tetap lantang bersemangat berorasi dan mengajak massa berteriak yel-yel membangkitkan emosi dan semangat massa untuk tetap maju mendesak barikade.

Tiba-tiba, “Krak… Krak… Krak…”

Senjata dikokang tiga kali. Artinya, peluru dari dalam magazin senjata laras panjang siap menyembur dan menyambar siapa saja dan apa saja yang ada di depannya. Dengan timah panas yang siap dimuntahkan mencari nyawa-nyawa para mahasiswa, suasana menjadi sangat tegang dan mencekam.

Untungnya situasi tersebut tidak berlangung lama. Tentara berhasil menahan diri untuk tidak kembali menembaki sesama anak bangsa. Situasi mulai terkendali. Akhirnya simpul-simpul aktivis memutuskan untuk membawa massa aksi kembali mundur. Namun paling tidak, gelora darah muda mereka sudah berhasil masuk dan menduduki Rumah Rakyat tersebut.

Sementara itu, di sekitar Gedung MPR DPR RI dan di sudut-sudut Ibukota, situasi benar-benar mencekam. Bayangan kerusuhan satu pekan berselang masih membekas tebal di setiap benak warga Ibukota. Jakarta benar-benar menjadi zona perang. Api menyala dimana-mana, sementara korban terus berjatuhan. Darah anak bangsa mengalir membasahi tanah Ibu Pertiwi akibat gejolak politik negeri sendiri.

Aparat militer tanpa identitas namun bersenjata ada di tiap sudut Jakarta. Kendaraan lapis baja, mulai water cannon hingga panser meraung di jalanan. Sniper menunggu kampus-kampus yang akan bergerak

Saat itu, dari 54 kampus yang tergabung dalam Forum Kota diminta membawa setidaknya 20 mahasiswa dari tiap kampus yang siap jadi martir.

“Terkumpul 1.242 mahasiswa dari 54 kampus sudah harus tiba di lokasi. Jika pukul 10.00 WIB tak terjadi bentrokan, maka setiap kampus diharuskan memberangkatkan 50 mahasiswa lagi,” kenang Adian Napitupulu, politisi PDIP yang dahulunya menjadi salah satu penggerak Forum Kota.

Menurutnya jika hingga pukul 12:00 WIB tidak ada pertumpahan darah, maka semua mahasiswa diminta mengosongkan kampus. Seluruh mahasiswa diminta bergerak ke Gedung DPR/MPR.

Skenario selanjutnya adalah, kalau pukul 09.00 WIB terjadi bentrokan, maka 54 kampus diminta untuk memblokir jalan raya depan kampus masing-masing. Saat itu, pasca tertembak matinya empat mahasiswa Trisakti oleh Polisi seminggu sebelumnya, mahasiswa mulai bergerak hati-hati dan tidak sporadis.

Sebagai hasil dari pendudukan mahasiswa di Gedung MPR DPR RI tersebut, Presiden Soeharto akhirnya memutuskan untuk lengser keprabon. Sejarah kemudian mencatat Pak Harto membacakan pidato pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Dengan peci berwarna hitam dan setelan safari, sang Bapak Pembangunan berbicara di depan semua anak bangsa, menyatakan bahwa dirinya berhenti sebagai presiden sejak hari itu juga.

Namun Senin sore 18 Mei 1998 ketika matahari mulai beringsut masuk ke ufuk barat Jakarta, ribuan mahasiswa perlahan beranjak meskipun tidak semua memutuskan untuk pulang. Banyak di antara mereka akhirnya menginap di Rumah Rakyat tersebut untuk mengawal pembukaan-pembukaan awal lahirnya “bayi” bernama reformasi.

 

BAGIKAN